kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Simak Cara Mencegah Stunting Pada Anak


Jumat, 08 April 2022 / 08:00 WIB
Simak Cara Mencegah Stunting Pada Anak


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Stunting atau masalah kekurangan gizi pada anak harus menjadi perhatian sejak dini. Terutama pada fase menyusui atau saat bayi berusia 0 hingga 6 bulan memegang peranan penting dalam pencegahan stunting

Untuk itu, masyarakat harus lebih dulu mendapatkan pemahaman yang holistik sehingga stunting dapat dicegah dengan cara yang tepat. Salah satunya melalui cukupnya gizi ibu yang sedang dalam masa menyusui.

Guru Besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Sandra Fikawati mengatakan, ibu yang sedang dalam masa menyusui memerlukan makanan yang bergizi agar dapat memberikan gizi yang optimal kepada bayi melalui air susu ibu (ASI).  "Fase menyusui ini berperan penting dalam mencegah stunting pada anak mengingat sebanyak 23% bayi sudah terlahir stunted sehingga perlu upaya yang lebih keras pada saat menyusui guna mencegah kondisi ini berlanjut," kata Sandra, dalam keterangan resmi, Rabu (6/4). 

Fika melanjutkan, bahwa kebutuhan gizi ibu menyusui harus lebih banyak dari ibu hamil untuk mencapai 6 bulan ASI eksklusif dan bayinya tetap dalam kondisi baik. Pada saat ibu menyusui secara eksklusif, bayi itu bergantung sepenuhnya pada ibunya, sehingga pada masa ini perlu diperhatikan gizinya. 

Baca Juga: UPDATE Covid-19 Indonesia, 7 April: Tambah 2.089 Kasus Baru, Meninggal 45

Apalagi saat ini di Indonesia, prevalensi ibu hamil yang menderita kurang energi kronis (KEK) dan anemia tinggi. Setelah bersalin, tidak ada waktu lagi bagi ibu untuk memperbaiki status gizinya kecuali dengan mengonsumsi makanan bergizi saat menyusui

Fika menyarankan agar fase ini menjadi perhatian pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan. Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Kesehatan memiliki program khusus dalam rangka pencegahan stunting yang dinamakan Intervensi Gizi Spesifik. 

Dalam program Intervensi Gizi Spesifik terdapat sembilan upaya yang dilakukan untuk mencegah stunting pada saat sebelum bayi lahir dan setelah lahir. Hanya saja menurut Fika, perlu ditambahkan upaya pemberian asupan gizi yang optimal bagi ibu menyusui agar tidak kecolongan menjadi stunting di saat mendapat ASI eksklusif 6 bulan. 

“Berdasarkan data sebanyak 23% bayi ketika lahir sudah dalam kondisi stunted, itu berarti dia harusnya mengejar ketinggalan karena sudah terlahir stunting. Maka ketika si ibu menyusui harus memberikan gizi yang memadai kepada si bayi, ibu membutuhkan protein dan gizi yang cukup pula untuk dirinya," terangnya. 

Jadi, menurut Fika, ada yang luput dalam program Kemenkes karena tidak memperhatikan pada fase menyusui. Di sisi lain, ia mengapresiasi program Kementerian Kesehatan dalam upaya pencegahan stunting seperti di antaranya pemberian tablet penambah darah bagi remaja putri dan pemberian makanan tambahan protein hewani bagi baduta. 

Baca Juga: Begini Aturan Konsumsi Okra untuk Menurunkan Gula darah pada Penderita Diabetes

Hanya saja, dibutuhkan poin tambahan pada fase menyusui agar program tersebut lebih komprehensif. Fika juga menyarankan agar pemerintah memberikan subsidi untuk memudahkan akses masyarakat terhadap makanan yang mengandung protein hewani.

“Saya juga menyarankan agar pemerintah mensubsidi protein hewani, termasuk di dalamnya susu buat anak-anak. Protein hewani berbentuk susu ini sangat penting bagi pertumbuhan anak," ungkapnya. 

Selain mengandung insulin like growth factor (IGF-1) yang berperan penting dalam pertumbuhan tinggi badan, susu juga mudah disajikan, praktis disiapkan, dan merupakan makanan alami yang disukai anak. 




TERBARU

[X]
×