Penyakit Menular

Gejala Covid-19 Happy Hypoxia, ini peringatan epidemiolog

Sabtu, 29 Agustus 2020 | 08:41 WIB Sumber: Kompas.com
Gejala Covid-19 Happy Hypoxia, ini peringatan epidemiolog

ILUSTRASI. A cat is pictured near a mural promoting awareness of the coronavirus disease (COVID-19), at an alley of a village in Bekasi, on the outskirts of Jakarta, Indonesia, July 28, 2020. REUTERS/Willy Kurniawan TPX IMAGES OF THE DAY

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat seseorang terinfeksi virus corona, ada sejumlah gejala yang muncul. Mulai dari demam, batuk, sesak napas hingga kehilangan indra penciuman dan perasa. Namun baru-baru ini juga diketahui gejala yang diidentifikasi dari penderita Covid-19, yaitu happy hypoxia syndrome.  

Melansir pemberitaan Kompas.com (12/8/2020), happy hypoxia merupakan kondisi pasien mengalami tingkat saturasi oksigen dalam darah rendah yang bisa menyebabkan ketidaksadaran hingga kematian. 

Namun, pada saat itu pasien tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernapas, atau tanda lain yang mengisyaratkan terinfeksi virus corona.  Seseorang akan terlihat seperti biasa, tidak mengalami gangguan kondisi fisik, bisa juga berkomunikasi. Padahal gejala ini bisa mengakibatkan hilangnya kesadaran, bahkan kematian. 

Baca Juga: Jumlah infeksi virus corona terus meningkat, ini protokol isolasi mandiri

Sebagaimana terjadi pada pasien Covid-19 di Banyumas, Jawa Tengah yang mengalami gejala happy hypoxia dan berakhir meninggal dunia. 
Deteksi dini 

Melihat gejala yang tidak terlihat itu, epidemiolog Dicky Budiman menyebutnya sebagai gejala yang menyulitkan deteksi dini kasus Covid-19. "Ini adalah salah satu dari sekian banyak gejala yang karakternya unik untuk Covid-19. Ini juga salah satu yang relatif mempersulit deteksi dini," kata Dicky, Jumat (28/8/2020). 

Baca Juga: Indonesia jadi kelinci percobaan vaksin corona dari China? Ini kata Erick Thohir

"Karena dari tampilan kadang menipu, pasien terlihat biasa saja tidak ada keluhan, tapi ketika diperiksa lebih detail salah satunya dengan oksimeter, saturasi oksigennya dia menurun," tambah Dicky. 

Menurutnya gejala happy hypoxia pada kasus Covid-19 sudah ditemukan para peneliti beberapa bulan yang lalu, jadi bukan sesuatu yang relatif baru.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie


Terbaru