Penyakit Menular

WHO: Perokok tembakau dan sisha berisiko tinggi terkena Covid-19

Senin, 01 Juni 2020 | 11:26 WIB Sumber: Kompas.com
WHO: Perokok tembakau dan sisha berisiko tinggi terkena Covid-19

ILUSTRASI. FILE PHOTO: A man smokes a cigarette on a street in Jakarta, Indonesia, March 15, 2017. REUTERS/Beawiharta/File Photo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perokok tembakau dan sisha, sama-sama berisiko tinggi terpapar Covid-19. Penelitian menunjukkan perokok berisiko tinggi mengalami gejala yang parah jika terpapar SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19. 

Dilansir laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perokok dalam bentuk apapun, baik itu rokok tembakau maupun shisha memiliki risiko yang sama terhadap infeksi Covid-19. 

Baca Juga: Kasus Covid-19 Jawa Timur melampaui DKI Jakarta, epidemiolog beri penjelasan

Shisha atau hookah adalah tabung berisikan air yang digunakan untuk merokok ala Timur Tengah. Shisha umumnya dinikmati di kafe dan restoran, juga di rumah. 

Segala jenis rokok tembakau berbahaya bagi kesehatan tubuh, terutama pada sistem pernapasan. Diketahui, rokok merupakan penyebab penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), peradangan paru yang menghalangi aliran udara dari paru-paru akibat adanya pembengkakan dan lendir atau dahak, sehingga menyebabkan sulit bernapas. 

Selain itu, tembakau juga dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular, yang berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan melibatkan jantung dan pembuluh darah. Jika sistem ini terganggu maka menimbulkan penyakit kardiovaskular, diantaranya gangguan jantung dan stroke. 

Sistem kardiovaskular yang lebih lemah di antara pasien Covid-19 dengan riwayat penggunaan tembakau, dapat membuat pasien tersebut lebih rentan terhadap gejala parah, sehingga meningkatkan risiko kematian. Tak hanya itu, rokok juga menyebabkan penyakit tidak menular lainnya seperti diabetes, kanker, hingga hipertensi. 

Baca Juga: Tren Face shield untuk cegah COVID-19,l ini kelebihan dan kekurangannya

Penelitian pada 55.924 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di laboratorium menunjukkan, bahwa angka kematian kasar (crude death rate) pada pasien Covid-19 yang memiliki penyakit bawaan akibat rokok jauh lebih tinggi, ketimbang non-perokok.  

Perokok yang terinfeksi Covid-19 dapat berujung dengan perawatan di ICU dan menggunakan ventilator. Ini menunjukkan bahwa kondisi yang sudah ada sebelumnya dapat meningkatkan kerentanan individu tersebut terhadap Covid-19.  

Bahaya sisha terhadap Covid-19 
Bagaimanapun, bahan utama shisha adalah tembakau, yang artinya memiliki efek berbahaya pada sistem pernapasan dan kardiovaskular. Risikonya sama terhadap infeksi Covid-19. Di sisi lain, kebiasaan menghisap sisha dapat bersifat komunal, itu berarti bahwa satu corong dan selang sering dipakai bergantian antar pengguna. 

Selain itu, kebanyakan kafe shisha cenderung tidak membersihkan peralatannya ketika sesi merokok selesai, lantaran membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Hal tersebut meningkatkan potensi penularan penyakit antar pengguna. 

Baca Juga: Hindari pakai sarung tangan saat belanja, ini alasannya

Sejalan dengan kebisaan itu, terbukti sisha dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan virus pernapasan, virus hepatitis C, virus Epstein Barr, hingga virus tuberkulosis. Pada masa pandemi Covid-19, kebiasaan pertemuan sosial saat menghisap shisha juga memberikan peluang besar untuk virus menyebar. 

Terlebih ketika dilakukan di ruang tertutup maka risiko penularan menjadi lebih tinggi. 

Merokok tembakau di rumah tetap berbahaya 
Pandemi Covid-19 membuat sejumlah negara yang terdampak melakukan kebijakan pembatasan wilayah (lockdown) dan jarak sosial (social distancing) untuk menekan rantai penularan. 

Ini membuat sebagian besar orang hampir menghabiskan seluruh waktunya di dalam rumah, termasuk saat melakukan kebiasaan mengisap rokok atau sisha. 

Baca Juga: Hore, ada dispensasi pengurusan SIM mati dari kepolisian hingga 29 Juni 2020

Meski demikian, tetap saja tidak aman menggunakan tembakau di rumah, karena ini malah lebih berisiko bagi anggota keluarga lainnya untuk menjadi perokok pasif. Seperti pada anak-anak, mereka sangat rentan terhadap paparan asap rokok, yang telah terbukti meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, asma, hingga infeksi telinga bagian tengah. 

Di sisi lain, kemungkinan adanya peningkatan bahaya paparan asap rokok selama pandemi Covid-19 karena lebih banyak orang menghabiskan waktu di tempat yang sama, termasuk diantaranya perokok. Selain itu, perokok aktif juga dapat meningkatkan risiko paparan pada perokok pihak ketiga (third hand smoker) di rumah. 

Jika perokok pasif terpapar langsung dari asap rokok, perokok pihak ketiga adalah orang yang terkena zat sisa dari asap rokok yang menempel pada permukaan benda di sekitarnya. 

Baca Juga: New normal di depan mata, IDI: Tak ada tawar menawar lagi

Zat beracun dari asap rokok itu bisa tertinggal di dalam debu, benda, dan pada permukaan di rumah tempat tembakau telah digunakan, juga pada air dalam tabung shisha. Anak-anak terpapar melalui penghirupan, konsumsi, dan transfer kulit. (Yohana Artha Uly)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "WHO: Perokok Tembakau dan Sisha Berisiko Tinggi Terkena Covid-19"

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi


Terbaru