Ciptakan Generasi Bebas Stunting dengan Penuhi Asupan Protein Hewani

Kamis, 08 September 2022 | 09:54 WIB   Reporter: Ika Puspitasari
Ciptakan Generasi Bebas Stunting dengan Penuhi Asupan Protein Hewani

ILUSTRASI. Kader PKK mengukur tinggi badan anak di Posyandu Angger 2, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin . Kader PKK melakukan pendeteksian dini dan memberikan nutrisi untuk mengejar target Jabar Zero New Stunting


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memenuhi kebutuhan asupan protein hewani sangat penting untuk mencegah stunting. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, asupan protein hewani dapat mencegah stunting karena kaya akan asam amino esensial (AAE) yang berperan penting pada proses tumbuh kembang anak, khususnya dalam 1.000 HPK.

Baca Juga: Dorong Pengubahan Perilaku Cegah Stunting, Kemensos Gandeng Tanoto Foundation

1.000 HPK merupakan fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin pada saat kehamilan sampai dengan anak berusia 2 tahun.

Beberapa contoh jenis makanan yang mengandung protein hewani meliputi daging, telur, dan ikan. Piprim bilang, orangtua harus memenuhi kebutuhan protein hewani sejak hamil. Protein hewani juga harus masuk dalam komposisi makanan pendamping ASI (MPASI) dengan takaran yang sesuai saat anak mulai menginjak usia 6 bulan.

"Dalam penelitian disebutkan, anak stunting memiliki peredaran asam amino esensial yang lebih rendah. Maka, harus diperhatikan komposisi makanan untuk memenuhi gizi anak," ungkapnya ketika dihubungi Kontan, Minggu (4/9).

Ahli Gizi Masyarakat, DR.dr. Tan Shot Yen, M.hum menyampaikan hal senada. Tan mengungkapkan, tak hanya memiliki asam amino esensial lengkap, protein hewani juga kaya akan zat besi bersifat heme yang artinya mudah diserap oleh tubuh.

Lebih lanjut, Tan menjelaskan, pendekatan spesifik terkait pemenuhan gizi mulai ibu hamil dapat mencegah stunting. Kemudian, memastikan inisiasi menyusui dini (IMD) setelah melahirkan, pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan, dan dilanjutkan dengan pemberian MPASI yang memenuhi syarat, salah satunya protein hewani.

Baca Juga: Pentingnya Asupan Protein Hewani untuk Wujudkan Generasi Bebas Stunting

Ahli Gizi dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH menambahkan, makanan tambahan protein hewani bisa dipenuhi dengan mengonsumsi satu butir telur setiap hari pada anak usia 6-23 bulan. Sementara untuk anak usia 12-23 bulan bisa diberikan satu kotak susu UHT setiap harinya.

Protein hewani mengandung insulin-like growth factor-1 (IGF-1) yang dapat meningkatkan tinggi badan. Fika menyebutkan, tubuh membutuhkan sebanyak 20 jenis asam amino, di mana 9 di antaranya adalah asam amino esensial yang harus didapatkan dari makanan.

"Nah, protein hewani memiliki asam amino esensial yang lebih banyak dibandingkan dengan protein nabati," ujar Fika dalam acara edukasi wartawan bertajuk 'Penuhi Asupan Protein Hewani, Sambut Generasi Bebas Stunting' yang digelar oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) beberapa waktu lalu.

Dampak Jangka Panjang Stunting

Stunting menjadi masalah krusial bangsa ini lantaran mempunyai efek jangka panjang yang berkontribusi pada produktivitas ekonomi dan pertumbuhan negara. Piprim menegaskan, anak-anak stunting memiliki daya tahan tubuh yang buruk serta intellectual quotient (IQ) yang rendah. Sehingga, dapat menurunkan kualitas generasi di negeri ini.

Tan menerangkan, stunting bukan hanya soal anak tidak bisa tumbuh tinggi secara optimal seperti seharusnya kalau dia tidak stunting. Semisal, ketika menginjak dewasa, anak yang stunting bisa saja memiliki tinggi badan mencapai 155 cm dimana terlihat wajar. Padahal, jika dia tidak stunting dapat mencapai tinggi badan 175 cm.

Baca Juga: Orang Tua Harus Tahu, Ini Dia 5 Cara Mencegah Stunting pada Anak

"Yang repot, anak stunting kecerdasannya terganggu. Sebab, di usia 2 tahun otak sudah dibentuk 80%. Orang stunting IQ-nya tidak lebih dari 90, dan risiko penyakit tidak menular tinggi, seperti obesitas, hipertensi, diabetes, sindroma metabolik, bahkan kanker," papar Tan pada Kontan.

Untuk anak yang baru menginjak usia satu tahun, solusi untuk mengejar ketertinggalan tumbuh kembang dapat dilakukan dengan memberikan kecukupan asupan protein hewani. Selain masalah gizi, beberapa hal yang bisa mencegah stunting meliputi ketersediaan layanan kesehatan, sanitasi, edukasi, dan literasi bagi orangtua serta calon orangtua.

Piprim sependapat, edukasi untuk masyarakat terkait pentingnya asupan protein hewani harus dilakukan untuk menekan angka stunting di Indonesia.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menuliskan, angka kasus stunting di Indonesia masih tinggi sehingga upaya penurunan kasus stunting begitu penting. Menurutnya, orangtua harus memberikan gizi seimbang dengan memberikan ASI dan komposisi MPASI yang sesuai dalam 24 bulan pertama kehidupan.

"Tidak cukup empat sehat lima sempurna, tetapi diperhatikan juga ukurannya, berapa banyak protein, kabohidrat, air, lemak, vitamin, dan mineral yang masuk," katanya dalam unggahan akun Instagram @dokterhasto yang dikutip Kontan.

Hasto menyatakan, percepatan penurunan tingkat stunting juga bisa dilakukan dari hulu, yakni edukasi sebelum menikah, merencanakan kehamilan, dan pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan. Dengan demikian, ia optimistis tingkat stunting Indonesia bisa menyusut jadi 14% pada 2024 mendatang sesuai dengan imbauan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Mengutip hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan, angka prevalensi atau tingkat penyebaran stunting di Indonesia pada 2021 masih cukup tinggi yaitu sebesar 24,4%.

 

Guna mempercepat penurunan stunting di Indonesia butuh keterlibatan dari berbagai pihak, tak terkecuali keterlibatan sektor swasta secara aktif. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk merupakan salah satu perusahaan yang turut mendukung program pemerintah untuk memangkas kasus stunting di Indonesia.

 

Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Rachmat Indrajaya berkomitmen JPFA bakal terus konsisten dalam menjalankan program edukatif dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga keseimbangan gizi, demi terwujudnya generasi Indonesia unggul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru