Seberapa ampuh vitamin D dalam mencegah Covid-19?

Minggu, 18 April 2021 | 09:15 WIB Sumber: Kompas.com
Seberapa ampuh vitamin D dalam mencegah Covid-19?

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat awal pandemi Covid-19, para ilmuwan dan ahli memelajari manfaat vitamin D untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

Kemudian pada September 2020, dokter dan pakar imunologi asal Amerika, Anthony Fauci mengatakan vitamin D membantu mencegah tubuh terinfeksi Covid-19. Ia juga merekomendasikan orang-orang untuk mendapatkan asupan vitamin D. 

Lantas, perlukah kita mengonsumsi vitamin D untuk mencegah atau mengobati infeksi Covid-19? 

Peran vitamin D 

Vitamin D berperan penting dalam kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis. Ada bukti yang menyebutkan bahwa vitamin tersebut juga membantu menjaga sistem kekebalan berjalan dengan baik. Beberapa tahun terakhir, para peneliti terus memelajari efek suplementasi vitamin D pada infeksi pernapasan. 

Banyak uji klinis tidak menemukan efek yang berarti, sedangkan uji coba lainnya menyarankan penggunaan vitamin D dapat melindungi tubuh. 

Baca Juga: Selain vaksin Covid-19, ini cara lansia meningkatkan imunitas untuk mencegah corona

Sebuah studi pada tahun 2017 yang menganalisis 25 uji coba terkendali secara acak menyimpulkan, vitamin D membantu mencegah infeksi saluran pernapasan akut. 

Vitamin D bisa meningkatkan sistem kekebalan dalam beberapa cara, menurut salah satu penulis studi, Dr Adit Ginde. Ginde juga merupakan profesor kedokteran darurat di University of Colorado School of Medicine. 

Salah satu mekanisme vitamin D, kata dia, adalah meningkatkan peptida antimikroba yang berfungsi sebagai antibiotik alami dan pelindung antivirus terhadap patogen. Menurutnya, kekurangan vitamin D menyebabkan disfungsi dalam sistem kekebalan.

Baca Juga: Sistem imun selama pandemi Covid-19 terjaga karena vitamin ini

Kaitan antara kekurangan vitamin D dengan Covid-19 

Pada awal pandemi, para peneliti melihat adanya tumpang tindih antara populasi yang berisiko tinggi sakit parah akibat Covid-19 dan orang-orang yang kekurangan vitamin D.

Hal itu ditemukan pada orang-orang yang kelebihan berat badan, lansia, dan orang berkulit gelap. 

Akibatnya, timbul pertanyaan apakah meningkatkan kadar vitamin D bisa membantu melindungi orang yang rentan terpapar Covid-19 atau tidak. 

Saat ini terdapat beberapa studi observasi dan tinjauan yang memperlihatkan rendahnya kadar vitamin D dikaitkan dengan risiko terinfeksi Covid-19 lebih tinggi. 

"Intinya, dari sejumlah penelitian ada hubungan yang kuat dalam hal kadar vitamin D sebelum terinfeksi," sebut Dr Shad Marvasti,  profesor kedokteran pencegahan penyakit dan keluarga di University of Arizona College of Medicine di Phoenix, Amerika. 

Baca Juga: 5 Makanan yang mengandung vitamin E ini perlu Anda coba

Kadar vitamin D yang rendah dikaitkan dengan peningkatan sitokin (protein yang bertanggung jawab atas terjadinya peradangan) dan tingkat sel kekebalan pelindung yang rendah, menurut Marvasti. 

Sebuah studi yang melibatkan 489 pasien menemukan risiko dari hasil tes positif Covid-19 adalah 1,77 kali lebih besar pada pasien yang kekurangan vitamin D, dibandingkan pasien yang memiliki vitamin D memadai. 

Baca Juga: 8 Kiat mencegah Covid-19 akibat virus corona B.1.1.7 yang sudah masuk Indonesia

Studi itu dimuat ke dalam jurnal JAMA Network Open pada bulan September 2020. "Itu sangat mengejutkan," ujar Dr David Meltzer dari University of Chicago, penulis utama studi itu. 

Dalam studi lainnya, Meltzer menemukan orang berkulit hitam dengan tingkat vitamin D yang tinggi lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi Covid-19 ketimbang orang dengan tingkat vitamin D yang cukup. 

Adapun studi kecil terkait pasien yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 di Spanyol. Berdasarkan studi tersebut, ditemukan lebih dari 80 persen orang kekurangan vitamin D dibandingkan 47 persen populasi umum. Namun, tidak ditemukan hubungan antara kadar vitamin D dan tingkat keparahan penyakit. 

Baca Juga: Ada kasus Covid-19 B.1.1.7 di Jakarta, vitamin ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh

Tidak ada kesimpulan yang pasti Sebagian peneliti mempertanyakan hasil studi yang memperlihatkan hubungan antara vitamin D dan Covid-19. Pasalnya, sebagian besar studi merupakan studi observasional, bukan uji coba terkontrol secara acak. 

Banyak dari bukti penelitian yang ditemukan hanya menunjukkan hubungan, bukan penyebab. Bahkan hasilnya juga beragam, kata Walter Willett, profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard TH Chan School of Public Health. 

"Akan menjadi sesuatu yang jelas jika kita memiliki bukti yang sangat konsisten, tetapi studi-studi itu hanya menunjukkan beberapa manfaat atau tidak ada manfaatnya sama sekali," kata Willett. 

Baca Juga: Beberapa gejala virus corona ringan bisa diatasi dengan cara ini

Para peneliti di Yunani belum lama ini menyimpulkan kekurangan vitamin D tidak terkait secara signifikan dengan infeksi, pemulihan, atau tingkat kematian akibat Covid-19 di negara-negara Eropa. 

Lalu, pada bulan Desember, departemen kesehatan Inggris menyarankan masyarakat agar tidak semata-mata mengonsumsi vitamin D untuk mencegah atau mengobati Covid-19. Dr Erin Michos dari Johns Hopkins School of Medicine mengatakan sulit untuk mengetahui apakah kadar vitamin D yang rendah dapat menyebabkan orang tersebut rentan terinfeksi Covid-19 atau tidak. 

"Ini mungkin hanya menjadi penanda kesehatan yang buruk dan bukan sesuatu yang dapat diintervensi untuk mencegah Covid-19," sambung Michos yang sudah 15 tahun memelajari vitamin D. 

Baca Juga: Penting menjaga imunitas di masa pandemi, begini saran para bankir

Vitamin D tidak benar-benar mengobati Covid-19 

Penelitian tentang penggunaan vitamin D sebagai terapi pada orang yang terinfeksi virus corona menghasilkan data yang sedikit lebih berkualitas. Namun, hasilnya tidak konsisten. 

Bukti paling nyata berasal dari uji coba terkontrol secara acak dengan menggunakan plasebo di Brasil. Dalam uji coba tersebut, dokter memberikan satu dosis besar vitamin D kepada pasien Covid-19 yang dirawat. 

Hasilnya, vitamin D tidak secara signifikan mengurangi durasi rawat inap pasien di rumah sakit ketimbang pasien dalam kelompok plasebo. Penyebabnya adalah pasien baru memeroleh asupan vitamin D setelah terkena Covid-19, dan vitamin D dalam dosis besar hanya diberikan sekali. 

Sementara itu, dosis vitamin D yang diberikan kepada tubuh secara bertahap dan sering agaknya bekerja lebih baik untuk melindungi sistem kekebalan, kata Meltzer. 

Vitamin D tetaplah penting bagi tubuh 

Sejauh ini, tidak ada bukti yang dapat merekomendasikan penggunaan dosis vitamin D tertentu untuk melawan Covid-19. Namun, para ahli menekankan perlunya memerhatikan asupan vitamin D kita, misalnya dengan konsumsi suplemen. 

Namun Willett juga mengingatkan, lebih banyak vitamin D bukan berarti lebih baik. Karena vitamin D larut dalam lemak, ada risiko kelebihan suplementasi vitamin tersebut dapat menyebabkan toksisitas atau keracunan. 

Beberapa penelitian mengungkapkan, konsumsi vitamin D lebih dari 50.000 IU bisa berbahaya. Michos, di sisi lain, tidak menganjurkan orang mengonsumsi vitamin D untuk mencegah Covid-19. 

Kita bisa melakukan cara lain untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, misalnya mengonsumsi makanan bernutrisi, berolahraga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan kualitas tidur yang baik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Seberapa Ampuh Vitamin D untuk Cegah Covid-19?"
Penulis : Gading Perkasa
Editor : Lusia Kus Anna

 

Selanjutnya: 4 Cara mendongkrak imun tubuh yang perlu Anda coba

 

Halaman   1 2 3 4 5 Tampilkan Semua
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru