Hindari pakai sarung tangan saat belanja, ini alasannya

Senin, 01 Juni 2020 | 09:06 WIB Sumber: Kompas.com
Hindari pakai sarung tangan saat belanja, ini alasannya

ILUSTRASI. Ilustrasi: Makin banyak yang belanja di supermarket memakai sarung tangan medis sekali pakai.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selama pandemi belum teratasi, kita diwajibkan memakai masker saat berada di tempat umum dan mempraktikkan kebersihan, seperti mencuci tangan terutama setelah menyentuh permukaan-permukaan tertentu dan menjaga jarak. Beberapa orang juga mengenakan sarung tangan ketika bepergian, termasuk saat pergi ke supermarket atau apotek.

Apakah memakai sarung tangan adalah langkah yang baik dan dianjurkan untuk mencegah penularan Covid-19? Jawabannya, tidak. Apa alasannya? Dilansir Times of India, menggunakan masker, pelindung wajah atau hand sanitizier adalah hal yang baik untuk mencegah penularan virus dan menjaga kebersihan.

Baca Juga: Ini panduan lengkap perusahaan bisa kembali beraktivitas di tengah pandemi corona

Namun, sarung tangan bukan solusi yang tepat untum mengurangi risiko infeksi. Bahkan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tidak menganjurkan penggunaannya, kecuali di situasi tertentu seperti sebelum menyentuh gagang selang bensin, atau mengurus cucian pakaian kotor dari seseorang yang memiliki virus.

Bahkan pada situasi-situasi tersebut, sarung tangan hanya efektif jika dilepas secara tepat dan diikuti dengan praktik cuci tangan pakai sabun. Namun, ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket, misalnya, penggunaan sarung tangan sebetulnya tidak begitu efektif.

Baca Juga: Saat di rumah saja, begini 8 cara meningkatkan imunitas tubuh

Ketika kita mengenakan sarung tangan dan menyentuh permukaan yang terkontaminasi, virus akan tertransfer ke sarung tangan yang menempel pada jari-jari kita. Selain itu, sarung tangan juga memberikan rasa aman palsu dan membuat orang-orang merasa tidak apa terus menyentuh segala sesuatu, seperti wajah dan mulut mereka. Ini dapat menyebabkan diri kita ikut terkontaminasi.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru