Inilah Komplikasi Akibat Campak, Waspadai Ciri-Ciri Campak Berikut

Senin, 23 Januari 2023 | 05:00 WIB   Reporter: Adi Wikanto
Inilah Komplikasi Akibat Campak, Waspadai Ciri-Ciri Campak Berikut


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah daerah di Indonesia menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Berikut akibat penyakit campak yang harus diwaspadai beserta ciri-ciri campak.

Campak adalah penyakit yang umumnya terjadi pada anak-anak. Ciri-ciri penyakit campak antara lain timbul bintik-bintik merah di kulit dan demam tinggi.

Biasanya, penyakit campak bisa sembuh sendiri. Namun, kita tidak boleh meremehkan penyakit campak.

Campak akan sangat berbahaya jika terjadi komplikasi. Dampaknya dapat menyebabkan diare berat hingga kematian. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine, MKM mengatakan yang dikhawatirkan dari campak adalah komplikasi.

“Komplikasi campak ini umumnya berat, kalau campak mengenai anak yang gizinya jelek maka anak ini bisa langsung disertai komplikasi seperti diare berat, pneumonia, radang paru, radang otak, infeksi di selaput matanya sampai menimbulkan kebutaan. Ini yang kita khawatirkan,” ujar dr. Yosephine pada konferensi pers perkembangan kasus campak, Jumat (20/1).

Baca Juga: Tersebar di 12 Provinsi, Ini Daftar 55 KLB Cempaka di Indonesia

Secara umum, ciri-ciri campak dapat berupa demam, batuk pilek, mata berair, lalu disertai timbulnya bintik-bintik kemerahan di kulit. Biasanya muncul 2 sampai 4 hari setelah dari Ciri-ciri awal.

Campak ini disebabkan oleh virus campak dan penularannya melalui droplet, percikan ludah saat batuk, bersin, bicara, atau bisa melalui cairan hidung. Dan campak ini salah satu penyakit yang sangat menular.

Pencegahan campak hanya bisa diperoleh dari imunisasi sehingga imunisasi sesuai jadwalnya harus dilakukan supaya anak-anak terhindar dari campak. Keadaan di Indonesia 2 tahun terakhir atau hampir 3 tahun sejak terdampak dari pandemi COVID-19 membuat implikasi yang tidak baik terhadap cakupan imunisasi.

Cakupan imunisasi terlihat turun secara signifikan karena pandemi COVID-19 yang menyebabkan banyak anak tidak diimunisasi. Indonesia sepanjang Tahun 2022 sudah ada 12 provinsi yang mengeluarkan pernyataan kejadian luar biasa (KLB).

Suatu daerah disebut KLB kalau ada minimal 2 kasus campak di daerah tersebut yang sudah confirm secara laboratorium dan kasus ini memiliki hubungan epidemiologi.

“Selama tahun 2022 yang lalu jumlah kasus campak yang ada di negara kita memang cukup banyak lebih dari 3.341 laporan kasus. Kasus – kasus ini menyebar di 223 kabupaten/kota di 31 provinsi,” ucap dr. Prima.

Jumlah kasus ini didapat selama kurun waktu 1 tahun dari Januari sampai Desember 2022. Jika dibandingkan dengan tahun 2021 ada peningkatan yang cukup signifikan kurang lebih 32 kali lipat.

Penyebabnya karena sudah 2 tahun berturut-turut Indonesia tidak bisa mencapai target untuk pelayanan imunisasi rutin. Sehingga banyak anak-anak yang tidak diimunisasi rutin akibat COVID-19.

Pemerintah melakukan penguatan surveilans campak dan rubella. Jadi kasus yang diduga campak rubella, yaitu pasien yang mengalami demam dan ruam-ruam, harus diambil spesimennya dan diperiksa di laboratorium.

Jadi penguatan surveilans dilakukan dengan segera menemukan kasus suspek campak rubella dan segera melaporkan supaya pasien dapat penanganan segera dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Pemerintah menargetkan eliminasi campak rubella tahun 2023 secepatnya. Eliminasi itu adalah suatu keadaan di mana kita bisa menekan sedemikian rupa angka dari kesakitan akibat campak ini, sehingga tentu tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat lagi. Tapi dengan adanya kenaikan kasus campak di negara kita tentu mimpi untuk mencapai eliminasi ini menjadi agak sulit untuk bisa merealisasikannya tahun ini,” ungkap dr. Prima.

KLB Campak di Indonesia

Dilansir dari Kompas.com, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, laporan KLB campak di Indonesia terjadi di 31 provinsi. "Jumlah kejadiannya sampai dengan Desember 2022 dilaporkan dari 31 provinsi. Pasiennya hampir di semua umur," ujarnya, dikutip dari Antara, Kamis (19/1/2023).

KLB campak di Indonesia dari Pulau Sumatera hingga Papua. Meningkatnya campak hingga menyebabkan KLB campak di Indonesia disebabkan penurunan tingkat imunisasi saat pandemi. "Karena selama pandemi cakupan (vaksinasi) campak yang rendah," ujar Nadia kepada Kompas.com, Selasa (10/1/2023).

Baca Juga: Manfaat Imunisasi Rutin untuk Kesehatan Anak dan Dampak Jika Anak Tidak Diimunisasi

Lantas, apa saja Ciri-ciri campak yang perlu diwaspadai? Apa obat sakit campak pada anak?

Diberitakan Kontan.co.id sebelumnya, campak atau rubeola adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus. Meski bisa dicegah dengan vaksin, masih ada kemungkinan seseorang mengalami penyakit ini.

Ciri-ciri campak

Ciri-ciri campak muncul 10 hingga 14 hari setelah tubuh terinfeksi virus. Mengutip dari Mayo Clinic, ada beberapa ciri-ciri campak yang biasanya terjadi.

Ciri-ciri campak tersebut meliputi demam, batuk kering, hidung berair, sakit tenggorokan, dan mata bengkak atau konjungtivitis.

Selama dua hingga tiga minggu, ciri-ciri campak terus berkembang dalam beberapa fase. Setelah melewati masa inkubasi 10 hingga 14 hari, ciri-ciri campak itu akan berlangsung selama dua hingga tiga hari.

Setelah itu, ciri-ciri campak yang muncul adalah ruam yang terdiri dari bintik merah. Ruam muncul pertama kali di wajah, kemudian menjalar ke paha dan kaki. Pada tahap ini, seseorang bisa mengalami demam tinggi.

Seseorang yang menderita campak bisa menularkan penyakit ke orang lain. Mayo Clinic menyebutkan, masa penularan adalah delapan hari, yaitu empat hari sebelum dan sesudah ciri-ciri campak muncul.

Penyebab campak

Selain karena belum mendapat vaksin, ada faktor lain yang membuat seseorang lebih risiko terkena campak. Berikut penyebab campak.

Pertama, penyebab campak meningkat saat Anda mengunjungi daerah lain di mana penyakit campak sedang menyebar luas.

Kedua, tubuh yang kekurangan vitamin A juga meningkatkan risiko munculnya Ciri-ciri campak. Jadi, jangan lupa untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin A.

Obat sakit campak pada anak

Dilansir dari website RS Mitra Keluarga, obat sakit campak pada anak-anak tergantung pada gejala. Selain itu, obat sakit campak pada anak juga memperhatikan usia, dan kesehatan anak secara menyeluruh, hingga seberapa parah kondisinya.

Tujuan pemberian obat sakit campak pada anak untuk membantu meringankan gejala. Oleh karena itu, WHO, tidak ada obat khusus untuk sakit campak pada anak.

Namun, komplikasi parah dari campak dapat dikurangi melalui perawatan suportif, meliputi:

  • Perbanyak istirahat. Usahakan menghindari kontak dengan lingkungan sekitar untuk mencegah penularannya.
  • Pastikan asupan makanan bergizi seimbang, seperti buah dan sayuran yang banyak mengandung vitamin sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh.
  • Minum banyak air putih untuk memastikan tidak kekurangan cairan. WHO menganjurkan pasien campak meminum larutan rehidrasi oral yang bertujuan menggantikan cairan dan elemen penting lainnya yang hilang melalui diare atau muntah.
  • Konsumsi obat pereda nyeri.
  • Semua anak yang didiagnosis campak disarankan untuk menerima dua dosis suplemen vitamin A, yang diberikan dalam interval 24 jam. Tujuannya untuk  mengembalikan kadar vitamin A yang rendah selama campak yang terjadi bahkan pada anak-anak yang bergizi baik. Suplemen vitamin A juga telah terbukti mengurangi jumlah kematian akibat campak.

Itulah komplikasi akibat penyakit campak yang harus diwaspadai serta ciri-ciri campak pada anak. Segera hubungi dokter jika anak mengalami campak.

Selanjutnya: Epidemiolog Sebut Kecil Peluang Kasus Covid-19 di China Meledak Lagi, Ini Sebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru