Manfaat Imunisasi Rutin untuk Kesehatan Anak dan Dampak Jika Anak Tidak Diimunisasi

Senin, 21 November 2022 | 16:16 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Manfaat Imunisasi Rutin untuk Kesehatan Anak dan Dampak Jika Anak Tidak Diimunisasi

ILUSTRASI. Manfaat Imunisasi Rutin untuk Kesehatan Anak dan Dampak Jika Anak Tidak Diimunisasi. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/aww.

KONTAN.CO.ID -  Beberapa waktu lalu, kasus anak umur 7 tahun terkena polio di Kabupaten Pidie, Aceh, menggemparkan masyarakat. 

Pasalnya, penyakit yang sudah lama tidak muncul ini kembali ditemukan di Indonesia. Padahal penyakit ini sebenarnya bisa dicegah jika anak diberi vaksin dengan benar. 

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bergerak cepat untuk mengatasi kasus polio ini. 

Pemerintah Daerah (Pemda) setempat telah menetapkan peristiwa tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), sesuai dengan administrasi yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Baca Juga: 20 Pekerjaan yang Banyak Dibutuhkan di Masa Depan Versi WEF, Tertarik Menggelutinya?

Manfaat imunisasi untuk anak

Bersumber dari Instagram Kemenkes, polio merupakan penyakit menular tang tidak bisa disembuhkan. Pengobatan untuk penyakit ini hanya mampu membantu mengurangi gejalanya saja. 

Satu-satunya cara untuk mencegah penyakit Polio serta penyebarannya adalah dengan memberikan imunisasi atau vaksin polio. 

Tidak hanya imunisasi ini, berbagai jenis imunisasi dasar lengkap juga penting diberikan untuk anak. 

Imunisasi tersebut membawa banyak manfaat baik untuk kesehatan dan tumbuh kembang buah hati. 

Bersumber dari situs Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Barat, berikut ini beragam manfaat imunisasi. 

  • Terbentuknya pertahanan seumur hidup
  • Biaya imunisasi yang murah sehingga dapat mencegah pembengkakan pengobatan penyakit
  • Tidak berbahaya namun efektif menekan potensi komplikasi penyakit
  • Meningkatkan kualitas hidup anak
  • Meningkatkan produktivitas di masa depan

Dampak jika anak tidak diimunisasi

Imunisasi lengkap sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan anak. Jika tidak lengkap atau bahkan tidak diimunisasi, akan muncul beragam dampak negatif bagi anak. 

Merangkum dari situs UNICEF, berikut ini 7 dampak buruk jika anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap. 

  • Lebih rentan terkena sakit berat

Tahukah Anda, anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi?

Beberapa jenis penyakit tersebut adalah seperti hepatitis, TBC, batuk rejan, dan difteri yang bisa dicegah dengan imunisasi. 

Selain itu, anak yang tidak diimunisasi juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan lain. Contohnya ketika anak terkena campak, dia akan sering mengalami komplikasi seperti diare, pneumonia, kebutaan, dan malnutrisi.

Baca Juga: Tema dan Logo Perigatan Hari Guru Nasional 2022 serta Kumpulan Twibbon HGN 2022

  • Anggota keluarga lain bisa mengalami sakit berat

Tahukah Anda, anak yang sedang sakit dan tidak menerima imunisasi lebih berisiko menulari orang lain di sekitarnya? Begitu pula sebaliknya, anak yang tidak diimunisasi lebih berisiko tertular penyakit.

Setiap kali seseorang sakit, maka anak, atau cucu dan orang tua, juga berisiko terinfeksi penyakit tersebut. 

Orang dewasa merupakan sumber infeksi utama pertusis (batuk rejan) pada balita, penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi. 

Imunisasi tidak hanya melindungi diri anak, tetapi juga orang tua dan anggota keluarga lain atau orang-orang di lingkungan sekitar yang mungkin kesulitan mendapatkan akses vaksinasi.

Orang dewasa juga tetap mungkin tertular penyakit dan mengalami gejala yang ringan namun dengan komplikasi yang fatal.

Ibu hamil yang tertular virus rubela, misalnya, sangat berisiko melahirkan anak dengan berbagai bentuk komplikasi bawaan, disebut dengan sindrom rubela kongenital (SRK). 

Selain itu, ibu hamil yang tertular virus campak berisiko mengalami keguguran.

  • Menyebabkan wabah penyakit

Kasus-kasus penyakit menular seperti polio di kalangan kelompok rentan dapat berkembang luas menjadi wabah di masyarakat. Karena hal ini lah, pemerintah saat ini masih memberikan imunisasi polio kepada anak. 

Jika jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi bertambah banyak, maka penyakit yang selama bertahun-tahun ini berhasil dicegah dapat kembali mewabah.

  • Biaya pengobatan membengkak

Suatu penyakit tidak hanya berdampak langsung terhadap penderita dan keluarganya, tetapi juga terhadap masyarakat secara keseluruhan. 

Suatu penyakit dan komplikasinya dapat membutuhkan biaya tinggi dan perawatan yang memakan waktu.

Contohnya seperti pasien difteri. Pasien membutuhkan rawat inap segera di fasilitas kesehatan yang mampu menangani penyakit ini besertakomplikasi-komplikasinya. Pasien akan ditempatkan di ruang isolasi dan diberikan obat-obatan khusus. 

Penyakit campak rata-rata memerlukan sekitar 15 hari perawatan, termasuk rata-rata kehilangan 5-6 hari kerja atau sekolah bagi karyawan atau pelajar. 

Orang dewasa yang terkena hepatitis rata-rata tidak bisa bekerja selama satu bulan. Sedangkan bayi yang terlahir dengan SRK, ia akan membutuhkan pengobatan seumur hidup dan bantuan serta terapi medis yang berbiaya tinggi.

  • Penurunan kualitas hidup

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki risiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas tetap. 

Contohnya, campak yang dapat menyebabkan kebutaan. Ada pula kelumpuhan sebagai gejala terberat yang dikaitkan dengan polio karena dapat menimbulkan disabilitas permanen dan kematian.

Baca Juga: Daftar Minuman Ini Bisa Bikin Asam Lambung Naik, Wajib Dihindari Penderita Maag

  • Risiko penurunan harapan hidup

Vaksinasi yang tidak lengkap menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Sebaliknya, imunisasi lengkap hingga anak berusia lima tahun dapat meningkatkan angka harapan hidup. 

Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap lebih mungkin tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya pun menurun.

Di Papua Barat, dari tahun 2010 - 2017, angka harapan hidup meningkat berkat peran penting dari peningkatan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi lengkap.

Di Brazil, antara tahun 1940 dan 1998, angka harapan hidup saat lahir naik sekitar 30 tahun. Hal ini utamanya disebabkan oleh menurunnya angka kematian  akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi.

  • Akses perjalanan dan sekolah terbatas

Beberapa negara mensyaratkan imunisasi lengkap bagi warga asing yang hendak berkunjung. Jika tidak diimunisasi, anak dapat kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di negara-negara tersebut.

Selain itu, sudah semakin banyak sekolah yang mencantumkan ‘imunisasi lengkap’ sebagai syarat pendaftaran. Tujuannya adalah agar semua anak dan warga sekolah terlindung dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin dan dengan demikian anak dapat menikmati hak belajarnya secara penuh di sekolah.

Selanjutnya: Hati-Hati! Kurang Tidur Malam Bisa Memicu Penyakit Jantung dan Stroke

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru