Penyakit Menular

Ini alasan medis mengapa orang sudah divaksin tetap harus taat protokol kesehatan

Sabtu, 16 Januari 2021 | 06:00 WIB   Reporter: Abdul Basith Bardan, Thomas Hadiwinata
Ini alasan medis mengapa orang sudah divaksin tetap harus taat protokol kesehatan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia memulai program vaksinasi Covid-19 pada Rabu pekan ini. Presiden Joko Widodo dan sejumlah orang yang terpilih sebagai wakil masyarakat, menerima injeksi pertama dari vaksin buatan Sinovac tersebut di Istana Merdeka.

Tentu, vaksinasi tahap pertama ini tidak serta merta meredupkan ancaman peredaran virus corona. Itu sebabnya, sesuai disuntik Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Protokol seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, dan menjaga jarak serta menjauhi kerumunan tetap harus dilakukan. "Walaupun sudah divaksin nantinya kita tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan, yang paling penting itu," tegas Presiden Jokowi.

Baca Juga: Ini kondisi yang bisa menurunkan efektivitas vaksin virus corona

Vaksinasi memang merupakan salah satu jalan yang perlu dilakukan untuk mengakhiri pandemi. Namun, disiplin penerapan protokol kesehatan tetap harus berjalan.

Vaksinasi Covid 19 akan meningkatkan daya tahan seseorang terhadap penyakit yang disebabkan virus corona. Jika semakin banyak orang yang memiliki daya tahan terhadap virus corona, maka akan terbentuk herd immunity. Dalam hitungan pemerintah, untuk mencapai herd immunity atas virus corona, harus ada lebih dari 181,5 juta orang yang mendapatkan vaksin.

Tentu, melakukan vaksinasi atas orang sebanyak itu memerlukan waktu. Apalagi, vaksin virus corona membutuhkan dua kali penyuntikkan untuk bisa bekerja efektif. Vaksin buatan Sinovac, misalnya, waktu penyuntikan pertama dan kedua berselang 14 hari.

Baca Juga: Pemerintah berkomitmen perluas ruang lingkup vaksinasi virus corona

Mereka yang baru mendapat penyuntikan vaksin pertama tentu tidak bisa abai dengan ancaman virus corona. Tindakan yang keliru dilakukan Raffi Ahmad, wakil dari masyarakat golongan milenial yang mengikuti gelombang pertama vaksinasi. 

Youtuber dan host televisi itu terlihat hangout dengan rekan-rekannya tanpa menerapkan protokol kesehatan, setelah menerima suntikan vaksin pertama. Perilaku Raffi sontak menuai kecaman dari warganet dan juga masyarakat umum.

Pemerintah juga sudah buka suara atas tindakan Raffi. "Sudah dinasehati, diingatkan kembali oleh tim komunikasi Covid-19 agar menaati protokol kesehatan," ujar Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Kamis (14/1).

Mendapatkan vaksinasi Covid 19 memang tidak serta merta membebaskan seseorang dari keharusan mentaati protokol kesehatan. Alasan yang paling utama adalah seluruh vaksin yang sudah mendapatkan izin edar darurat di dunia saat ini memang manjur untuk mencegah orang yang terinfeksi jatuh sakit. Apalagi, sampai meninggal.

Namun mendapatkan suntikan vaksin tidak membebaskan seseorang dari kemungkinan terinfeksi virus. Dalam bahasa Michal Tal, ahli imunologi di Universitas Stanford, yang dikutip website NY Times, para pengembang vaksin hanya melacak berapa orang yang jatuh sakit setelah terinfeksi virus corona.

Itu berarti, ada kemungkinan orang yang telah divaksin, mengalami infeksi tanpa gejala. Jika situasi semacam itu terjadi, maka orang yang sudah divaksin berpotensi menjadi penyebar virus ke lingkungan di sekitarnya. Dan, ini jelas membahayakan bagi orang-orang yang belum divaksin.

Baca Juga: Cara mengatasi takut jarum suntik bagi yang ingin vaksinasi Covid-19

“Banyak orang berpikir bahwa setelah mereka divaksinasi, mereka tidak perlu memakai masker lagi. Sangat penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa mereka harus tetap memakai masker, karena mereka masih bisa menularkan virus,” tutur Tal.

Virus corona, layaknya virus-virus yang mengakibatkan saluran infeksi pernafasan, sangat mudah berpindah tempat. Penyebabnya, virus corona, dan virus-virus penyebab flu, menjadikan hidung manusia sebagai pintu masuk utama. Virus berkembang biak dengan cepat di hidung, menantang sistim kekebalan tubuh manusia.

Merespon kehadiran virus, sistim imunitas akan memberikan reaksi dengan memproduksi antibodi khusus untuk mukosa. Istilah terakhir ini merujuk ke jaringan lembab yang melapisi hidung, mulut, paru-paru dan perut.

Baca Juga: Tingkat kepatuhan memakai masker dan jaga jarak menurun

Mereka yang telah memiliki antibodi dan sel kekebalan yang mengingat virus, seperti mereka yang telah terpapar, bisa dengan cepat mematikan virus di hidung. Sebelum virus mendapat kesempatan untuk pindah ke tempat lain di tubuh.

Vaksin virus corona, sebaliknya, disuntikkan jauh ke dalam otot dan merangsang sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi. Namun vaksin bisa memberikan perlindungan yang cukup untuk menjaga orang yang divaksinasi agar tidak jatuh sakit.

Beberapa dari antibodi akan bersirkulasi di dalam darah ke mukosa hidung dan berjaga menanti virus di sana. Tetapi, penelitian yang tersedia saat ini tidak memberi kejelasan tentang berapa banyak kumpulan antibodi yang dapat dimobilisasi, atau seberapa cepat antibodi dapat digerakkan melawan virus.

Tetap, ada kemungkinan, antibodi gagal menghalangi virus muncul di hidung. Dan, jika itu terjadi, maka virus bisa berpindah jika orang yang bersangkutan bersin atau menghembuskan napas.  “Ini semacam lomba kecepatan. Apakah proses replikasi virus yang lebih cepat, atau reaksi sistem kekebalan yang lebih cepat,” kata Marion Pepper, ahli imunologi di University of Washington di Seattle, yang dikutip NY Times.

Merujuk ke analisis para ahli kesehatan di atas, sangat keliru jika Raffi mengabaikan protokol kesehatan. Vaksinasi jelas perlu bagi setiap orang agar terhindar dari infeksi virus corona yang parah, apalagi mematikan.

Baca Juga: Inilah reaksi yang bisa timbul setelah disuntik vaksin virus corona

Namun, pandemi tidak akan berakhir hanya dengan satu kali injeksi vaksinasi ke sejumlah orang saja. Vaksinasi baru bisa mengakhiri pandemi, apabila kita sudah mencapai tingkat herd immunity. Dan situasi itu, menurut hitungan pemerintah, baru bisa terjadi jika 181,5 juta lebih orang yang sudah divaksinasi secara lengkap.

Dan pandemi juga baru akan berakhir, jika masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Tindakan-tindakan yang sudah terbukti efektif mencegah peredaran virus corona: mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta memakai masker, harus tetap dilakukan oleh tiap anggota masyarakat.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Selanjutnya: Catat! 4 Tahapan vaksinasi dan reaksi yang mungkin terjadi setelah divaksin

 

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Thomas Hadiwinata
Terbaru