Kesehatan Umum

FOI sebut 27% balita di Indonesia kelaparan pada pagi hingga siang

Jumat, 30 Oktober 2020 | 20:05 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
FOI sebut 27% balita di Indonesia kelaparan pada pagi hingga siang


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemenuhan gizi anak usia dini atau balita perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat. Pasalnya, pemenuhan gizi sejak dini merupakan satu aspek yang akan mendukung anak memiliki masa depan yang lebih baik dan membangun generasi yang lebih maju.

Dalam sebuah keluarga, balita merupakan kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan karena pemenuhan gizi mereka sangat tergantung pada orang tua.

Kebutuhan gizi balita ini sering tergeser oleh kebutuhan keluarga lainnya yang sebetulnya bisa ditekan. Menurut penelitian Foodbank of Indonesia (FOI), ada sekitar 27% balita di Indonesia kelaparan pada pagi hingga siang harinya.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus di 14 kota. Sebanyak 27%  balita pergi ke sekolah karena tidak makan dari pagi sampai siang.  Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya mencapai 40%-50%.

Baca Juga: Tetap patuhi protokol kesehatan saat liburan dan pulang kampung di masa pandemi

Oleh karena itu, FOI mengajak media ikut secara aktif mengedukasi masyarakat terhadap isu kelaparan pada balita melalui aksi nyata dan edukasi kepada para bunda dan pengasuh anak-anak untuk membangun narasi pangan yang baik untuk balita. Pangan lokal bisa jadi pilihan yang baik demi masa depan Indonesia merdeka 100% dari rasa lapar.

FOI menggelar diskusi bekerjasama dengan Fakultas Teknik Pertanian UGM untuk membahas peran dan langkah apa yang harus dilakukan untuk mendorong pemenuhan gizi balita di Indonesia.

Hendro Utomo founder FOI mengatakan pihaknya terus bergerak memerangi kelaparan pada balita untuk mencapai impian Indonesia merdeka. Salah satunya mengajak semua pihak melakukan edukasi untuk mendukung pertumbuhan balita yang sehat. 

"Media bisa melakukan banyak hal untuk membantu anak-anak balita demi masa depan Indonesia dengan cara membangun kesadaran, mengangkat pentingnya narasi pangan yang baik untuk anak-anak dan mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita kita masih menderita kelaparan," kata Hendro dalam diskusi virtual, Kamis (29/10).

Hendro mengatakan, jika kelaparan terjadi dalam jangka panjang, terdapat kemungkinan gizi buruk yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada balita.

Angka kelaparan pada balita itu, lanjut Hendro, diperparah dengan adanya pandemi Covid-19, kemiskinan yang bertambah, angka pengangguran, dan tingkat pendidikan yang rendah.

Baca Juga: Atasi stunting, Ma'ruf Amin minta ego sektoral dihilangkan

Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan makanan sehat.

Sebelum pandemi Covid-19, Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018).

Peluang generasi yang hilang dalam situasi pandemi Covid-19 semakin terbuka,seperti yang terjadi pada rentang 1997 dan 1998 saat terjadinya krisis ekonomi. Tentunya masalah ini harus mendapat perhatian dari berbagai pihak tak terkecuali peran media.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA, Lenny N Rosalin mengungkapkan dalam hal tumbuh kembang anak, media juga berperan penting mengedukasi orang tua dan mengangkat isu pemenuhan hak anak atas pangan.

Baca Juga: Percepat penanganan stunting, pemerintah rancang perpres baru

“Mari kita bersinergi memerangi kelaparan balita, demi kepentingan terbaik bagi 80 juta anak Indonesia yang kita cintai. Mereka masa depan kita, mereka generasi penerus bangsa”, ungkap Lenny

Menurut Wartawan Kompas, Andreas Maryoto, media mempunyai peran menjadi motor untuk mengajak masyarakat memerangi kelaparan pada balita.

“Media mempunyai peran penting dalam masyarakat, sebagai fungsi pendidikan, media harus secara aktif melakukan edukasi untuk mewujudkan Indonesia Merdeka dari rasa lapar,” jelas Maryoto.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Yudho Winarto


Terbaru