kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45932,69   4,34   0.47%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Papeda Jadi Google Doodle, Cek Manfaat Papeda untuk Kesehatan


Jumat, 20 Oktober 2023 / 10:14 WIB
Papeda Jadi Google Doodle, Cek Manfaat Papeda untuk Kesehatan
ILUSTRASI. Papeda Jadi Google Doodle, Cek Manfaat Papeda untuk Kesehatan


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

Manfaat Papeda - Jakarta. Papeda menjadi gambar Google doodle hari ini, Jumat 20 Oktober 2023. Berikut manfaat papeda untuk kesehatan yang penting diketahui.

Ada yang spesial pada Google doodle hari ini, yakni tampilan gambar papeda. Selain gambar papeda, Google Doodle juga menyertakan tulisan "Merayakan Papeda".

Dilansir dari Kompas.com, papeda adalah salah satu makanan khas Indonesia dari Maluku dan Papua. Hidangan dari sagu itu digambarkan disajikan bersama dengan ikan, lengkap dengan kuah kuning, dan rempah cabai di sebelahnya.

Papeda adalah olahan dari sagu yang menjadi sumber makanan pokok warga Papua dan Maluku. Makanan ini menjadi pengganti nasi bagi warga di sana.

Lalu, kenapa Google Doodle menampilkan papeda?

Baca Juga: Sejarah Papeda dan Cara Membuat Papeda di Rumah dengan Mudah

Alasan Google Doodle tampilkan papeda

Menurut Google, tampila papeda pada Google Doodle untuk memperingati ditetapkannya papeda sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh UNESCO. "Pada hari ini (20 Oktober) di tahun 2015, Papeda secara terbuka dinyatakan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia," tulis Google.

Makanan olahan sagu itu disebut tak hanya menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia Timur, tetapi juga mendapat popularitas di dunia.

Selama ini, sagu menjadi komoditas ekspor Indonesia yang dapat diolah menjadi papeda. Tiap satu pohon sagu bisa menghasilkan hampir 150 hingga 300 kilogram pati sagu. Tanaman ini juga menyediakan nutrisi seimbang, yakni protein, karbohidrat, kalsium, dan zat besi.

Dilansir dari laman Kemendikbud, papeda terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO pada 2015 silam. Papeda terdaftar di antara 594 karya budaya lainnya dan masuk ke dalam kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.

Manfaat papeda untuk kesehatan

Dikutip dari Indonesia.go.id, masyarakat Papua, Maluku dan sekitarnya menjadikan papeda sebagai makanan pokok mereka. Proses mengolah sagu menjadi bubur papeda membutuhkan perkakas belanga.

Lalu, saat air mendidih dituangkan ke dalam saripati sagu sambil diaduk sampai mengental dan terjadi perubahan warna, yaitu dari putih menjadi bening keabu-abuan. Pengadukan dalam proses ini harus searah sampai tekstur benar-benar merata menjadi bubur lem.

Sepasang sumpit atau dua garpu khusus digunakan untuk mengambil dan menyantap papeda. Caranya dengan menggulung-gulung hingga bubur papeda melingkari sumpit atau garpu, lalu diletakkan di piring dan siap disantap bersama kuah kuning. Tak perlu dikunyah, menyantap papeda dapat langsung diseruput dan ditelan.

Warisan kuliner asal Papua dan Maluku yang satu ini memiliki berbagai manfaat yang berguna bagi kesehatan tubuh. Selain kaya serat, papeda juga rendah kolestrol dan bernutrisi.

Papeda memiliki nutrisi esensial seperti protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, dan lain-lain. Bahkan, rutin mengkonsumsi papeda dapat meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh, serta mengurangi resiko terjadinya kanker usus, hingga membersihkan paru-paru.

Selain papeda, sagu juga dapat diolah menjadi berbagai makanan lezat dan bergizi. Secara tradisi, sagu dikenal di daerah-daerah penghasil sagu, khususnya di Inanwatan atau Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan sebagian besar wilayah Indonesia Timur lainnya. Sagu menghasilkan beberapa produk makanan seperti sagu lempeng, sagu bakar kelapa, dan sagu bakar apatar.

Sagu merupakan tepung yang didapat dari batang pohon sagu atau Metroxylon sagu Rottb yang bentuk pohonnya menyerupai pohon palma. Pohon sagu kerap tumbuh di tepian sungai atau wilayah lain dengan kadar air yang cukup tinggi seperti rawa dan semacamnya. Tinggi pohon sagu mencapai 30 meter. Para petani dapat menghasilkan 150 hingga 300 kilogram tepung sagu dari satu pohon sagu.

Masyarakat Indonesia Timur biasa mencari sendiri pohon-pohon sagu ke hutan dan pelosok rawa-rawa demi mendapatkan tepung sagu berkualitas baik. Mereka yang tinggal di pelosok biasa memproduksi sagu sendiri. Sedangkan mereka yang tinggal di daerah perkotaan mendapat sagu di pasar-pasar dekat pemukiman.

Masyarakat Maluku, Papua, dan sekitarnya menilai, selain merupakan bahan yang mudah ditemukan, cara mengolah sagu juga begitu mudah. Sehingga, mereka lebih menyukai sagu sebagai makanan pokok, dibanding beras.

Sagu yang kaya manfaat dan kandungan gizi yang cukup lengkap, seharusnya dapat dijadikan makanan pokok nasional pengganti beras atau nasi. Sagu dapat menjadi alternatif cadangan.

Itulah manfaat papeda untuk kesehatan. Bagi masyarakat Papua, papeda bukan hanya makanan, tapi juga pesan perdamaian karena papeda adalah Papua penuh damai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×