Bahaya! Suka makan mi instan pakai nasi? Ini peringatan dokter

Selasa, 31 Agustus 2021 | 07:46 WIB Sumber: Kompas TV
Bahaya! Suka makan mi instan pakai nasi? Ini peringatan dokter

ILUSTRASI. Dokter memperingatkan dampak buruk pada kesehatan orang yang gemar makan mi instan bersama nasi.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mi instan dapat dikatakan sebagai salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian masyarakat Indonesia senang makan mi instan sebagai lauk nasi. Ternyata orang yang biasa memakan dua jenis makanan tinggi karbohidrat itu terancam bahaya kesehatan.

Kesenangan makan mi instan bersama nasi itu tak lepas dari kebiasaan orang Indonesia yang tak bisa lepas dari nasi. 

Ahli penyakit dalam Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam memperingatkan dampak buruk pada kesehatan orang yang gemar makan mi instan bersama nasi.

Seperti diketahui, mi instan dan nasi sama-sama mengandung banyak karbohidrat dan kalori. Dalam 100 gram atau 1 centong nasi putih, terdapat sekira 152 kalori.

Sementara, satu bungkus mi instan memiliki kandungan sekitar 350 kalori. Jika mi instan dimakan bersamaan dengan nasi, sesorang akan menerima asupan hingga lebih dari 500 kalori.

Baca Juga: Jangan bandel! Ini 4 pola makan terlarang bagi usia 50 tahun ke atas

Tubuh akan menyimpan kalori yang berlebihan ini sebagai lemak hingga perlahan menyebabkan obesitas atau kelebihan berat badan.

Selain itu, makanan dengan kalori tinggi umumnya mengandung banyak lemak dan gula.

Satu centong nasi putih berisi kandungan sekira 38 gram karbohidrat, sedangkan satu bungkus mi instan mengandung sekira 40 gram karbohidrat.

Mengonsumsi kedua jenis makanan itu bersamaan akan membuat tubuh mendapatkan asupan karbohidrat yang tinggi.

Padahal, karbohidrat dapat meningkatkan risiko resistensi insulin. Tak cuma itu, karbohidrat juga membuat kadar glukosa dalam tubuh bertambah.

Baca Juga: Ini kandungan kalori yang ada dalam mi instan

Akibatnya, orang yang biasa makan mie instan dan nasi dapat lebih mungkin menderita penyakit diabetes tipe 2, penyakit jantung dan kanker.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru