Penyakit Menular

Mengenal West Nile, virus mematikan yang baru-baru ini terdeteksi di Belanda

Kamis, 15 Oktober 2020 | 23:45 WIB Sumber: Reuters
Mengenal West Nile, virus mematikan yang baru-baru ini terdeteksi di Belanda

KONTAN.CO.ID - AMSTERDAM. Otoritas kesehatan Belanda mengatakan pada Kamis (15/10), mereka telah menemukan infeksi pertama virus West Nile yang berasal dari negeri kincir angin pekan lalu.

Pasien yang terjangkit virus West Nile adalah pria yang baru-baru ini tidak ke luar negeri, Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Belanda mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters.

Ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk, virus West Nile dapat menyebabkan penyakit saraf yang fatal, meskipun sekitar 80% dari mereka yang terinfeksi tidak pernah menunjukkan gejala, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Institut Kesehatan Masyarakat Nasional memperkirakan, pasien tertular virus West Nile di wilayah Utrecht, Belanda tengah, tempat ditemukan burung dan nyamuk pembawa virus pada Agustus dan September lalu.

Baca Juga: Infeksi virus corona dipengaruhi golongan darah? Cek faktanya

Tapi, Institut Kesehatan Masyarakat Nasional menyatakan, risiko infeksi saat ini di Belanda minimal karena musim nyamuk akan segera berakhir. Hanya, mereka akan mengusulkan langkah lebih lanjut sebelum musim nyamuk tahun depan.

Tidak ada vaksin untuk virus West Nile pada manusia, meskipun ada penangkalnya untuk kuda. Berasal dari Afrika, virus tersebut telah menyebar ke Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

Sejumlah warga negara Belanda pernah ditemukan membawa virus West Nile sebelumnya. Tetapi, Institut Kesehatan Masyarakat Nasional mengungkapkan, mereka selalu terinfeksi di luar negeri.

Gejala virus West Nile

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, kebanyakan orang, 8 dari 10, yang terinfeksi virus West Nile tidak menunjukkan gejala apa pun.

Baca Juga: 4 Fakta norovirus, virus mematikan yang menyerang lambung

Sekitar 1 dari 5 orang yang terinfeksi mengalami demam dan gejala lainnya, seperti sakit kepala, nyeri tubuh, nyeri sendi, muntah, diare, atau ruam. 

Kebanyakan orang dengan yang terjangkit virus West Nile sembuh total, tetapi kelelahan dan kelemahan bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Hanya, menurut CDC, sekitar 1 dari 150 orang yang terinfeksi mengembangkan penyakit parah yang memengaruhi sistem saraf pusat, seperti ensefalitis (radang otak) atau meningitis (radang selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang).

Gejala penyakit parah termasuk demam tinggi, sakit kepala, leher kaku, pingsan, disorientasi, koma, tremor, kejang, otot lemas, kehilangan penglihatan, mati rasa, dan kelumpuhan.

Baca Juga: Wabah norovirus menyerang China, gejalanya muntah, diare dan demam

Bisa menyebabkan kematian

Penyakit parah dapat terjadi pada orang dari segala usia. Namun, orang yang berusia di atas 60 tahun berisiko lebih besar.

Orang dengan kondisi medis tertentu, seperti kanker, diabetes, hipertensi, penyakit ginjal, dan orang yang telah menjalani transplantasi organ, juga berisiko lebih besar.

Pemulihan dari penyakit parah akibat virus West Nile mungkin membutuhkan waktu beberapa minggu atau bulan. Beberapa efek pada sistem saraf pusat mungkin permanen.

Tapi, CDC mengungkapkan, sekitar 1 dari 10 orang yang mengembangkan penyakit parah, yang memengaruhi sistem saraf pusat, meninggal.

Selanjutnya: Salip Filipina, Indonesia jadi negara dengan kasus corona tertinggi di Asia Tenggara

 

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: S.S. Kurniawan


Terbaru