kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mi instan bahayakan pertumbuhan anak-anak?


Selasa, 22 Oktober 2019 / 09:10 WIB
Mi instan bahayakan pertumbuhan anak-anak?
ILUSTRASI. Konsumen memilih makanan ringan di sebuah toko ritel, Jakarta, Senin (2/1). Kementerian Perindustrian menyampaikan sektor makanan dan minuman diproyeksikan tumbuh 7,5%-7,8% pada 2017, lebih rendah dibandingkan 2016 yang angkanya mencapai 8,2%-8,5%. Namun,

Sumber: Kompas.com | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus malnutrisi karena mi instan banyak terjadi di negara berkembang seperti Filipina, Indonesia, dan Malaysia. Standar kehidupan yang meningkat justru membuat para orang tua yang bekerja tidak memiliki waktu, uang, dan kesadaran dalam mengurus makanan anak-anak mereka.

Dari ketiga negara tersebut, rata-rata 40 % balita mengalami kekurangan gizi. Berdasarkan data UNICEF, jumlah ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan secara global, yakni satu dari tiga orang.

Baca Juga: Ogah cuma makan mi instan di akhir bulan, mahasiswa kudu cermati uang saku

Pakar kesehatan masyarakat di Indonesia Hasbullah Thabrany menyatakan, orang tua percaya bahwa mengisi perut anak-anak mereka adalah yang terpenting, tanpa memperhatikan asupan protein, kalsium, dan serat.

UNICEF menyebut bahwa kasus ini terjadi karena adanya masalah di masa lalu dan prediksi kemiskinan yang berpotensi terjadi di masa depan.

Sementara kekurangan zat besi dapat menghambat anak untuk belajar dan juga bisa meningkatkan risiko kematian ibu selama hamil atau setelah melahirkan.

Baca Juga: Berat badan mudah naik-turun? Bisa jadi ini sebabnya

Berdasarkan data UNICEF tahun lalu, 24,4 juta balita Indonesia, 11 juta balita Filipina, dan 2,6 juta balita Malaysia mengalami kekurangan gizi.

Pakar nutrisi Asia UNICEF, Mueni Mutunga menelusuri kembali tren keluarga yang meninggalkan makanan tradisional dan kemudian mengonsumsi makanan modern karena dianggap lebih terjangkau dan mudah disajikan.

Meski harga mi murah, makanan ini mengandung kadar nutrisi yang rendah, serta lemak dan garam yang tinggi. Menurut World Instant Noodles Association, Indonesia adalah konsumen mi instan terbesar kedua di dunia.

Baca Juga: Jangan salah, mi instan bisa jadi makanan sehat jika diolah seperti ini

Sedangkan peringkat satu diisi oleh China dengan konsumsi 12,5 miliar mi instan pada tahun 2018. UNICEF melaporkan, pasokan makanan dari buah-buahan, sayuran, telur, susu, ikan, dan daging yang kaya nutrisi menghilang dari pola makan ketika penduduk desa pindah ke daerah perkotaan untuk mencari pekerjaan.

Meskipun Filipina, Indonesia, dan Malaysia dianggap sebagai negara berpenghasilan menengah berdasarkan ukuran Bank Dunia, puluhan juta rakyatnya berjuang untuk menghasilkan cukup uang untuk hidup.

Baca Juga: Viral di jagad twitter, produk mi instan Indonesia gandeng Siwon Choi untuk iklan

Ahli kesehatan Malaysia, T. Jayabalan menyebut kemiskinan adalah masalah utama. Selain mi instan, biskuit tinggi gula, minuman dan makanan cepat saji juga menjadi masalah di ketiga negara tersebut. Promosi dan iklan yang agresif mendorong masyarakat mengonsumsi makanan rendah gizi. (Gloria Setyvani Putri)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bukti Baru, Mi Instan Bahayakan Pertumbuhan Anak-anak di Asia",

 


Tag

Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×