HOME

Pengalaman Roy Sembel menjadi pasien covid-19 di New York, AS

Kamis, 30 April 2020 | 22:09 WIB   Reporter: Djumyati Partawidjaja
Pengalaman Roy Sembel menjadi pasien covid-19 di New York, AS

ILUSTRASI. Aktivitas Roy Sembel saat menjalankan isolasi mandiri

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Siapa yang tidak gentar melihat dampak wabah Virus Covid-19 yang masih terus merajalela sampai  detik ini? Pemerintah di berbagai negara masih saja belum sepakat dengan metode pengereman penyebaran virus, akibatnya korban sakit pun terus berjatuhan.  Walau beberapa pasien sudah sembuh, mutasi virus membuat mantan penderita Covid-19 bisa kembali jatuh sakit.

Tapi bagaimana rasanya kalau kita yang harus divonis terkena sang virus? Siapa tidak keder, apalagi kalau tempatnya tepat pusat sebaran Covid-19 di dunia saat ini: New York.  

Sekarang, kan, di dunia paling banyak di Amerika. Sementara di Amerika yang paling banyak kena di New York. Jadi saya kena Covid-19 di pusatnya, hehehe,” ungkap Roy Sembel  Profesor Distinguished Chair for Finance and Investment IPMI International Business School dan dosen pengajar investasi di berbagai universitas papan atas.

Ceritanya dimulai di pertengahan Bulan Maret lalu, Roy Sembel  berangkat ke New York khusus untuk menunggu kelahiran cucu pertamanya. Waktu itu korban Covid-19 di Amerika Serikat relatif jauh lebih kecil dibandingkan sekarang. Setelah menjemput cucunya dari rumah sakit, di tanggal 27 Maret malam tiba-tiba Roy merasa demam.

Awalnya saya minum obat demam biasa. Tapi 3 kali minum obat demam tidak mempan malah jadi keleyengan,” tuturnya via telepon. Makin lama kondisinya pun makin menurun sehingga ia minta diperiksa di rumah sakit. Tapi Roy baru mendapat jadwal pemeriksaan di tanggal 5 April.

Berat badannya pun melorot dengan cepat, menurut Roy kemungkinan turun sampai 7 kilogram

Sebenarnya di rumah sakitnya tidak terlalu lama. Dari tanggal 5 April masuk emergency, setelah tes macam-macam, dokternya yakin saya positif Covid-19, walau test swab-nya baru keluar 2 hari kemudian. Dan betul 2 hari kemudian tes swab nya keluar saya betul positif.

Tapi karena kondisinya belum terlalu parah, dokter meminta Roy pulang ke rumah dan mengisolasi diri. “Rupanya mereka membuat prioritas, yang bisa masuk rumah sakit hanya orang yang sudah turun parah kondisinya,” terangnya. Pria berdarah Manado ini pun pulang ke rumah hanya dibekali obat penurun panas.

Setelah isolasi beberapa hari di rumah, kondisinya semakin menurun.  Di tanggal 7 April waktu keluar hasil swab, kondisi Roy sedang benar-benar down. “Artinya, susah sekali untuk minum, apalagi makan. Tidur jadi berantakan. Bahkan mulai dehidrasi dan halusinasi. Batuknya pun keluar darah. Ini mungkin yang akan membuat mental orang down banget. Saya kan tidak merokok, sebelum sakit juga standard hidupnya lumayan sehat.  Di dalam rumah rutin senam dan olah raga, 3 kali seminggu pasti jalan-jalan keliling kompleks,” ungkapnya.

Berat badannya pun melorot dengan cepat, menurut Roy kemungkinan turun sampai 7 kilogram. “Ini karena untuk makan itu sangat berjuang, karena rasanya mual dan jadi muntah. Untuk satu sendok saja perjuangannya luar biasa,” tambahnya.

Akhirnya Roy bisa mendapatkan kamar rumah sakit di tanggal 8 April. “Saya mendapat kamar yang isi berdua dipisahkan dengan tirai,” tutur Roy. Tapi rupanya teman sekamar Roy dalam kondisi yang jauh lebih parah karena sudah dipasangi ventilator.

Di rumah sakit, nafsu makan Roy masih saja buruk. “Makanannya kan western style, jadi aduh makin berjuang untuk mau makan. Sambil tarik napas dan mual-mual,” ungkapnya.

Menurut Roy kondisi di rumah sakit memang tidak terlalu nyaman, selain masalah makanan, kadang ada pasien dari kamar sebelah yang suka berteriak-teriak di malam hari. Selain itu, kondisi rumah sakit yang sibuk dan standard ruang isolasi membuat para perawat baru datang sekitar 20 menit-an setelah dipanggil.

Akhirnya setelah 3 hari berada di rumah sakit kondisi Roy mulai membaik dan diizinkan pulang dan melanjutkan perawatan di rumah dengan isolasi. Kebetulan rumahnya di Kawasan Queens New York punya kamar di atap. “Jadi saya diisolasi di kamar atas ini. Masih ada jendelanya tapi plafonnya pendek,” terang Roy.

Setelah beberapa hari di rumah kondisinya malah lebih cepat pulih. Nafsu makannya pun pulih. “Ïni karena istri saya jago masak dan tahu selera saya,” tutur penggemar Salmon, Brunebon, dan roti panggang itu.

Padahal rumah sakit tidak memberikan obat khusus untuk pengobatannya. Menurut Roy ia  hanya dibekali antibiotik untuk 5 hari serta vitamin C,B, dan D.

Memang secara mental Roy mengaku sangat terbantu oleh dukungan banyak orang. Konjen RI di New York, para Ibu Dharma Wanita di Konjen RI, motivator Tung Desem Waringin, para pendeta, dan rekannya-rekan lainnya terus memberikan dukungan moral.

“Saya juga sering konsultasi dengan dokter Alfin, dokter Indonesia yang sedang studi kedokteran di New York dan dokter Budi teman saya yang ada di Philadelphia,” tambah Roy. 

Menurut Roy salah satu gerakan yang disarankan para tenaga medis untuk penderita Covid-19 adalah tidur tengkurap. “Cukup 20 menit. Saat dadanya tertekan, diharapkan akan melawan dan bisa membantu menguatkan otot-ototnya,” terang Roy.

Selama masa isolasi, Roy masih aktif rapat, memberikan kelas, bahkan memberikan ujian untuk S-3. “Kebetulan kan semuanya dilakukan dengan online,” tambahnya.

Waktu KONTAN menghubungi Kamis (30/4) pagi, Roy yakin ia sudah sembuh dari Covid-19 walau belum melakukan tes ulang. “Saya baru akan tes swab minggu depan,” tuturnya.

Menurut Roy, walau New York kota dengan penderita covid-19 terbesar di Amerika, pemerintah kotanya bertindak dengan sangat luar biasa.  “Mereka melakukan swab tes massal. Itulah sebabnya dalam 1 minggu terakhir ini kurvanya mulai landai,” jelas Roy.  

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Djumyati P.


Terbaru