Mengenal koyo KB sebagai alat kontrasepsi, ini penjelasan dokter

Rabu, 17 November 2021 | 10:01 WIB Sumber: Kompas.com
Mengenal koyo KB sebagai alat kontrasepsi, ini penjelasan dokter

ILUSTRASI. Mengenal koyo KB sebagai alat kontrasepsi, ini penjelasan dokter

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Metode keluarga berencana (KB) dengan alat kontrasepsi baru, yakni dengan koyo tengah viral di dunia maya. Lalu bagaimana penjelasan para dokter tentang alat kontrasepsi koyo KB?

Koyo KB menjadi viral di internet setelah ada unggahan video mengenai alat kontrasepsi berupa koyo KB, viral di media sosial TikTok. Postingan tersebut diunggah oleh akun TikTok ini pada 13 November 2021. “Udah pernah denger tentang koyo KB belum?” tulis akun tersebut.

Dalam sebuah video ditunjukkan cara penggunaan koyo KB sebagai alat kontrasepsi yang ditempelkan pada kulit seseorang. “Koyo KB itu kandungannya sama dengan pil KB kombinasi, yaitu estrogen dan progesterone,” ujar akun tersebut.

Dalam unggahan juga dijelaskan bahwa koyo KB sebagai alat kontrasepsi bisa ditempel pada bagian lengan bagian atas, punggung, perut atau pantat. Postingan koyo KB sebagai alat kontrasepsi tersebut sudah disaksikan sebanyak 1,7 juta kali.

Baca juga: Banyak menyerang usia muda, waspadai tanda dan gejala penyakit stroke ini

Respons warganet terhadap koyo KB sebagai alat kontrasepsi

Beragam komentar muncul terkait postingan koyo KB sebagai alat kontrasepsi tersebut. “Aman ngk si.. tkt sekali kebobolan.. anak masi bayi,” tulis akun dengan nama akun Endduuttguee. “Ada efek samping nya ga pake ini?” tanya akun Anitt.

Penjelasan ahli tentang koyo KB sebagai alat kontrasepsi

Terkait unggahan koyo KB sebagai alat kontrasepsi tersebut, Guru Besar Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati menjelaskan bahwa koyo KB, suntik atau pil KB sama kegunaannya, yaitu sebagai alat kontrasepsi. Termasuk juga kandungan bahan-bahan di dalamnya.

Perbedaan dari alat kontrasepsi koyo KB, suntik atau pil tersebut adalah pada cara pemakaiannya. “Secara umum isinya sama yaitu hormon estrogen dan progestin,” kata Zullies saat dihubungi Kompas.com, Minggu (14/11/2021).

Pihaknya mengatakan, koyo dalam istilah farmasi disebut dengan patch yakni bentuk sediaan transdermal di mana obat akan masuk ke dalam tubuh melalui kulit dan nantinya akan masuk ke pembuluh darah. Karena kandungannya sama, Zullies mengatakan, keamanan dan efektivitasnya koyo KB sama dengan alat kontrasepsi lainnya.

Dengan catatan, penggunaan koyo KB sebagai alat kontrasepsi sesuai dengan aturannya.

Kenyamanan penggunaan

Zullies juga mengatakan, dari segi kenyamanan penggunaan, sejumlah orang ada yang lebih memilih memakai koyo KB yang ditempel dan diganti seminggu sekali (tergantung aturan pakainya) jika dibandingkan harus minum pil KB setiap hari.

Dia memastikan, selama pemakaian koyo KB tepat dan melekat dengan kuat maka hormon akan dilepaskan pelan-pelan dan masuk melalui kulit serta bisa memberikan efek kontrasepsi. Meski demikian dia mengingatkan, pemilihan jenis kontrasepsi untuk pertama kalinya sebaiknya berkonsultasi dengan dokter ahli.

Hal ini karena harus disesuaikan dengan kondisi pengguna atau akseptor KB. “Jadi penggunaan pertama, termasuk pil KB, adalah dengan resep dokter. Untuk selanjutnya dapat dibeli di apotek dan perlu berkonsultasi dengan apoteker terkait dengan penggunaannya,” ujar dia.

Lebih lanjut ia mengingatkan penggunaan koyo KB perlu berhati-hati. Sebab meskipun bentuknya seperti obat luar yang hanya ditempelkan, namun bisa bersifat sistemik karena obat akan masuk ke pembuluh darah dan akan beredar ke seluruh tubuh. “Jika ada orang-orang yang dikontraindikasikan terhadap kontrasepsi hormonal, juga akan dikontraindikasikan (tidak boleh menggunakan) dengan bentuk koyo ini,” jelasnya.

Itulah penjelasan dokter tentang koyo KB sebagai alat kontrasepsi. Jadi, sebelum memilih alat kontrasepsi baik pil KB, suntik maupun koyo KB, konsultasi dahulu dengan dokter.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Video Viral Kontrasepsi dengan Koyo KB, Apa Itu? Ini Penjelasan Ahli",


Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Rizal Setyo Nugroho

 

Selanjutnya: Kemendag targetkan 1 juta pedagang pasar rakyat terdigitalisasi

Editor: Adi Wikanto
Terbaru