Penulis: Rezki Wening Hayuningtyas
KONTAN.CO.ID - Tekanan darah menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah. Lantas, tekanan darah normal berapa? Mengetahui angka tekanan darah dapat membantu Anda mengenali risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi sejak dini.
Menurut informasi Kementerian Kesehatan, tekanan darah normal umumnya berada di angka 120/80 mmHg. Angka pertama menunjukkan tekanan sistolik, yaitu tekanan ketika jantung berkontraksi untuk memompa darah. Sementara itu, angka kedua merupakan tekanan diastolik, yakni tekanan ketika jantung berelaksasi di antara detak jantung.
Tekanan darah yang terlalu tinggi dan tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari serangan jantung, stroke, hingga gangguan ginjal. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara berkala penting dilakukan, termasuk ketika Anda tidak merasakan keluhan tertentu.
Tekanan Darah Normal Berapa?
Berdasarkan klasifikasi JNC-VII yang dikutip dari laman Kemkes, tekanan darah dibagi menjadi beberapa kategori, mulai dari normal hingga hipertensi tahap 2.
Berikut klasifikasi tekanan darah yang perlu Anda ketahui:
- Normal: tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg.
- Prahipertensi: tekanan sistolik 120–139 mmHg atau diastolik 80–89 mmHg.
- Hipertensi tahap 1: tekanan sistolik 140–159 mmHg atau diastolik 90–99 mmHg.
- Hipertensi tahap 2: tekanan sistolik 160–179 mmHg atau diastolik 100–109 mmHg.
Klasifikasi tersebut mengacu pada pedoman JNC-VII. Dalam praktiknya, tekanan sistolik 180 mmHg atau lebih dan/atau tekanan diastolik 120 mmHg atau lebih juga perlu mendapat perhatian medis segera, terutama jika disertai gejala berat.
Perlu diperhatikan bahwa kategori tekanan darah ditentukan berdasarkan angka sistolik atau diastolik yang memenuhi kategori lebih tinggi. Jadi, jika salah satu angka berada di atas batas normal, hasil pengukuran tersebut tetap perlu diperhatikan.
Apa Itu Hipertensi?
Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada pada tingkat tinggi secara menetap. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih termasuk dalam batas hipertensi yang perlu diperhatikan.
Kondisi ini kerap tidak menimbulkan gejala khusus sehingga seseorang bisa saja mengalami hipertensi tanpa menyadarinya. Pemeriksaan tekanan darah menjadi cara penting untuk mengetahui kondisi tersebut.
Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat meningkatkan risiko komplikasi pada berbagai organ tubuh, seperti:
- Jantung: meningkatkan risiko penyakit jantung dan gagal jantung.
- Otak: meningkatkan risiko stroke.
- Ginjal: dapat menyebabkan gangguan fungsi hingga gagal ginjal.
- Mata: berpotensi merusak pembuluh darah retina dan mengganggu penglihatan.
- Pembuluh darah: dapat menyebabkan kerusakan dan gangguan aliran darah.
Semakin tinggi tekanan darah dan semakin lama kondisi tersebut tidak terkendali, semakin besar pula risiko kerusakan organ vital.
Apa Saja Penyebab Tekanan Darah Tinggi?
Penyebab hipertensi dapat dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang masih bisa dikendalikan melalui perubahan gaya hidup.
Faktor yang tidak dapat diubah meliputi riwayat hipertensi dalam keluarga dan pertambahan usia. Jenis kelamin juga berkaitan dengan pola risiko hipertensi pada kelompok usia tertentu.
Sementara itu, faktor yang dapat diubah antara lain:
- Pola makan yang tidak sehat, termasuk konsumsi garam berlebihan.
- Kurangnya aktivitas fisik.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Kebiasaan merokok.
- Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
- Stres yang tidak dikelola dengan baik.
- Kolesterol tinggi.
- Diabetes.
- Gangguan tidur berupa henti napas saat tidur.
Hipertensi juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, misalnya penyakit ginjal, kelainan pembuluh darah, atau efek penggunaan obat-obatan tertentu. Kondisi ini perlu diperiksa lebih lanjut oleh tenaga medis agar penanganannya sesuai dengan penyebab.
Baca Juga: Apa Itu Tramadol dan Hexymer? Kenali Fungsi dan Bahayanya
Kenali Gejala Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi sering disebut sebagai kondisi yang sulit dikenali karena tidak selalu menimbulkan keluhan. Seseorang bisa memiliki tekanan darah tinggi meskipun merasa sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa.
Beberapa keluhan yang dapat muncul meliputi sakit kepala, pusing, wajah memerah, telinga berdenging, mudah lelah, sesak napas, dan gangguan penglihatan. Namun, gejala-gejala tersebut tidak secara khusus menandakan hipertensi karena juga dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lain.
Sakit kepala hebat yang muncul mendadak, gangguan penglihatan tiba-tiba, mual atau muntah yang disertai gejala neurologis, serta keluhan lain yang berat perlu mendapatkan perhatian medis.
Apabila hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah 180/120 mmHg atau lebih, ulangi pengukuran setelah beristirahat sejenak. Jika angkanya tetap tinggi, segera hubungi tenaga medis. Jika kondisi tersebut disertai nyeri dada, sesak napas, kelemahan atau mati rasa mendadak, kebingungan, maupun gangguan penglihatan, segera cari pertolongan darurat.
Mimisan dan bercak darah pada mata juga tidak selalu disebabkan oleh hipertensi. Jika keluhan tersebut terjadi berulang atau disertai gejala lain, konsultasikan dengan tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya.
Bagaimana Cara Mengukur Tekanan Darah dengan Benar?
Pengukuran tekanan darah yang tepat membantu memperoleh hasil yang lebih akurat. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Duduk dan beristirahat setidaknya selama 5 menit sebelum pengukuran.
- Gunakan alat pengukur tekanan darah yang sesuai dengan ukuran lengan.
- Posisikan tubuh dalam keadaan duduk dengan punggung tersangga dan kaki menapak di lantai.
- Letakkan lengan di atas meja dengan posisi sejajar dengan jantung.
- Hindari berbicara selama pengukuran berlangsung.
- Lakukan pengukuran lebih dari sekali jika diperlukan dan catat hasilnya.
Diagnosis hipertensi umumnya tidak hanya ditentukan dari satu kali pengukuran. Tenaga medis dapat meminta pemeriksaan berulang pada waktu berbeda untuk memastikan apakah tekanan darah memang tinggi secara menetap.
Pemeriksaan tambahan, seperti tes darah, pemeriksaan urine, elektrokardiogram (EKG), atau pemeriksaan lain, mungkin diperlukan untuk menilai kondisi organ tubuh dan mencari kemungkinan penyebab hipertensi.
Cara Menjaga Tekanan Darah Tetap Normal
Menjaga tekanan darah dapat dimulai dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat secara konsisten. Langkah-langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko hipertensi:
- Batasi konsumsi garam. Kurangi makanan yang tinggi natrium dan perhatikan kandungan garam pada produk kemasan.
- Terapkan pola makan seimbang. Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, dan makanan bergizi dengan porsi yang sesuai.
- Berolahraga secara teratur. Pilih aktivitas fisik yang sesuai dengan kemampuan tubuh dan lakukan secara konsisten.
- Jaga berat badan. Upayakan berat badan yang sehat untuk membantu mengendalikan tekanan darah.
- Hindari rokok. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
- Batasi atau hindari alkohol. Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
- Kelola stres dan tidur yang cukup. Pertahankan kebiasaan istirahat yang baik serta cari cara sehat untuk mengelola stres.
- Periksa tekanan darah secara berkala. Pemantauan rutin membantu mendeteksi perubahan tekanan darah lebih awal.
Bagi orang yang telah didiagnosis hipertensi, perubahan gaya hidup mungkin perlu disertai penggunaan obat sesuai petunjuk dokter. Minumlah obat secara teratur dan jangan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dengan mengetahui klasifikasi tekanan darah dan menerapkan pola hidup sehat, Anda dapat mengambil langkah lebih awal untuk menjaga kesehatan jantung serta mengurangi risiko komplikasi akibat hipertensi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














