Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyebaran virus corona masih jauh dari kata reda. Sejak akhir Juni hingga pertengahan Juli ini, jumlah kasus infeksi baru virus corona terus menanjak. Setelah mencapai angka tertinggi, yaitu 54.000 kasus pada 15 Juli lalu, jumlah infeksi baru virus corona sedikit tergerus menjadi 51.952 pada 17 Juli.
Satu pemicu gelombang infeksi virus corona di Indonesia belakangan ini adalah kehadiran varian delta. Demikian keterangan Satuan Tuga Penanganan Covid-19 di web resminya, yang diunggah pertengahan Juni silam. “Varian Delta banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia,” tutur Wiku Adisasmito, jurubicara Satgas.
Andil varian Delta dalam wabah terbaru di Indonesia juga disampaikan Menteri Koordinator Investasi dan Maritim Luhut Panjaitan. “Varian Delta ini varian yang tidak mudah untuk dikendalikan,” ujar Luhut dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (15/7).
Baca Juga: Ini hal-hal yang harus dilakukan saat isolasi mandiri
Jika merujuk ke catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kiprah varian Delta memang mencemaskan. Pertama kali teridentifikasi pada Juni 2020 di India, varian ini telah menyebar ke lebih dari 80 negara per pertengahan tahun ini.
Gawatnya varian Delta tak cuma kemampuannya menyebar ke banyak negara dalam waktu yang singkat. Varian ini juga mendominasi kasus infeksi di banyak negara. Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, yang dikutip Reuters akhir bulan lalu, memprediksi varian Delta akan menjadi varian virus corona yang paling dominan di dunia.
Oya, yang dimaksud dengan varian virus, pada dasarnya, adalah hasil dari proses mutasi sebuah virus dari waktu ke waktu. Mutasi itu terjadi saat virus corona menginfeksi tubuh seorang manusia. Di saat itu, virus memiliki kesempatan untuk melakukan proses replikasi genom, yang bisa berakhir tidak sempurna. Inilah yang disebut mutasi.
Baca Juga: Yuk mengenal anosmia, salah satu gejala utama Covid-19
Mengutip keterangan WHO, sebagian besar mutasi hanya menyebabkan perubahan yang terbatas di virus corona. Namun, ada juga mutasi yang menyebabkan perubahan virus hingga menimbulkan apa yang disebut varian. Dan, WHO menjalin kerjasama dengan otoritas negara, jaringan ahli dan peneliti, mitra serta lembaga dunia lainnya telah memantau dan menilai virus corona dan berbagai varian hasil mutasinya sejak Januari 2020.
Menanggapi kehadiran banyaknya varian yang meningkatkan risiko kesehatan warga dunia, WHO dan para mitranya di akhir 2020 menyusun karakterisasi berbagai varian virus corona. Masing-masing varian dikelompokkan menjadi Variants of Interest (VOI) dan Variants of Concern (VOCs).
Pengelompokan itu bertujuan untuk memprioritaskan pemantauan dan penelitian global, dan pada akhirnya untuk menginformasikan tanggapan yang sedang berlangsung terhadap pandemi COVID-19. Berikut penjelasan singkat dari masing-masing kelompok.
Variants of interest (VOI)
Varian virus corona digolongkan sebagai VOC apabila memiliki genetik yang diperkirakan atau diketahui mempengaruhi karakteristik virus seperti penularan, keparahan penyakit, pelepasan kekebalan, pelepasan diagnostik atau terapeutik.
Hasil mutasi juga dikelompokkan ke dalam varian VOI apabila ia diidentifikasi sebagai penyebab penularan komunitas yang signifikan, atau beberapa klaster di banyak negara dengan peningkatan prevalensi relatif bersamaan. Atau, ada dampak epidemiologis dari hasil mutasi ini yang menunjukkan risikonya terhadap kesehatan masyarakat global.
Saat ini yang masuk dalam kelompok VOI seperti Varian Eta, yang teridentifkasi di banyak negara pada Desember 2020. Ada juga varian Iota dan Kappa, yang masing-masing teridentifikasi di Amerika Serikat pada November 2020, dan India (Oktober 2020). Contoh lain adalah varian Lambda yang terendus pada Desember 2020 di Peru.
Baca Juga: Korea Selatan akan memperluas pembatasan pertemuan pribadi di luar Seoul
Variants of Concern (VOC)
Seperti namanya, hasil mutasi virus corona yang masuk dalam kelompok ini dinilai lebih berbahaya dibandingkan varian di kelompok VOI. Itu sebabnya, varian dalam label VOC harus memenuhi karakter VOI plus satu atau lebih dari tiga karakter berikut.
Pertama, meningkatkn penularan atau perubahan yang mengakibatkan perubahan dalam epidemiologi Covid-19. Kedua, peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis. Ketiga, penurunan efektivitas kesehatan masyarakat dan tindakan sosial atau diagnostik yang tersedia, vaksin, terapi.
Selain varian Delta, ada tiga empat varian lain yang juga memiliki label VOC. Masing-masing adalah varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Inggris pada September 2020. Lalu, varian Beta yang awalnya teridentifikasi di Afrika Selatan pada Mei 2020. Berikutnya adala varian Gamma yang semula menyebar di Brazil pada November 2020.
Para peneliti dan otoritas, seperti WHO, punya rekomendasi yang sederhana untuk memperlambat, bahkan menyetop laju mutasi virus corona. Seperti virus lainnya, corona tidak akan bermutasi, jika tidak mendapat kesempatan untuk melakukan replikasi. Sedang menghambat replikasi bisa dilakukan setiap orang dengan menerapkan secara disiplin protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun
Selanjutnya: Begini tips dari psikolog anak dan keluarga agar anak tidak jenuh sekolah di rumah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News