Tips Sehat

Tekanan darah tinggi, apakah bisa turun dengan olahraga?

Jumat, 24 Januari 2020 | 11:21 WIB Sumber: Kompas.com
Tekanan darah tinggi, apakah bisa turun dengan olahraga?

ILUSTRASI. Hanya sekitar setengah dari orang yang punya tekanan darah tinggi yang mengendalikannya.

Jantung yang kuat dan lentur, serta pembuluh darah yang sehat membantu kita menjaga tekanan darah normal. Nah, latihan olahraga akan banyak membantu mewujudkan hal itu. Latihan aerobik, seperti bersepeda dan berlari dapat mengurangi tekanan darah kita hingga 10 mmHg, kata Creswell. Itu sama dengan menelan beberapa jenis obat.

Latihan kekuatan juga dapat membantu mengurangi tekanan darah tinggi sekitar 3 - 6 mmHg, ucapnya. Dan, tidak ada kata terlambat untuk membuat perbedaan yang signifikan.

Dalam studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam jurnal Blood Pressure, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang kurang gerak, bisa mengurangi tekanan darah mereka  rata-rata 3,9% sistolik dan 4,5% diastolik ketika mereka mulai mengikuti rutinitas latihan kardio rutin.

Baca Juga: Generasi milenial sudah mulai menghadapi masalah tekanan darah tinggi

Agar mendapat hasil terbaik, American College of Cardiology dan American Heart Association merekomendasikan untuk melakukan sesi latihan selama 40 menit pada tingkat sedang hingga berat setiap minggu. Kelas spin, bersepeda di pagi hari, atau joging setelah bekerja akan membantu menyelesaikan masalah. Hal itu juga merupakan alasan yang baik untuk pergi ke luar, setidaknya sekali atau dua kali selama seminggu dan pada akhir pekan.

Terlalu sulit untuk membagi waktu dalam jumlah banyak? Kita masih dapat menjaga tingkat tekanan darah tetap sehat dengan melakukan aktivitas pendek selama 5 - 10 menit.

Pada sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Medicine & Science in Sports & Exercise, para peneliti memeriksa tingkat aktivitas dan kesehatan jantung lebih dari 1.500 pria dan wanita berusia 37 hingga 55 tahun dalam rentang waktu lima tahun. Mereka yang melakukan aktivitas pendek sekitar 28 menit setiap hari memiliki kemungkinan 31% lebih rendah mengalami tekanan darah tinggi daripada mereka yang jarang atau sedikit melakukannya.

Untuk setiap 10 menit tambahan aktivitas pendek, mereka mengurangi risiko sebesar 9%. Menambahkan beberapa bentuk pelatihan silang dan meditatif dapat sangat membantu jika kita sedang mengalami stres kronis.

Studi tahun 2017 yang meninjau dampak Tai Chi pada lebih dari 1.600 orang dewasa menemukan, mereka yang mempraktikkan bentuk meditasi dari olahraga moderat mengurangi tekanan darah sistolik rata-rata 15,5 mmHg dan tekanan diastolik rata-rata 10,7 mmHg dibandingkan mereka yang tidak berolahraga sama sekali. Jika tidak terbiasa dengan Tai Chi, maka yoga, pilates, dan berenang juga dianggap sebagai bentuk latihan silang meditatif.

Baca Juga: Sepanjang 2019, topik-topik kesehatan ini yang paling banyak dicari di Google

Seperti yang sudah kita dengar jutaan kali, kita tidak bisa berolahraga dengan pola makan yang buruk. Itu terutama berlaku untuk kesehatan jantung.

Terlalu banyak minuman beralkohol --melebihi batas dua minuman sehari untuk pria dan satu minuman untuk wanita-- terutama pesta alkohol, dapat meningkatkan tekanan darah kita, seperti halnya terlalu banyak garam jika kita terlalu sensitif terhadap natrium.

Menerapkan diet mediterania yang kaya akan buah-buahan dan sayuran, minyak zaitun, kacang-kacangan, ikan, biji-bijian serta makanan bukan olahan dan daging merah dapat membantu menurunkan tekanan darah diastolik, menurut penelitian. Kita bisa saja mendapati diri kita mengalami tekanan darah tinggi, terlepas dari kebiasaan diet dan olahraga kita.

Jika itu masalahnya, dokter dapat membantu kita menurunkannya dengan obat-obatan. Beberapa obat dapat mempengaruhi olahraga kita, jadi berhati-hatilah untuk menemukan obat dan dosis yang tepat dan paling cocok bagi kita, kata Creswell. "Ada berbagai obat tersedia, dan itu merupakan seni dan pengetahuan untuk menemukan obat yang tepat bagi setiap orang."

"Beta blocker menurunkan tekanan darah, detak jantung dan kapasitas olahraga, dan seringkali mengganggu atlet," tuturnya. Secara umum, atlet juga harus menghindari diuretik karena dapat menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan risiko penyakit terkait panas. "Penghambat ACE dan saluran kalsium mungkin pilihan yang paling ditentukan dalam populasi atletik," kata Creswell. (Gading Perkasa)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Apakah Olahraga Bisa Menurunkan Tekanan Darah?

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Wahyu Rahmawati


Terbaru