CLOSE [X]

Efek Jangka Panjang Covid-19, Memicu Kelelahan Kronis

Senin, 03 Januari 2022 | 12:18 WIB   Penulis: Belladina Biananda
Efek Jangka Panjang Covid-19, Memicu Kelelahan Kronis

ILUSTRASI. Kelelahan kronis jadi salah satu efek Covid-19 jangka panjang.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada banyak efek kesehatan Covid-19 yang bisa Anda alami. Tidak hanya mengganggu sistem pernapasan, infeksi virus corona juga bisa membuat Anda merasakan kelelahan kronis. Tentu saja, hal itu dapat mengganggu kegiatan Anda sehari-hari.

Mengutip dari Financial Express, tak hanya kelelahan kronis yang Anda alami. Masih banyak kondisi lainnya yang juga muncul karena Covid-19. Mulai dari gagal jantung, kesulitan kognitif, tidur tidak nyenyak, hingga nyeri otot.

Di penelitian terbaru, para peneliti memperhatikan 41 pasien yang terdiri dari 23 wanita dan 18 pria. Usia partisipan penelitian adalah 23-69 tahun. Meski sudah terinfeksi Covid-19 setelah 3-15 bulan, para partisipan tetap mengalami sesak napas yang tidak jelas.

Partisipan penelitian ditanyai, apakah kelelahan yang dialami selama enam bulan sebelumnya mengurangi kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, partisipan juga ditanyai tentang frekuensi sakit tenggorokan, nyeri otot, sendi kaku, sakit kepala, dan lain-lain.

Baca Juga: Semakin Menyebar di Indonesia, Ketahui 10 Gejala Varian Omicron

Baca Juga: Tanpa Minum Obat! Ini 5 Cara Mengatasi Insomnia yang Bisa Anda Coba

Hasil penelitian menunjukkan, 46% partisipan mengalami sindrom kelelahan kronis. Selain itu, 88% partisipan menunjukkan pola pernapasan yang tidak normal. Banyak partisipan yang bernapas dengan tempo cepat dan mengambil napas pendek.

Tidak berhenti sampai di situ, partisipan juga memiliki jumlah CO2 yang rendah, baik saat beristirahat atau berolahraga. Artinya, mereka juga mengalami hiperventilasi kronis.

Hasil penelitian itu menunjukkan, penting bagi pasien Covid-19 yang sembuh untuk melakukan pengobatan lanjutan. Contohnya, latihan pernapasan.

Meski demikian, masih banyak kekurangan dalam penelitian tersebut sehingga dibutuhkan lebih banyak penelitian lagi untuk benar-benar mendapat hasil penelitian yang akurat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Belladina Biananda

Terbaru