kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Banyak risiko kesehatan di pesawat, ini tips sehat selama terbang


Jumat, 06 Maret 2020 / 08:32 WIB
ILUSTRASI. Banyak orang merasa tidak begitu aman untuk masuk pesawat dan menempuh perjalanan ribuan meter di atas permukaan bumi


Sumber: Kompas.com | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak orang merasa tidak begitu aman untuk masuk pesawat dan menempuh perjalanan ribuan meter di atas permukaan bumi. Namun, pesawat terbang adalah salah satu moda transportasi yang paling aman. Tetapi bagaimana dengan kondisi di dalam pesawat?

Berikut sejumlah masalah kesehatan yang sering terjadi di pesawat, khususnya pada penerbangan jarak jauh. Pesawat terbang terkenal sebagai tempat berkembang biak bakteri. Namun penilaian ini bisa jadi tidak adil.

Meskipun pesawat terbang berkontribusi pada penyebaran epidemi, penularan penyakit lebih disebabkan oleh perpindahan orang dari satu negara ke negara lain. Tidak ada bukti bahwa ketika seseorang berada di dalam pesawat, bahaya terkena infeksi lebih tinggi daripada ketika misalnya berdiri di antrian kontrol keamanan.

Baca Juga: Lagi musim hujan, cegah virus flu dengan cara sederhana ini

Risiko infeksi saat terbang tidaklah lebih tinggi daripada infeksi di rata-rata gedung perkantoran. Menurut WHO, udara dalam pesawat diganti sebanyak 20 hingga 30 kali dalam satu jam dengan cara menyedot udara luar yang segar ke dalam pesawat. Udara yang jenuh kemudian didaur ulang.

Di sebagian besar pesawat modern, udara bahkan melewati filter HEPA. Filter-filter ini sangat baik sehingga bisa menyaring virus dan bakteri.

Tidak ditemukan virus influenza di pesawat

Dalam sebuah penelitian pada tahun 2018, peneliti mengumpulkan hampir 230 sampel udara dan sampel usapan permukaan bagian dalam pesawat pada 10 penerbangan. Dalam analisis selanjutnya, tidak ada virus flu yang ditemukan.

Padahal sampel itu diambil dari penerbangan yang berlangsung di tengah musim flu. Namun bila Anda duduk di sebelah penumpang yang sakit, jika ada orang yang batuk dan bersin, risiko terinfeksi sama tingginya dengan di bus atau mobil.

Baca Juga: Bikin cemas! Lebih dari 6.700 penumpang yang masuk ke China menunjukkan gejala corona

Jika ingin melindungi diri sendiri, selalu bawa disinfektan di tas tangan. Sebelum makan atau minum sesuatu, Anda harus menyeka tangan dan meja lipat dengan disinfektan.

Jika Anda pilek dan ingin melindungi orang lain, Anda bisa memakai masker wajah. Masker ini menangkap cairan yang terlontar ketika batuk atau bersin. Masker juga dapat membuat orang yang duduk di sebelah Anda merasa aman.

Yang lebih baik lagi: orang yang berisiko tinggi menularkan infeksi harus menunda penerbangan mereka. Maskapai juga diperbolehkan untuk membatalkan penerbangan bagi orang yang mengidap penyakit menular akut.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×