Kasus melonjak, ini beda demam dengue dan COVID-19

Selasa, 15 Juni 2021 | 23:25 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Kasus melonjak, ini beda demam dengue dan COVID-19

KONTAN.CO.ID - Dengue alias demam berdarah dan COVID-19 harus Anda waspadai. Sebab, kedua penyakit ini memiliki gejala yang sama: demam. Meski gejala demam terjadi di antara kedua penyakit itu, polanya berbeda.

Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, KPTI menjelaskan, pola demam antara dengue dan COVID-19 berbeda. 

Pada demam dengue, fase demam terjadi akibat diremia. Diremia artinya di dalam darah ada virus yang beredar.

Demam seperti ini sulit diturunkan oleh obat karena penyebabnya ada terus dalam darah sampai biasanya kurang lebih tiga hari.

"Jika pasien minum obat penurun panas, maka demam akan turun namun tidak lama kemudian demam akan naik lagi. Jadi demam pada demam berdarah itu sulit diturunkan dengan obat turun panas," kata dr. Erni. 

Baca Juga: Varian baru mulai merajalela, ini 3 kegiatan yang bangkitkan klaster Covid-19

"Pasien akan banyak berkeringat karena efek samping dari obat turun panas tersebut dia berusaha menurunkan panas tapi di satu sisi penyebab demamnya ada terus di dalam darah," ujarnya, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan.

Berbeda dengan demam COVID-19, yang bisa disertai dengan gejala respirasi yang lebih dominan, seperti sesak napas, batuk, susah menelan anosmia atau kondisi saat seseorang tidak bisa mencium bau.

"Bedanya dengan COVID-19 adalah pada dengue pola demamnya mendadak dan langsung tinggi," sebut dr. Erni.

Masa inkubasi

Kemudian, sebelum seseorang mengalami demam dengue, akan melalui masa inkubasi terlebih dahulu. Jadi, penularan dengue tidak terjadi seketika tetapi ada masa inkubasinya selama 5-10 hari.

Baca Juga: Kasus harian COVID-19 hampir tembus 10.000, 3M kunci utama putus penularan corona

Editor: S.S. Kurniawan
Terbaru