Penyakit Menular

Virus Corona bisa sebabkan kerusakan otak? Ini laporannya

Jumat, 31 Juli 2020 | 05:08 WIB   Reporter: Belladina Biananda
Virus Corona bisa sebabkan kerusakan otak? Ini laporannya

ILUSTRASI. Para peneliti mulai mengidentifikasi hubungan Virus Corona dengan kerusakan otak.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PRATAYANG SABTU MINGGU. Seluruh dunia menaruh perhatian pada Virus Corona. Banyak hal yang harus diteliti. Mulai dari vaksin Corona atau obat Corona hingga hubungannya dengan kondisi tubuh yang lain.

Beberapa peneliti mempelajari adanya kemungkinan hubungan antara infeksi Virus Corona dengan kerusakan otak.

Baca Juga: Jangan lupa! Protokol kesehatan Corona perayaan Idul Adha Tahun 2020

Bersumber dari akun Twitter resmi milik South China Morning Post (@SCMPNews), ada laporan penelitian tentang hubungan antara Virus Corona dan kerusakan otak yang ditunjukkan dalam bentuk video. Peneliti berasal dari Inggris dan menggunakan jaringan otak pasien Corona yang sudah meninggal sebagai objek dalam penelitian itu.

Konsultan ahli saraf dari University of Liverpool, Dr Benedict Michael, mengatakan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah dampak Virus Corona terjadi karena virus tersebut menyerang otak secara langsung atau menyerang sistem imun tubuh terlebih dahulu sehingga otak menjadi terstimulus dan menyebabkan inflamasi.

Penelitian yang dilakukan melibatkan ratusan pasien Corona yang menunjukkan gejala saraf. Dalam laporan video SCMP, Virus Corona menyerang dua bagian otak sehingga menyebabkan inflamasi. Tak hanya itu. Bagian otak yang terserang Virus Corona juga mati.

Baca Juga: Update virus corona: Ada 21 obat Covid-19 yang ditemukan

Penelitian tentang dampak jangka panjang dari Virus Corona terus berkembang seiring dengan kasus Corona yang juga bertambah. Dari pengamatan dan diskusi dengan orang lain, sebagian penderita Corona mengalami sakit parah, tapi memilih untuk tidak memeriksakan diri ke rumah sakit dan menyembuhkan diri sendiri di rumah.

Sayangnya, mereka tidak bisa langsung kembali bekerja setelah sembuh dan justru merasakan sakit yang lebih parah, seperti perubahan cara berpikir yang berubah dan terjadi selama berminggu-minggu. Honorary consultant in epilepsy, Rhys Thomas, menyebutnya sebagai “long-tail of Covid”.

Editor: Belladina Biananda


Terbaru