HOME

Tambah rumit, ini istilah baru penanganan virus corona di Indonesia

Selasa, 14 Juli 2020 | 15:12 WIB Sumber: Kompas.com
Tambah rumit, ini istilah baru penanganan virus corona di Indonesia

ILUSTRASI. Sejumlah tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap saat jam pertukaran shift di rumah sakit rujukan COVID-19 RSUD Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (13/7/2020). Kementerian Kesehatan menyebutkan per 8 Juli 2020, dari total anggaran insenti

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Kesehatan belum berhasil mengendalikan penyakit virus corona meski sudah berlangsung lebih dari empat bulan. Namun Kementerian Kesehatan malah menambah keruwetan pemahaman virus corona di masyarakat dengan mengganti berbagai istilah yang selama ini sudah "jelimet" di mata publik.

Sebagai pembanding, di negara lain hanya membedakan antara orang terinfeksi virus corona, sembuh, dan meninggal. Sedangkan di Indonesia, penanganan virus corona menggunakan beragam istilah mulai dari orang dalam pemantauan ( ODP), pasien dalam pengawasan ( PDP), orang tanpa gejala ( OTG), positif virus corona, sembuh, dan meninggal.

Baca juga: Gugus Tugas : Tidak ada kasus baru di 48 kabupaten/kota 

Kini Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 ( Covid-19). Dalam Kepmen yang ditandatangani pada 13 Juli 2020 tersebut, Terawan mengganti istilah orang dalam pemantauan ( ODP), pasien dalam pengawasan ( PDP), dan orang tanpa gejala ( OTG) dengan sejumlah definisi baru.

Dikutip dari lembaran Kepmenkes tersebut, Selasa (14/7/2020), ODP berubah istilahnya menjadi kontak erat, PDP menjadi kasus suspek, dan OTG menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).

Berikut ini rincian definisi operasional yang baru menurut Kepmenkes:

1. Kasus suspek

Maksud istilah ini adalah seseorang yang memiliki salah satu dari kriteria berikut:

  • Orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.
  • Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19.
  • Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Sebagai catatan, istilah pasien dalam pengawasan (PDP) saat ini diperkenalkan dengan istilah kasus suspek.

Selanjutnya: Kasus probable

Editor: Adi Wikanto


Terbaru