kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Produk Tembakau Alternatif Punya Potensi Tekan Prevalensi Merokok?


Rabu, 15 November 2023 / 23:22 WIB
Produk Tembakau Alternatif Punya Potensi Tekan Prevalensi Merokok?
ILUSTRASI. Tembakau Alternatif; rokok elektrik


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik atau vape, dan kantong nikotin, menerapkan konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) sehingga memiliki profil risiko 90-95% lebih rendah daripada asap rokok, yang telah dibuktikan melalui berbagai kajian ilmiah.

Oleh karena itu, produk tembakau alternatif memiliki potensi besar untuk menekan prevalensi merokok.

Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (Masindo) Dimas Syailendra menjelaskan, optimalisasi produk tembakau alternatif sebagai alat bantu untuk menurunkan prevalensi merokok sudah dimanfaatkan oleh berbagai negara, termasuk Inggris dan Swedia. Hasilnya menunjukkan angka perokok di kedua negara tersebut mengalami penurunan.

Sebagai contoh, berkat memanfaatkan produk tembakau alternatif, jumlah perokok di Inggris pada tahun 2021 mencapai sebesar 13,3% atau setara 6,6 juta jiwa. Angka ini turun dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 14%.

Selain itu, jumlah perokok di Swedia pada tahun 2022 menurun menjadi sekitar 5,6% dari total populasi. Pada 2015, tingkat prevalensi perokok di Swedia 15%. Angka tersebut menjadikan Swedia menjadi negara dengan tingkat prevalensi merokok terendah di Uni Eropa.

Baca Juga: Pasca Pandemi, Investasi Industri Vape Diprediksi Meningkat 50%-60% Tahun Ini

“Keberhasilan Inggris dan Swedia dalam mengurangi prevalensi merokok dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Indonesia untuk menerapkan strategi serupa sebagai pelengkap dari berbagai program yang telah dijalankan selama ini. Kehadiran produk tembakau alternatif dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat,” jelas Dimas dalam keterangannya, Rabu (15/11).




TERBARU

[X]
×