Covid-19

Berapa saturasi oksigen normal? Ini penjelasan dan cara mengukurnya

Kamis, 22 Juli 2021 | 09:17 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Berapa saturasi oksigen normal? Ini penjelasan dan cara mengukurnya

ILUSTRASI. Mengukur saturasi oksigen menggunakan oksimeter agar bisa memantau perkembangan kadar oksigen dalam darah.

KONTAN.CO.ID - Saturasi oksigen normal adalah hal penting yang harus diketahui, terutama saat pandemi Covid-19. Sebab, penurunan saturasi oksigen banyak dialami oleh pasien Covid-19.

Lantas, apa itu saturasi oksigen dan berapa saturasi oksigen normal?

Saturasi oksigen adalah parameter penting untuk menentukan kadar oksigen di dalam darah. 

Dikutip dari News Medical Life Sciences, saturasi oksigen mengukur persentase oksihemoglobin (hemoglobin yang terikat oksigen) dalam darah, dan direpresentasikan sebagai saturasi oksigen arteri (SaO2) dan saturasi oksigen vena (SvO2). 

Saturasi oksigen normal SaO2 untuk orang dewasa adalah 95 – 100%. Nilai yang lebih rendah dari 90% dianggap saturasi oksigen rendah, yang membutuhkan pasokan oksigen eksternal.

Baca Juga: Ini upaya pemerintah penuhi kebutuhan oksigen dalam penanganan pandemi

Cara mengukur saturasi oksigen

Pengukuran saturasi oksigen sangat penting bagi pasien dengan kondisi kesehatan yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah. 

Kondisi tersebut antara lain penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, kanker paru-paru, anemia, gagal jantung, serangan jantung, dan gangguan kardiopulmoner lainnya.

Ada dua cara untuk mengukur saturasi oksigen yakni dengan oximeter dan analisis gas darah.  Metode yang paling umum untuk mengukur saturasi oksigen adalah oximeter. Oximeter adalah metode yang mudah dan tanpa rasa sakit. 

Alat pengukur saturasi oksigen ini berbentuk klip yang ditempatkan di ujung jari tangan atau daun telinga. Kemudian, saturasi oksigen diukur menggunakan sinar inframerah yang diserap oleh darah. 

Sementara, analisis gas darah adalah cara lain untuk mengukur saturasi oksigen dengan mengukur tingkat oksigen dan karbon dioksida dalam darah. Hasil analisis gas darah lebih akurat dibandingkan oximeter karena dilakukan di rumah sakit dan dikerjakan oleh tenaga medis profesional. 

Untuk mengukur saturasi oksigen, darah dapat dikumpulkan dari pergelangan tangan (analisis gas darah arteri) atau daun telinga (analisis gas darah kapiler). 

Analisis gas darah terutama digunakan untuk menentukan apakah paru-paru berfungsi penuh untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara efektif.

Baca Juga: Penderita Covid-19 tak lagi menularkan virus saat isolasi mandiri, jika...

Apa yang terjadi ketika saturasi oksigen turun?

Saturasi oksigen yang lebih rendah dari normal didefinisikan sebagai hipoksemia. Hipoksemia dapat diakibatkan oleh komplikasi kardiopulmoner, sleep apnea, obat-obatan tertentu, dan berada di ketinggian. 

Gejala hipoksemia yang paling umum termasuk sakit kepala, detak jantung cepat, batuk, sesak napas, napas berbunyi, kebingungan, dan kebiruan pada kulit dan selaput lendir (sianosis).

Sianosis adalah kondisi patologis yang ditandai dengan saturasi oksigen yang sangat rendah. Ada dua jenis sianosis yakni sianosis sentral dan sianosis perifer. Pada sianosis sentral, tingkat saturasi oksigen turun di bawah 85%, yang menyebabkan munculnya rona kebiruan yang terlihat di seluruh kulit dan mukosa. 

Pada sianosis perifer, yang umumnya terjadi karena peningkatan pengambilan oksigen oleh jaringan perifer, rona kebiruan hanya muncul pada bagian tubuh perifer, seperti tangan dan kaki. 

Penyebab paling umum dari sianosis perifer termasuk stasis vena atau paparan dingin yang ekstrim.

Baca Juga: Cara membedakan gejala Covid-19 akibat virus corona varian Wuhan, Beta, Delta

Bagaimana cara meningkatkan saturasi oksigen yang rendah?

Pada penurunan saturasi oksigen normal di titik kritis, harus ditangani dengan tambahan oksigen eksternal. Namun, untuk kondisi ringan hingga sedang, ada cara alami untuk meningkatkan tingkat saturasi oksigen darah. 

Misalnya, latihan fisik setiap hari dapat meningkatkan kapasitas paru-paru untuk pertukaran gas dan mencegah hipoksemia. 

Namun, penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai rutinitas olahraga atau menerapkan perubahan dalam rutinitas olahraga sehari-hari. Makan makanan yang sehat dan seimbang juga dapat membantu meningkatkan saturasi oksigen darah. 

Sebab, kekurangan zat besi adalah salah satu penyebab utama saturasi oksigen rendah. Makan makanan yang kaya zat besi, seperti daging, ikan, kacang merah, lentil, dan kacang mete, dapat membantu.

Selanjutnya: Kapan penderita Covid-19 tak lagi menularkan virus saat isolasi mandiri?

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Virdita Ratriani
Terbaru