Tips Sehat

Begini penanganan komprehensif penyakit saraf akibat diabetes melitus

Senin, 20 Juli 2020 | 10:50 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Begini penanganan komprehensif penyakit saraf akibat diabetes melitus

ILUSTRASI. Diabetes


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik kadar gula darah tinggi yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin atau terjadinya resistensi insulin.

Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan ada kecenderungan peningkatan penderita DM di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), ada sekitar 900 juta orang di dunia menderita DM (12% dari populasi) pada 2015. Pada tahun 2050 jumlah ini diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 22%.

Di Indonesia sendiri diperkirakan jumlah penderita DM adalah 8,4 juta orang di tahun 2000, yang akan meningkat menjadi 21,3 juta orang di tahun 2030. Pada wanita, prevalensi DM didapatkan lebih tinggi (21-32%) dibandingkan pria.

Baca Juga: Manfaat kopi hitam tanpa gula untuk kesehatan, para penggemar setia kopi wajib tahu

Banyak risiko komplikasi yang dapat terjadi pada penderita Diabetes Melitus, terutama dengan gula darah dan HbA1C yang tidak terkontrol dengan baik.

Itu sebabnya, Pengurus Pusat Apoteker Indonesia bekerjasama dengan klinik Hayandra dan Ispi Penerbitan melakukan webinar bertajuk Penanganan Komprehensif Penyakit Saraf terkait Diabetes Melitus pada Minggu (19/7).

Anastasia Maria Loho, dokter spesialis saraf di Klinik Hayandra menjelaskan, komplikasi pada DM ini terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.

Komplikasi makrovaskular meliputi, penyakit serebrovaskular (stroke), jantung, dan gangguan pembuluh darah perifer (peripheral artery disease), sedangkan komplikasi mikrovaskular dapat berupa gangguan saraf tepi (neuropati), gangguan ginjal (nefropati) ataupun gangguan pada mata (retinopati).

"Komplikasi ini dapat terjadi multipel dan berujung pada disabilitas ringan hingga berat, bahkan kematian," jelas Dr Anastasia, Minggu (19/7).

Anastasia menjelaskan bahwa penderita DM beresiko 2,3 kali mengalami stroke sumbatan dan beresiko 1,6 kali mengalami stroke perdarahan, sebagai akibat dari akumulasi inflamasi sistemik, kekakuan pembuluh darah, serta gangguan pada sel endotel pembuluh darah.

Selain stroke, sekitar 69% penderita DM mulai mengalami komplikasi neuropati pada tahun ke-5, yaitu gangguan saraf tepi yang dapat mengakibatkan gangguan sensorik seperti rasa baal, rasa kesemutan, sampai ke luka kaki diabetik yang dapat berakibat amputasi kaki. Juga gangguan motorik ataupun otonom seperti gangguan berkemih dan buang air besar.

Baca Juga: Jangan asal makan, ini waktu terbaik untuk sarapan

Itu sebabnya, DM harus segera diwaspadai. Tatalaksana penyakit saraf terkait diabetes secara konvensional meliputi pengendalian kadar gula darah, terapi medikamentosa yaitu obat-obatan serta suplemen, serta terapi non-obat seperti fisioterapi dan akupunktur.

Nelfidayani, dokter spesialis rehabilitasi medik Klinik Hayandra menjelaskan, rehabilitasi medik memegang peranan penting dalam pencegahan dan penanganan komplikasi gangguan saraf pada DM, termasuk stroke dan neuropati diabetik yang dapat menyebabkan kaki diabetes.

Aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu mengendalikan kadar gula darah bersamaan dengan penggunaan obat pada pasien DM. Pemeriksaan dan perawatan kaki secara rutin harus dilakukan.

"Senam kaki meliputi latihan lingkup gerak sendi dan latihan penguatan otot kaki, serta penggunaan sepatu yang sesuai, merupakan contoh tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kaki diabetes," jelas Dr Nelfidayani.

Dr. Nelfi menambahkan, pada kasus DM yang sudah terjadi gangguan saraf tepi (neuropati), sepertiga kasus mengalami nyeri neuropatik pada tungkai yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Manfaat buah pisang untuk kesehatan yang wajib Anda tahu

Selain penggunaan obat-obatan, terapi laser intensitas tinggi dapat membantu mengurangi nyeri neuropatik. Terapi laser intensitas tinggi memungkinkan penetrasi jaringan dalam dan merupakan terapi nyeri yang kuat namun tidak membuat ketagihan.

Melalui proses transfer energi alami yang disebut fotobiomodulasi dan efek fotomekanis, laser dapat mempercepat penyembuhan dan regenerasi jaringan.

Terapi laser intensitas tinggi bekerja dengan menstimulasi sirkulasi darah di daerah yang terkena, dan darah kaya oksigen yang kaya nutrisi membantu memperbaiki serat saraf dan mengoptimalkan fungsinya. "Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya rasa sakit dan ketidaknyamanan," pungkas Dr Nelfi.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto
Tag


Terbaru