Penyakit Menular

Covid-19: Kebijakan anti-masker Swedia dinilai gagal

Kamis, 22 Oktober 2020 | 06:55 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Covid-19: Kebijakan anti-masker Swedia dinilai gagal

ILUSTRASI. Kebijakan anti-masker Swedia terhadap penanganan virus corona dinilai gagal. TT News Agency/Henrik Montgomery via REUTERS 


KONTAN.CO.ID - BARCELONA. Penanganan pemerintah Swedia terhadap wabah virus Covid-19 sempat mendapatkan pujian internasional. Bahkan, negara ini disebut-sebut sebagai negara paling santai dalam menangani virus corona. Pasalnya, Swedia tidak memberlakukan lockdown dan sempat mencatatkan angka penambahan kasus infeksi corona yang menurun. 

Tak hanya itu, ahli epidemiologi top di negara Nordik itu juga tidak memandang masker sebagai cara efektif, dan bersikeras lockdown penuh tidak akan mencegah kematian di ruang perawatan. Namun warga Swedia dengan taat selalu melakukan dua hal mendasar, yaitu cuci tangan dan social distancing. 

Namun, kini, pendekatan Swedia terhadap penanganan virus corona dinilai gagal. Melansir Yahoonews, tingkat penularan virus corona di Swedia semakin meningkat, meskipun peningkatannya tidak seperti di negara-negara ekstrim seperti Spanyol, Prancis, Belgia dan Inggris.

Bahkan, Perdana Menteri Swedia sendiri baru-baru ini memohon kepada warga negaranya untuk berhenti memeluk dan mencium teman-teman mereka dan kaum muda agar berhenti berpesta. Ini merupakan faktor-faktor yang disalahkan atas kenaikan kasus Covid-19 di negara itu menjadi lebih dari 600 per hari. Angka tersebut naik dari sekitar 100 kasus pada akhir musim panas.

Baca Juga: Donald Trump kurang dipercaya di negara-negara maju dibanding Xi Jinping

Yahoonews mewartakan, negara yang berukuran lebih besar dari California tetapi dengan hanya 10 juta penduduk, Swedia adalah negara pemberontak yang berubah menjadi eksperimen laboratorium yang diamati secara internasional dalam pengendalian Covid-19. 

Pada hari-hari awal pandemi, pemerintah Swedia dikecam karena ceroboh, bahkan oleh Trump - karena menolak penguncian dan tetap membuka hampir semua hal, bisnis, restoran, dan sekolah (kecuali untuk siswa yang berusia lebih dari 15 tahun, yang kelasnya berlangsung online). Tetapi, jumlah kasus infeksi yang rendah membuat Swedia sempat dipuji.

Baca Juga: Valentino Rossi dinyatakan positif Covid-19!

Badan Kesehatan Masyarakat Swedia telah membantah bahwa mereka pernah berusaha mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) dengan membiarkan sebagian besar masyarakatnya jatuh sakit (meskipun pernyataan tersebut bertentangan dalam email badan tersebut), tetapi mencoba untuk menyeimbangkan dampak pada rumah sakit dengan kekhawatiran tentang ekonomi. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie


Terbaru