Ini gejala dan bahaya badai sitokin yang dialami pasien Covid-19 dari dokter RSUI

Senin, 13 September 2021 | 16:16 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Ini gejala dan bahaya badai sitokin yang dialami pasien Covid-19 dari dokter RSUI

ILUSTRASI. Ini gejala dan bahaya badai sitokin yang dialami pasien Covid-19 dari dokter RSUI.

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Badai sitokin merupakan salah satu gejala yang timbul pada pasien terkonfirmasi Covid-19. Gejala ini cukup berat sehingga perlu diwaspadai. 

Apa itu badai sitokin? Menurut dr. Adityo Susilo, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), badai sitokin adalah kondisi dimana tubuh melepaskan zat-zat tertentu dalam jumlah yang sangat besar untuk menghadapi serangan eksternal, yaitu serangan bakteri atau virus.

Efek dari respon yang berlebihan tersebut menyebabkan suatu peradangan yang berpotensi merusak fungsi organ-organ internal tubuh. Perlu diingat jika tidak semua pasien Covid akan mengalami badai sitokin. 

“Namun, bila penderita COVID-19 mengalami badai sitokin, itu artinya mereka sedang mengalami fase inflamasi yang berat, sehingga perlu kita waspadai,” ujar dr Adityo dalam seminar edukasi daring yang bertopik “Badai Sitokin, Ancaman Pasien COVID-19”, dikutip dari laman UI

Gejala umum yang terjadi pada pasien yang mengalami badai sitokin adalah mengalami demam, sakit, dan tentunya penurunan saturasi oksigen.

Baca Juga: 6 Kampus terbaik Indonesia yang lulusannya cepat dapat kerja, no 1 bukan UGM atau UI

Gejala dan bahaya badai sitokin

Ada beberapa gejala badai sitokin yang perlu diketahui masyarakat, yang pertama adalah saturasi oksigen. Saturasi oksigen menjadi parameter dasar apakah pasien sedang mengalami badai sitokin atau tidak.

Saat periode badai sitokin, saturasi oksigen pasien akan menurun hingga di bawah 90%. Artinya, bila pasien tidak mengalami demam hebat dan pernafasan masih baik, maka pasien tersebut belum dikategorikan badai sitokin. 

Kemudian peradangan yang hebat dan tidak terkontrol adalah salah satu pemicu yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih besar ketika badai sitokin sedang berlangsung pada pasien. 

Peristiwa ini kemudian akan menyebabkan demam dan penurunan fungsi paru-paru. Perkembangan saturasi oksigen pasien Covid-19 perlu dipantau menggunakan oksimeter.

Hal ini penting dilakukan karena pada kondisi ini bisa saja pasien mengalami happy hypoxia. Happy hypoxia adalah kondisi penurunan kadar oksigen di dalam tubuh yang tidak menimbulkan gejala. 

Editor: Tiyas Septiana
Terbaru