kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Cegukan pada bayi tidaklah berbahaya, bahkan baik untuk perkembangan otak


Senin, 18 November 2019 / 14:17 WIB
Cegukan pada bayi tidaklah berbahaya, bahkan baik untuk perkembangan otak
ILUSTRASI. Cegukan pada bayi tidaklah berbahaya, bahkan baik untuk perkembangan otak.

Sumber: Grid | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat bayi mengalami cegukan mungkin banyak dari para orang tua yang khawatir dan berusaha untuk menghentikannya. Tenang, cegukan pada bayi tidaklah berbahaya.

Bahkan menurut penelitian, cegukan pada bayi punya manfaat tersendiri, salah satunya untuk perkembangan otak. Tetapi para peneliti menyarankan, orangtua sebaiknya membiarkan itu terjadi karena rupanya cegukan memiliki manfaat kesehatan yang mengejutkan.

Baca Juga: Apakah penderita diabetes boleh makan telur?

Sebenarnya, bayi mulai mengalami cegukan dari di dalam rahim. Perkiraan menunjukkan, bahwa pada bayi prematur menghabiskan 1% dari waktu mereka untuk cegukan atau hingga 15 menit sehari.

Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Neurophysiology, menunjukkan bahwa cegukan mendukung perkembangan otak pada bayi baru lahir.

Cegukan memicu aliran sinyal otak yang bisa membantu bayi belajar mengatur pernapasan. "Alasan mengapa kita cegukan tidak sepenuhnya jelas, tetapi mungkin ada alasan perkembangan, mengingat bahwa janin dan bayi baru lahir begitu sering cegukan," kata Kimberley Whitehead, ketua penulis penelitian dan rekan penelitian di University College London.

Para peneliti menganalisis aktivitas otak pada 13 bayi baru lahir di bangsal neonatal. Tim menggunakan electroencephalography (EEG) untuk mengamati otak setiap bayi dan menempatkan sensor gerakan pada torso mereka untuk merekam cegukan mereka.

Baca Juga: Bayi baru lahir wajibkah didaftarkan ikut BPJS Kesehatan? Ini jawabannya

Mereka menemukan, cegukan menyebabkan kontraksi otot diafragma. Perubahan fisik ini memicu gelombang otak di korteks otak. Serangkaian cegukan menyebabkan gelombang besar, yang kemudian memungkinkan otak untuk menghubungkan suara "hic" dengan kontraksi otot diafragma.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×