Produk dan Layanan

Bagaimana pengobatan virus corona secara tradisional di China? Ini penjelasannya

Senin, 29 Juni 2020 | 19:35 WIB Sumber: Kompas.com
Bagaimana pengobatan virus corona secara tradisional di China? Ini penjelasannya

ILUSTRASI. Seorang petugas medis dengan pakaian pelindung melakukan tes asam nukleat untuk warga di sebuah daerah perumahan di Wuhan, kota di China yang terkena penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) paling parah, provinsi Hubei, China, Jumat (15/5/2020). REUTE

KONTAN.CO.ID - Beijing. Pandemi virus corona pertama terjadi di China jelang akhir 2019. Namun China pula yang pertama berhasil menang lawan virus corona meskipun sekarang mulai muncul kasus baru. Salah satu kuncinya China menggunakan cara tradisional untuk pengobatan virus corona. 

Laporan pemerintah China baru-baru ini mengklaim 92% dari kasus-kasus Covid-19 di negara tersebut ditangani menggunakan pengobatan tradisional untuk pengobatan virus corona. Pengobatan tradisional China adalah salah satu praktik kedokteran tertua di dunia yang meliputi beragam cara, mulai dari ramuan herbal, akupunktur, hingga Tai Chi.

Baca juga: Kemenaker lelang mobil bekas di Jakarta, ada Avanza, Kijang Grand dan Vios 

Praktik ini sangat populer di China lintas generasi, walau beberapa kali menimbulkan perdebatan di dunia maya mengenai penggunaannya. Para pakar mengatakan China sedang mengembangkan daya tarik pengobatan tradisional baik domestik mau pun mancanegara, namun tenaga kesehatan profesional di berbagai tempat di dunia masih skeptis terkait khasiatnya.

Komisi Kesehatan Nasional China punya bab tersendiri mengenai obat tradisional dalam panduan pengobatan virus corona. Adapun media pemerintah menyoroti perannya yang diduga mampu mengatasi wabah penyakit pada masa lalu, seperti SARS pada 2003.

Enam obat tradisional diiklankan sebagai penyembuh yang efektif untuk pengobatan virus corona. Dua obat virus corona yang paling terpopuler adalah Lianhua Qingwen—yang mengandung 13 elemen termasuk Forsythia suspense dan Rhodiola rosea atau yang dikenal dengan sebutan akar emas—serta Jinhua Qinggan yang dikembangkan saat wabah H1N1 pada 2009 dan terdiri dari 12 komponen termasuk honeysuckle, mint, dan liquorice.

Pendukung pengobatan tradisional China berargumen bahwa tidak ada efek samping atau hal negatif dalam menggunakannya. Namun, para pakar menekankan perlunya serangkaian tes ilmiah sebelum menyatakan formula dalam obat tersebut aman bagi manusia dan berkhasiat untuk pengobatan virus corona.

Baca juga: Bukan sepeda mahal, inilah pilihan sepeda Vidi Aldiano 

Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat mengatakan pengobatan tradisional China untuk pengobatan virus corona mungkin bisa meringankan gejala penyakit, namun efektivitasnya secara keseluruhan dalam melawan virus corona belum bisa dibuktikan. "Obat tradisional China belum ada bukti yang baik dan karena itu penggunaannya tak hanya tidak bisa dibenarkan, tapi juga berbahaya," sebut Edzard Ernst, peneliti obat-obatan suplemen yang dikutip dalam jurnal ilmiah Nature.

TCM

Bagaimana pun, pengobatan tradisional China yang kerap disingkat TCM ( traditional Chinese medicine) terus naik di China dan permintaannya meningkat di dunia. Dewan Negara China tahun lalu memperkirakan industri TCM akan bernilai US$ 420 miliar pada akhir 2020. Presiden Xi Jinping mengaku dirinya "fans berat" pengobatan kuno dan menyebutnya "harta peradaban China".

Namun, Yanzhong Huang, anggota senior urusan kesehatan dunia dalam Dewan Hubungan Luar Negeri China, mencatat "keselamatan dan kemampuan memproduksi hasil yang diinginkan menjadi masalah di sektor TCM dan banyak orang China masih memilih kedokteran modern ketimbang TCM". Institut Nasional untuk Pengendalian Makanan dan Obat-obatan China tahun lalu menemukan racun dalam sejumlah sampel TCM.

Baca juga: Perhatian, jangan download game ini dari Play Store! Ada program jahatnya 

Permainan 'soft power'

Meski Beijing terus berupaya untuk mempromosikan pengobatan tradisional di dunia, sebagian khalayak di luar China tidak mengetahui keberadaannya. Sejumlah kritikus menilai China kini menggunakan pandemi sebagai cara untuk mempromosikan pengobatan tradisional untuk pengobatan virus corona di luar negeri—sebuah tuduhan yang telah dibantah media pemerintah.

Dalam rangka promosi tersebut, China telah mengirim pasokan obat tradisional dan praktisinya ke Afrika, Asia Tengah, dan Eropa—beserta obat-obatan dan peralatan medis konvensional. "Kami bersedia berbagi 'pengalaman China' dan 'solusi China' dalam penanganan Covid-19, serta membolehkan semakin banyak negara mengetahui pengobatan China, memahami pengobatan China, serta menggunakan pengobatan China," kata Yu Yanhong, wakil kepala Badan Pengobatan Tradisional China, Maret lalu.

Huang meyakini promosi TCM di luar negeri akan berujung pada perluasan pengaruh 'soft power'. "Narasi pemerintah yang menggambarkan TCM efektif untuk pengobatan virus corona juga berfungsi untuk mempromosikan superioritas pendekatan China dalam melawan Covid, pada saat pendekatan Barat tampak tidak efektif dalam menghentikan penyebaran virus," ujarnya.

Citra pengobatan tradisional China di dunia meroket tahun lalu setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakuinya secara formal setelah China melakukan lobi selama bertahun-tahun—langkah yang dikecam komunitas medis internasional. WHO kemudian masuk ke dalam kontroversi lanjutan setelah organisasi itu mencabut peringatan penggunaan obat-obatan tradisional dalam menangani Covid-19 dalam rekomendasi berbahasa Inggris dan China.

Kurangnya standarisasi dan hampir tidak ada uji klinis menghambat penggunaan TCM secara luas. Pada Mei lalu, pemerintah Swedia menguji sampel-sampel Lianhua Qingwen dan mereka menemukan 'obat' itu hanya mengandung menthol.

Perdagangan hewan liar

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tahun ini pun memunculkan sorotan pada pengobatan tradisional China terkait dengan perdagangan hewan liar. Komisi Kesehatan Nasional China dikritik setelah merekomendasi penyuntikan berisi bubuk empedu beruang sebagai pengobatan virus corona.

Baca juga: Pertengahan 2020, diskon mobil baru mencapai Rp 100 juta hingga Rp 300 juta 

Baru-baru ini China melarang penggunaan trenggiling, satwa langka yang sisiknya kerap digunakan sebagai obat tradisional. Meski demikian, para pegiat perlindungan satwa khawatir meningkatnya popularitas produk-produk obat tradisional China akan mendorong perburuan dan perdagangan satwa liar secara ilegal. "Kalaupun spesies-spesies terancam punah ini punya khasiat pengobatan, kita seharusnya memakai produk botani sebagai alternative dalam praktik TCM," kata Dr Lixing Lao, profesor jurusan pengobatan China di Universitas Hong Kong, kepada BBC.

Sementara itu, sejumlah langkah pemerintah dan media di China untuk mempromosikan pengobatan tradisional tampaknya justru menjadi bumerang. Pada Maret lalu, para pejabat pemerintah daerah di Provinsi Yunnan menuai kritik dari masyarakat setelah muncul laporan bahwa para pelajar dipaksa mengonsumsi obat tradisional sebagai syarat untuk bisa kembali ke sekolah.

Kemudian, draf aturan yang dirancang pemerintah Kota Beijing untuk menghukum orang-orang yang "mencemarkan nama baik" TCM dihujani kritik. "Sains bisa berdiri menghadapi pertanyaan. Pengobatan tradisional China tidak bisa ditanyai, jadi pengobatan tradisional China bukan sains," sebut seorang pengguna Weibo.

Dr Lao menegaskan bahwa satu-satunya cara agar TCM bisa diterima khalayak dunia adalah "melalui bukti ilmiah, bukan propaganda"

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Seperti Apa Pengobatan Tradisional China untuk Covid-19?", 

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Adi Wikanto


Terbaru