Mata Lelah dan Progresivitas Miopia Saat Pandemi, Simak Penjelasan dari Dokter Siloam

Jumat, 31 Desember 2021 | 11:02 WIB   Reporter: Yudho Winarto
Mata Lelah dan Progresivitas Miopia Saat Pandemi, Simak Penjelasan dari Dokter Siloam

ILUSTRASI. Kesehatan mata


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beraktivitas di depan gawai/smartphone dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan organ mata menjadi lelah.

Meski tidak berbahaya, namun jika dibiarkan, mata lelah bisa menimbulkan gangguan kesehatan pun di masa pandemi Covid 19, yang secara langsung  baik orang dewasa maupun anak-anak akan lebih sering menggunakan gawai baik dari laptop maupun smartphone.

Orang dewasa akan lebih sering menggunakan mata dalam pekerjaan, dan anak-anak juga sering menggunakan smartphone dalam pelajarannya.

Mengacu pada studi penelitian di China efek dari pandemi Covid-19 telah meningkatkan kasus Myopia atau gangguan mata minus bahkan pada anak-ana, yaitu selama tahun 2020 anak usia 6 - 8 tahun ternyata 3 kali lipat lebih rawan terkena miopia dibandingkan sebelum periode Pandemi Covid-19 berlangsung.

Pada kasus Miopia, Dr. dr. Ariesanti Tri Handayani, Sp M(K), dari Siloam Hospitals Bali mengatakan, mata minus atau miopia terjadi karena cahaya yang masuk kedalam mata jatuh di depan retina mata.

Baca Juga: Tak ada obat, ini cara mengobati dan mengurangi mata minus

Hal ini dipicu oleh panjang bola mata yang bertambah atau kemampuan mata dalam memfokuskan cahaya sehingga objek yang jauh terlihat buram.

"Ada dampaknya pada mata, yaitu terbagi dua, mata Lelah atau mata kering yang disebabkan karena Computer Vision Syndrome (CVS), dan Akomodasi karena jangka lama yang diakibatkan adanya penambahan ukuran refraksi (miopia) yang progresif," tutur dr. Ariesanti, melalui edukasinya pada aplikasi live Zoom, di Bali, Senin (27/12) lalu.

Pada edukasi tersebut, Ariesanti menerangkan, Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan masalah pada organ mata dan penglihatan yang bersifat kompleks pun terkait dengan fungsi mata dalam aktivitas dekat yang berhubungan dengan komputer.

Lalu bagaimana terjadinya CVS?

"Gambar pada layar komputer memiliki batas yang tidak tegas sehingga mata akan berusaha untuk memfokuskan bayangan saat melihat layar komputer. Dan usaha memfokuskan bayangan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan kelelahan pada otot mata (akomodasi), sehingga otot mata menjadi tegang dan menimbulkan gejala eye strain atau asthenopia sehingga terjadi CVS," jelas dr. Ariesanti, yang menyelesaikan pendidikan spesialis mata di Universitas Airlangga, menjelaskan proses terjadinya CVS.

Baca Juga: Kenali 5 jenis sakit mata yang umum diderita

Adapun faktor risiko dari CVS, adanya gangguan refraksi (minus, plus, silinder) yang tidak dikoreksi.

"Termasuk adanya penyakit pada tubuh seperti Diabetes Melitus, alergi, autoimun, dan lainnya. Adapun penggunaan obat-obatan yang memicu penyakit mata kering misalnya obat anti glukoma, obat hipertensi, dan anti depresi, baik usia yang sudah lanjut juga ikut mempengaruhi penyakit pada mata dan sistematik", imbuhnya.

Lalu mengapa bisa timbul gejala CVS?

Gejala yang disebabkan pada mata akibat konsentrasi di depan komputer sehingga turunnya refleksi berkedip hingga 6 - 8 kali per menit dan berakibat menurunkan kualitas air mata.

Ini yang dinamakan gejala penyakit mata kering, sementara untuk gejala kelelahan mata karena adanya usaha memfokuskan bayangan saat menatap komputer pada jangka waktu yang lama sehingga berakibat otot siliaris berkontraksi.

Gejala pada otot/tulang belakang juga diakibatkan karena cara duduk yang salah berulang-ulang seperti membungkuk, atau tidak tegak, dan tekuk leher yang menekuk sehingga membuat aliran darah kurang lancar.

Akibat hal di atas maka akan mengalami keluhan CVS seperti penglihatan kabur saat melihat dekat ,kabur saat melihat jauh setelah menggunakan komputer, serta kesulitan memfokuskan bayangan dari satu jarak ke jarak yang berbeda.

Sementara keluhan yang berhubungan dengan penyakit mata kering adalah iritasi/terasa panas seperti terbakar, mata terasa kering, tegang, dan sakit kepala serta kelelahan pada mata.

Baca Juga: Tips aman main gadget bagi mata anak-anak

"Untuk itu guna mencegah terjadinya CVS maka sebaiknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu periksa kondisi mata sebelum menggunakan komputer, pastikan cukup penerangan dengan posisi duduk yang ergonomis, serta meminimalisir glare dan sesuaikan brightness dan contrast.

Jarak yang ideal untuk mata dalam penggunaan smartphone sekitar 1 inci, dan untuk komputer sekitar 2 inci, serta 10 inci untuk televisi atau kurang lebih 3 meter. Lalu biasakan melihat jarak jauh sekitar 20 kaki selama 20 detik setelah maksimal melihat jarak dekat setelah 20 menit," terang dr Ariesanti.

Bagaimana mengatasi keluhan CVS?

Untuk mengatasi keluhan ini maka koreksi kelainan refraksi (minus, plus, silinder). Hindari pemakaian lensa kontak bila bekerja lama di depan komputer. Gunakan tetes air mata secara rutin. Mengonsumsi suplemen seperti omega-3, vitamin D, dan antioksidan.

Gunakan analgetik atau anti radang untuk gangguan otot leher /bahu /tulang belakang. Konsultasikan dengan orthopedist, atau neurologis, serta fisioterapist, jika terdapat kelainan pada postur tubuh.

Karena efek jangka panjang pada penggunaan komputer akan terjadi peningkatan jumlah penderita myopia pandemic dan terjadi penambahan ukuran myopia progression. Jika hal ini terus terjadi maka akan mengakibatkan mata malas, mata juling, galukoma, retinal detachment yaitu lepasnya lapidan retina,  serta miopia patologis.

Baca Juga: Aturan main bergadget ria yang sehat bagi mata

Hal yang harus dilakukan untuk menghindari progresivitas miopia adalah kurangi aktivitas dekat sesering mungkin, perbanyak outdoor activity , periksa mata anak sebelum usia sekolah bila orangtua memakai kacamata. Serta kontrol kacamata rutin setiap 6 bulan sekali atau maksimal 1 tahun sekali.

Di akhir sesi edukasi, dr Ariesanti menyimpulkan, penggunaan komputer jangka lama dapat mempengaruhi kesehatan mata antara lain terjadinya progresivitas miopia. Pemeriksaan rutin secara berkala sangat disarankan untuk memonitor progresivitas myopia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto

Terbaru