HOME

GeNose C19, Alat Deteksi Covid-19 Besutan UGM Bermula dari Alat Pelacak Narkoba

Sabtu, 26 Desember 2020 | 21:00 WIB   Reporter: Yuwono Triatmodjo
GeNose C19, Alat Deteksi Covid-19 Besutan UGM Bermula dari Alat Pelacak Narkoba

GeNose C19, alat pendeteksi virus Covid-19 melalui udara dari embusan nafas, yang dirancang oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tim ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses memproduksi alat pendeteksi virus Covid-19 yang diberi nama GeNose C19 (GeNose). Cikal bakal alat ini, sudah dimulai sejak 6-7 tahun lalu.

Namun kala itu, alat ini dirancang untuk mendeteksi keberadaan narkoba, di pelabuhan. Hal tersebut dikisahkan Prof. Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM kepada KONTAN.

Paripurna mengatakan, kala itu ada kebutuhan sebuah alat untuk mendeteksi keberadaan narkoba bagi aktifitas di pelabuhan. UGM sejak 7 tahun lalu, sudah berhasil membuat alatnya.

Kala wabah virus corona (Covid-19) melanda di Indonesia, alat tersebut dikembangkan lagi guna mendeteksi penderita Covid-19. Cara pengetesan adalah melalui deteksi hembusan nafas. Alat ini membutuhkan waktu sangat cepat, yakni sekitar 2 menit guna mengidentifikasi ada tidaknya virus Covid-19 pada orang yang dites.

"Alat ini juga dapat mendeteksi virus Covid-19 pada OTG (orang tanpa gejala)," kata Paripurna, kepada KONTAN, Sabtu (26/12).

Baca Juga: GeNose C19, Alat Deteksi Covid-19 Paling Cepat dan Berbiaya Murah Besutan UGM

GeNose C19 memiliki sensor yang dapat mengidentifikasi Covid-19 lewat bau-bauan. Sensor pengindera tersebut untuk saat ini masih diimpor dari Jerman dan Jepang.

Sudah tentu, sensor tersebut mendapatkan sentuhan artificial intelligence (AI) atua kecerdasan buatan agar dapat menjalankan fungsinya. "Negara-negara seperti Finlandia, Jepang, Jerman, Singapura, dan Swedia sudah memproduksi alat-alat seperti GeNose C19," tutur Paripurna.

Untuk tingkat akurasi GeNose C19, berikut ini adalah sejumlah penjelasan dari tim ahli UGM.

1. Sensitivity 92%. Hal ini mengandung arti, GeNose C19 mampu membaca adanya tanda positif Covid-19 dengan peluang 92%.

2. Specificity 94%. Hal ini mengandung arti, GeNose C19 mampu membaca tanda negatif Covid-19 dengan peluang 94%.

3. Positive Predictive Value (PPV) 87%. Hal ini mengandung arti, bahwa yang benar-benar (true) positif dari hasil deteksi dengan GeNose C19, adalah 87 pasien dari 100, misalkan. Adapun 13 diantaranya false negative. Dengan kata lain, “Jika tes seseorang positif, berapa probabilitas dia betul-betul menderita penyakit?”.

4. Negative Predictive Value (NPV) 97% artinya bahwa yang benar-benar (true) negatif dari hasil deteksi dengan GeNose C19 adalah 97 pasien dari 100, misalkan. Adapun 3 diantaranya false negative. Bisa juga dikatakan, “Jika tes seseorang negatif, berapa probabilitas dia betul-betul tidak menderita penyakit?”.

5. Positive Likelihood Ratio 16.4x artinya akan lebih sering mendapati 16.4 kali pasien positif dibanding negatif.

6. Negative Likelihood Ratio 0,09x artinya akan mendapati 0,09 kali pasien lebih sering negatif dibanding positif. 

Kerjasama banyak pihak

Paripurna menegaskan, keberhasilan tim ahli UGM mengembangkan GeNose C19, merupakan hasil kerjasama dan dukungan dari banyak pihak. "Hal ini merupakan kata kunci, dari keberhasilan kolaborasi Universitas, dengan industri, pemerintah, masyarakat dan juga media untuk mendorong kami sehingga inovasi ini menjadi kenyataan," ucap Paripurna.

Di pihak lain, ketua tim pengembang GeNose, Prof. Kuwat Triyana juga memberikan apresiasi kepada banyak pihak yang telah mendukung UGM. “Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemkes, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui skrining cepat,” terangnya.

Kuwat berharap, meski jumlah GeNose masih terbatas, yakni 100 unit, namun dapat memberikan dampak maksimal. Dia bilang, satu alat GeNose mampu melakukan 120 tes per hari, sehingga dengan 100 alat dapat melakukan 12.000 tes per hari.

Baca Juga: Siap Produksi Alat Deteksi Covid-19 (GeNose C19) Secara Massal, UGM Cari Investor

Asumsi 120 tes per alat itu, lanjut Kuwat, berangkat dari estimasi bahwa setiap tes membutuhkan waktu 3 menit, termasuk pengambilan nafas. "Sehingga satu jam dapat mengetes 20 orang, dan bila efektif alat bekerja selama enam jam,” imbuh Kuwat.

Kuwat berharap, distribusi GeNose C19 tepat sasaran, semisal di bandara, stasiun kereta, dan tempat keramaian lainnya, termasuk juga rumahsakit. GeNose C19 juga selayaknya dimiliki BNPB yang dapat mendekati suspect Covid-19.

Pasca mendapatkan izin edar, GeNose C19 akan segera diproduksi massal. Tim berharap bila ada 10.000 unit, sesuai target akhir Februari 2021, maka Indonesia akan menunjukkan jumlah tes Covid-19 per hari terbanyak di dunia yakni 1,2 juta orang per hari.

Kata Kuwat, kelak biaya tes dengan GeNose C19 hanya sekitar Rp15.000 hingga Rp 25.000, alias sangat murah. Hasil tes juga sangat cepat, yakni hanya 2 menit dan tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya. Selain itu, pengambilan sampel tes berupa hembusan nafas juga dirasakan lebih nyaman dibanding usap atau swab.

Mewakili tim, Kuwat menyatakan terima kasih kepada semua pihak yang membantu pengembangan GeNose C19, yaitu Kemensesneg, BIN, Kemenristek/BRIN/LPDP, Kemendikbud, Kemenhub, Kemkes, KemenPUPR, Kemenlu, TNI AD dan Polri.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yuwono triatmojo
Terbaru