HOME

Badai sitokin banyak renggut nyawa selama pandemi Covid-19, apakah itu?

Sabtu, 08 Mei 2021 | 10:55 WIB Sumber: Kompas.com
Badai sitokin banyak renggut nyawa selama pandemi Covid-19, apakah itu?

ILUSTRASI. Badai sitokin acap kali disebut sebagai penyebab kematian banyak orang selama pandemi Covid-19 ini. REUTERS/Eloisa Lopez

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pernah mendengar soal badai sitokin? Badai sitokin acap kali disebut sebagai penyebab kematian banyak orang selama pandemi Covid-19 ini. Sebenarnya, badai sitokin ini bukanlah nama sebuah penyakit. 

Badai sitokin merupakan sindrom yang mengacu pada sekelompok gejala medis di mana sistem kekebalam tubuh mengalami terlalu banyak peradangan. Akibatnya, organ gagal berfungsi dan memicu kematian. 

Sebenarnya apa itu badai sitokin? 

Badai sitokin juga tak hanya terjadi pada pasien yang mengalami Covid-19. Sindrom ini juga bisa dialami oleh penderita autoimun seperti artritis juvenile. 
Badai sitokin juga bisa terjadi selama beberapa jenis pengobatan kanker. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh infeksi seperti influensa. 

Penelitian terhadap pasien influenza H1N1 juga menemukan 81% mereka yang meninggal mengalami gejala badai sitokin. 

Baca Juga: Selain isolasi, ini langkah-langkah yang harus dilakukan jika positif corona

Bagaimana efek badai sitokin pada tubuh? 

Merangkum hasil penelitian ahli virolohi dan imunologi dari Georgia State University di Atlanta, Mukesh Kumar, badai sitokin dipicu oleh infeksi virus dalam tubuh. 

Virus menggandakan dirinya dengan sangat cepat setelah menginfeksi sel. Setelah itu, sel mulai mengirim sinyal bahaya. Ketika setiap sel merasakan bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi, sel akan langsung meresponnya dengan membunuh dirinya sendiri. 

"Ini adalah mekanisme perlindungan sehingga tidak menyebar ke sel lain," ucap Khumar. 

Jika ada banyak sel yang melakukan hal ini pada saat bersamaan, banyak jaringan yang bisa mati. Pada pasien Covid-19, jaringan tersebut sebagian besar berada di paru-paru. 

Saat jaringan rusak, dinding kantung udara kecil paru-paru menjadi bocor dan berisi cairan. Kondisi ini bisa menyebabkan pneumonia dan darah kekurangan oksigen. 

Baca Juga: 6 Langkah yang harus dilakukan jika positif Covid-19

Ketika paru-paru rusak parah, sindrom gangguan pernapasan akan terjadi. Kemudian organ lain mulai gagal berfungsi. Menurut Kumar, jumlah sitokin yang diproduksi oleh sel sebagai respons terhadap infeksi Covid-19 sekitar 50 kali lebih tinggi daripada infeksi virus Zika atau West Nile.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Badai Sitokin yang Rengut Nyawa Banyak Orang Selama Pandemi"
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Ariska Puspita Anggraini

 

Selanjutnya: ​Mengenal badai sitokin, yang sempat dialami Raditya Oloan sebelum meninggal

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru