Stunting: Pengertian, dampak, dan cara mencegahnya

Rabu, 31 Maret 2021 | 16:45 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Stunting: Pengertian, dampak, dan cara mencegahnya

ILUSTRASI. Stunting: Pengertian, dampak, dan cara mencegahnya. WARTA KOTA/NUR ICHSAN

KONTAN.CO.ID -  Masalah stunting pada anak di Indonesia menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang masih perlu perhatian khusus. 

Stunting pada anak bisa mengganggu perkembangan mereka bahkan bisa meningkatkan resiko kematian pada anak. 

Melansir dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), stunting adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama. 

Stunting menyebabkan perkembangan otak serta tumbuh kembang terhambat. Anak yang menderita stunting umumnya bertubuh lebih pendek dari anak pada umumnya. 

Angka anak penderita stunting di Indonesia tergolong tinggi. Menurut hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), tahun 2019 angka stunting di Indonesia menurun sebanyak 27,67 persen. 

Meskipun menurun, angka tersebut masih di atas angka yang ditargetkan WHO yaitu 20 persen. 

Baca Juga: 8 Sekolah kedinasan ini bakal buka pendaftaran April 2021, ini daftarnya

Dampak dari stunting

Stunting menyebabkan beragam dampak buruk untuk anak baik dalam jangka pendek maupun panjang. 

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) membagikan informasi tentang stunting melalui Instagram-nya termasuk dampak dan cara pencegahan. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by PAUD Kemdikbud (@paudpedia)

Dampak dari stunting baik jangka pendek dan panjang diantaranya:

Jangka pendek
1. Sering merasa kesakitan bahkan kematian. 
2. Menghambat pertumbuhan syaraf anak sehingga fungsi kognitif menurun. 
3. Perkembangan motorik lebih lamban. 
4. Kesulitan dalam mengungkapkan bahasa ekspresif. 
5. Meningkatkan biaya kesehatan. 

Jangka panjang
1. Postur tubuh tidak optimal saat dewasa atau lebih pendek dibandingkan pada umumnya. 
2. Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya. 
3. Menurunnya kesehatan reproduksi. 
4. Kapasitas belajar dan performa kurang optimal saat sekolah atau produktivitas dan kapasitas kerja tidak optimal. 

Editor: Tiyas Septiana
Terbaru