Reporter: Hasbi Maulana | Editor: Hasbi Maulana
KONTAN.CO.ID - Dalam tujuh hari terakhir, peringatan campak muncul beruntun di akun resmi kesehatan dari tiga benua. Pada 20 April 2026, Departemen Kesehatan Rhode Island Amerika Serikat (AS) mengumumkan kasus pertama 2026. Pada hari yang sama, pemerintah Bangladesh meluncurkan vaksinasi measles-rubella darurat nasional.
Sehari sebelumnya, NSW Health Australia merilis peringatan kewaspadaan untuk Sydney, sementara KTLA Los Angeles memasang banner "California mencatat kasus campak terbanyak dalam 7 tahun".
Rangkaian unggahan itu bukan sekadar konten viral. Data Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) yang dirilis 4 Februari 2026 lalu sudah mencatat 1.031 kasus baru hanya dalam tiga pekan pertama 2026, naik 43 kali lipat dibanding periode sama tahun lalu.
Sepanjang 2025, kawasan Amerika mencatat 14.891 kasus konfirmasi dengan 29 kematian di 13 negara. Amerika Serikat menyumbang 2.242 kasus, Kanada 5.436 kasus, dan Meksiko 6.428 kasus. Angka itu naik 32 kali lipat dibanding 2024 yang hanya 466 kasus.
Baca Juga: Gejala GERD Kambuh yang Perlu Diketahui, Jangan Diabaikan!
Apa itu campak dan kenapa cepat menular
Menurut WHO, campak adalah penyakit airborne yang sangat menular, disebabkan virus yang menyebar lewat napas, batuk, atau bersin. Virus bisa tetap aktif di udara hingga dua jam, dan satu orang yang terinfeksi dapat menularkan ke 18 orang lain.
Gejalanya muncul 10–14 hari setelah terpapar. Awalnya demam tinggi, pilek, batuk, mata merah berair, dan bercak putih kecil di dalam pipi (Koplik spots) selama 4–7 hari. Ruam mulai hari ke-7 sampai 18, biasanya dari wajah dan leher atas, lalu menyebar ke tangan dan kaki dalam tiga hari dan bertahan 5–6 hari.
Komplikasi yang paling ditakuti bukan ruamnya, melainkan pneumonia, ensefalitis (radang otak), diare berat, infeksi telinga, hingga kebutaan. Pada 2024, WHO memperkirakan 95.000 orang meninggal karena campak, sebagian besar anak di bawah lima tahun yang belum divaksin.
Tidak ada obat spesifik untuk campak. Perawatan fokus pada hidrasi, nutrisi, dan vitamin A dosis tinggi untuk mencegah kebutaan. Pencegahan satu-satunya yang terbukti adalah vaksin.
Baca Juga: Waspada! 11 Juta Orang Meninggal Akibat Penyakit Neurologis Tiap Tahun
Kenapa ramai di media sosial
Bisa diduga, komentar membanjiri postingan di media sosial yang memuat beragam peringatan kewaspadaan tentang lonjakan campak. Seperti yang sudah-sudah komentar-komentar itu terbelah ke dalam dua kubu, pro-vaksinasi dan anti-vaksinasi.
Vaksin campak sebenarnya sudah ada sejak 1963, aman, dan harganya kurang dari US$ 1 per anak. Dua dosis memberikan perlindungan seumur hidup. Vaksinasi telah mencegah hampir 59 juta kematian antara 2000 dan 2024.
Masalahnya ada di cakupan. Data PAHO menunjukkan 78% penderita yang datanya lengkap belum pernah divaksin. Cakupan dosis pertama di kawasan baru 89%, dosis kedua 79%, jauh di bawah ambang 95% untuk herd immunity. PAHO mencatat sekitar 1,5 juta anak belum menerima satu dosis pun pada 2024.
Gavi dalam laporan ancaman 2026 menyebut misinformasi kesehatan kini sejajar dengan konflik dan perubahan iklim sebagai risiko global. Satu dari tiga dewasa muda mengaku lebih percaya media sosial ketimbang dokter soal vaksin anak.
Itu menjelaskan kenapa unggahan Your Local Epidemiologist pada 15 April yang menampilkan grafik 1.748 kasus AS 2026, atau carousel NSW Health pada 17 April, langsung dibanjiri komentar. Narasi kesehatan cepat berubah jadi perdebatan politik vaksin.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele, Ini Dampak Kesehatan dari Membakar Sampah Sembarangan
European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) dalam laporan pekan 21–27 Maret juga sudah memasukkan campak dalam daftar ancaman aktif di Eropa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













