kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Waspada Osteoporosis, Ini 4 Tanda Samar Pengeroposan Tulang pada Wanita Usia 40-an


Minggu, 25 Oktober 2026 / 04:00 WIB
Waspada Osteoporosis, Ini 4 Tanda Samar Pengeroposan Tulang pada Wanita Usia 40-an
ILUSTRASI. Waspada Osteoporosis, Ini 4 Tanda Samar Pengeroposan Tulang pada Wanita Usia 40-an


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Wanita yang memasuki usia 40-an perlu mulai memperhatikan kesehatan tulang untuk mengurangi risiko osteoporosis. Penyakit yang membuat tulang rapuh dan mudah patah ini dapat berkembang sebelum seseorang memasuki usia lanjut, terutama ketika kadar hormon estrogen mulai menurun menjelang menopause.

Ahli Bedah Ortopedi Duke Health, Amerika Serikat, dr. Jocelyn Wittstein, menjelaskan bahwa penurunan kepadatan tulang dapat berlangsung lebih cepat sekitar dua tahun sebelum menopause.

Mengutip laporan Today, Jumat (23/10/2026), Wittstein menyebutkan bahwa rata-rata wanita dapat kehilangan sekitar 10% kepadatan tulang sejak dua tahun sebelum menopause hingga sekitar satu dekade setelahnya.

Penurunan estrogen menjadi salah satu pemicu utama kondisi tersebut. Hormon ini berperan dalam menjaga keseimbangan pembentukan dan pengeroposan tulang. Ketika kadarnya menurun, proses kehilangan massa tulang dapat meningkat.

Meski demikian, risiko osteoporosis dapat ditekan melalui pola makan bergizi, olahraga teratur, serta penanganan medis yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Baca Juga: Riset Ungkap Dampak Main HP hingga Larut Malam pada Remaja, Cegah Sekarang!

4 tanda samar osteoporosis yang perlu diwaspadai

Osteoporosis kerap dijuluki silent disease atau penyakit senyap karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Seseorang bahkan bisa tidak menyadari kepadatan tulangnya telah berkurang sampai mengalami patah tulang.

Berikut empat tanda yang perlu diperhatikan.

1. Patah tulang akibat jatuh ringan

Patah tulang setelah terjatuh ringan atau mengalami benturan yang relatif kecil dapat menjadi tanda kepadatan tulang yang rendah.

Bagian tubuh yang rentan mengalami patah tulang antara lain pergelangan tangan, bahu, pinggul, dan tulang belakang.

Wittstein menjelaskan, patah pergelangan tangan setelah seseorang terjatuh dengan tangan terentang merupakan salah satu tanda klasik yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami osteoporosis. Namun, patah tulang akibat trauma ringan sebaiknya menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter guna mengevaluasi kesehatan tulang.

Pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan metode dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA atau DXA) dapat membantu mendeteksi osteoporosis dan osteopenia, yakni kondisi ketika kepadatan tulang lebih rendah dari normal tetapi belum memenuhi kriteria osteoporosis.

Wittstein menyarankan wanita mempertimbangkan evaluasi kesehatan tulang sejak usia 50 tahun. Meski begitu, waktu pemeriksaan yang tepat perlu disesuaikan dengan faktor risiko dan rekomendasi dokter.

2. Nyeri tulang saat berolahraga

Wanita yang aktif berolahraga, khususnya setelah menopause, juga perlu memperhatikan rasa sakit yang berulang pada bagian tumit atau pinggul ketika berlatih.

Menurut Wittstein, nyeri tulang selama aktivitas olahraga dapat menjadi salah satu petunjuk adanya masalah pada kepadatan tulang.

Meski demikian, nyeri di area tersebut tidak selalu disebabkan osteoporosis. Cedera otot, gangguan sendi, dan masalah muskuloskeletal lainnya juga dapat menimbulkan keluhan serupa.

Karena itu, nyeri yang menetap atau semakin parah sebaiknya diperiksakan kepada tenaga medis, terutama jika disertai kesulitan berjalan atau nyeri setelah aktivitas ringan.

Baca Juga: Karhutla Bikin Kualitas Udara Jakarta Tak Sehat, Amankah Lari di Luar Ruangan?

3. Tinggi badan berkurang

Berkurangnya tinggi badan seiring bertambahnya usia juga patut diwaspadai.

Kondisi ini dapat terjadi ketika ruas tulang belakang mengalami kompresi atau patah akibat tulang yang melemah. Akibatnya, tinggi badan seseorang bisa berkurang secara bertahap.

Penurunan tinggi badan yang cukup nyata dapat menjadi petunjuk adanya patah tulang belakang akibat osteoporosis, termasuk ketika penderitanya tidak menyadari pernah mengalami cedera.

Jika tinggi badan terus berkurang, terutama disertai nyeri punggung, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

4. Perubahan postur tubuh

Perubahan postur, seperti punggung yang semakin membungkuk, juga dapat menjadi tanda osteoporosis.

Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan patah tulang kompresi pada ruas tulang belakang. Ketika struktur tulang melemah, ruas tulang belakang dapat mengalami perubahan bentuk sehingga postur tubuh ikut berubah.

Pada sebagian orang, perubahan ini berlangsung perlahan dan baru terlihat setelah beberapa waktu.

Oleh sebab itu, postur tubuh yang semakin membungkuk, terlebih jika disertai nyeri punggung atau penurunan tinggi badan, sebaiknya tidak diabaikan.

Tonton: INVESTOR ASING KABUR, LOKAL SEROK SAHAM! OJK Lapor Presiden Soal Kondisi Pasar Modal RI

Cara mencegah osteoporosis sejak dini

Meski penurunan kepadatan tulang dapat meningkat menjelang menopause, sejumlah langkah dapat membantu menjaga kesehatan tulang. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.

1. Penuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D

Kalsium berperan penting dalam membentuk dan mempertahankan kekuatan tulang. Sementara itu, vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dengan baik.

Mengacu pada panduan National Institutes of Health (NIH), wanita berusia 51 tahun ke atas membutuhkan sekitar 1.200 miligram kalsium per hari. Untuk vitamin D, kebutuhan wanita hingga usia 70 tahun umumnya sekitar 600 unit internasional (IU) per hari.

Kebutuhan tersebut dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, serta rekomendasi tenaga medis.

Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan yang dapat dimakan bersama tulangnya, tahu, serta sayuran hijau tertentu. Vitamin D dapat diperoleh dari makanan, produk yang difortifikasi, dan paparan sinar matahari yang sesuai.

Wittstein juga menekankan pentingnya pola makan bergizi, termasuk mencukupi kebutuhan magnesium dan serat. Namun, kebutuhan suplemen sebaiknya ditentukan berdasarkan kondisi dan asupan masing-masing orang.

2. Rutin melakukan latihan ketahanan

Olahraga teratur dapat membantu menjaga kekuatan tulang dan otot. Wittstein menyarankan latihan ketahanan atau resistance training sekitar dua hingga tiga kali seminggu, selama kondisi fisik memungkinkan.

Latihan ini tidak harus menggunakan beban yang sangat berat. Gerakan dengan beban yang sesuai kemampuan dan dilakukan secara konsisten dapat menjadi pilihan.

Contohnya meliputi latihan menggunakan dumbel, gerakan jongkok, atau latihan kekuatan lainnya dengan teknik yang benar.

Wanita yang memiliki riwayat patah tulang, osteoporosis berat, atau gangguan keseimbangan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis sebelum memulai program latihan.

3. Lakukan olahraga kardiovaskular

Aktivitas seperti berjalan cepat juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tulang.

Olahraga ini membantu menjaga kebugaran tubuh, kekuatan otot, dan kemampuan bergerak. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur juga dapat membantu mempertahankan fungsi tubuh seiring bertambahnya usia.

Meski berjalan cepat tidak selalu meningkatkan kepadatan tulang secara signifikan, aktivitas tersebut dapat melengkapi latihan kekuatan dan latihan keseimbangan dalam program menjaga kesehatan tulang.

Baca Juga: Riset Ungkap Dampak Main HP hingga Larut Malam pada Remaja, Cegah Sekarang!

4. Konsultasikan terapi hormon dengan dokter

Terapi hormon menopause dapat menjadi salah satu pilihan medis untuk membantu mencegah kehilangan massa tulang pada wanita tertentu.

Terapi ini perlu mempertimbangkan usia, waktu sejak menopause, gejala, riwayat kesehatan, serta potensi manfaat dan risikonya.

Wittstein menyebut terapi hormon sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu mengurangi kehilangan massa tulang. Namun, terapi tersebut tidak cocok untuk semua wanita dan tidak boleh dilakukan tanpa evaluasi medis.

Bagi wanita yang belum yakin menjalani terapi hormon, penerapan pola makan sehat dan olahraga teratur tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tulang.

Pada akhirnya, osteoporosis tidak selalu menimbulkan gejala sejak awal. Karena itu, mengenali faktor risiko, memperhatikan perubahan tubuh, dan berkonsultasi dengan dokter dapat membantu mendeteksi masalah tulang lebih dini serta menentukan langkah pencegahan yang sesuai.







Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/10/24/203000920/waspada-osteoporosis-di-usia-40-an-kenali-4-tanda-samar-ini?page=all#page2. 

 

Pidato JK di Harvard Ingatkan Pemerintah soal Utang Negara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×