kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bahaya konsumsi susu kental manis sehari-hari, salah satunya diabetes


Kamis, 21 November 2019 / 00:01 WIB
Bahaya konsumsi susu kental manis sehari-hari, salah satunya diabetes
ILUSTRASI.

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bahaya susu kental manis bila dikonsumsi sehari-hari salah satunya bisa sebabkan diabetes. Namun tak hanya diabetes, bahaya susu kental manis bisa mengancam kesehatan lainnya.

Terlebih usai imbauan BPOM terkait tingginya kandungan gula yang bisa menimbukan bahaya susu kental manis yang lain.

Susu kental manis (SKM) sempat menjadi konsumsi umum pengganti susu di kalangan masyarakat.

Baca Juga: Perusahaan susu nomor 1 Amerika mendeklarasikan bangkrut!

Sayangnya, pada tahun lalu terungkap bahwa kandungan susu di dalam SKM lebih sedikit dibandingkan kandungan gulanya.

Kadar gula di dalam SKM itu tak hanya menjadi salah satu bahan pengawet melainkan juga menimbulkan rasa manis yang disukai anak-anak.

Meski begitu, kandungan gula di dalam SKM bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang serius terlebih bila dikonsumsi terlalu sering.

Oleh karenanya, BPOM pernah mengimbau agar masyarakat tidak mengganti konsumsi susu dengan SKM.

Baca Juga: Bahaya kesehatan di balik nikmat sruput minuman boba

Melansir dari laman Kompas.com, BPOM resmi menyatakan susu kental manis mengandung susu banyak gula.

Hal ini diungkap oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito bahwa SKM mengandung susu yang dipekatkan sebelum ditambahkan gula yang menjadikannya manis.

"Air (susu)-nya dikeluarkan, di-evaporate, di-condense, dikentalkan kemudian ditambah gula. Jadi lemaknya itu terkonsentrasi terus ditambah gula," kata Penny saat konferensi pers di Kantor BPOM, Senin (9/7).

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Tetty Sihombing, Direktur Pengawasan Pangan Risiko Tinggi dan Teknologi Baru BPOM.

"Yang harus diikuti dalam persyaratan susu kental manis adalah kandungan lemak susu tidak kurang dari delapan persen, protein kurang dari enam setengah persen," kata Tetty.

Baca Juga: Cegah kanker atau sakit jantung, kenali 3 lemak makanan ini

"Jadi kalau industrinya bermain-main dengan kandungan lemak susu dan protein, dia harus mengatur agar kandungan gula ini berfungsi sebagai pengawet," imbuhnya.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×