​Pertusis atau batuk rejan: gejala, komplikasi, penularan, pencegahan, dan pengobatan

Rabu, 27 Oktober 2021 | 11:44 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
​Pertusis atau batuk rejan: gejala, komplikasi, penularan, pencegahan, dan pengobatan

ILUSTRASI. Seorang balita menangis saat imunisasi Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/pras/17.

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis. Gejala pertusis atau batuk rejan biasanya dimulai dengan pilek, hidung beringus, rasa lelah dan adakalanya demam parah.

Dirangkum dari laman Health.nsw.gov.au, gejala batuk rejan atau pertusis lantas berlanjut menjadi batuk diikuti dengan tarikan napas besar atau “whoop”. Sehingga batuk rejan atau pertusis juga seringkali disebut sebagai whooping cough

Adakalanya penderita muntah setelah batuk. Jika menyerang anak kecil, pertusis kemungkinan dapat menyebabkan gejala yang lebih parah seperti badan membiru atau berhenti bernapas ketika serangan batuk dan mungkin perlu dibawa ke rumah sakit.

Namun, bagi penderita yang sudah dewasa, pertusis bisa menimbulkan batuk hingga berminggu-minggu. 

Baca Juga: 5 Jenis vaksinasi sebelum menikah yang perlu dilakukan calon pengantin

Cara penularan pertusis atau batuk rejan 

Pertusis ditularkan kepada orang lain melalui droplet atau cairan yang menetes saat penderita mengalami batuk atau bersin. Jika tidak diobati, penderita pertusis dapat menularkan batuk rejan kepada orang lain sampai tiga minggu sejak terjadinya batuk. 

Sementara, itu masa inkubasi pertusis biasanya sekitar tujuh hari sampai sepuluh hari, bahkan bisa sampai tiga minggu sejak seseorang terpapar pertusis baru muncul gejala. 

Dikutip dari laman State of Victoria, Department of Health and Human Services, komplikasi pertusis atau batuk rejan antara lain kejang, radang paru-paru, koma, radang otak, kerusakan otak permanen dan kerusakan paru-paru jangka pajang. 

Sekitar satu dari setiap 200 anak berumur di bawah enam bulan yang terkena batuk kejang akan meninggal.

Baca Juga: Pandemi Covid-19 mengacaukan program imunisasi rutin anak di seluruh dunia

Editor: Virdita Ratriani
Terbaru