Cara mengembalikan penciuman pasca sembuh dari Covid-19, jangan panik ya

Jumat, 01 Oktober 2021 | 09:30 WIB Sumber: Kompas.com
Cara mengembalikan penciuman pasca sembuh dari Covid-19, jangan panik ya

ILUSTRASI. Salah satu gejala yang paling sering dialami oleh penderita Covid-19 adalah anosmia atau kehilangan penciuman.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu gejala yang paling sering dialami oleh penderita Covid-19 adalah anosmia atau kehilangan penciuman. 

Memang, ada sebagian orang akan pulih sendiri dalam waktu yang singkat. Namun sebagian yang lain membutuhkan waktu yang lebih lama. 
Mengapa terjadi anosmia? Anosmia terjadi akibat infeksi Covid-19 biasanya akibat ada saraf yang terluka ketika sakit atau mengalami inflamasi. 

Pada sebagian kasus, anosmia setelah sembuh dari Covid-19 terjadi akibat sinusitis kronis dan polip hidung. Sebagian kasus lainnya menunjukkan gejala yang sedikit berbeda, yaitu mencium bau namun sering tercium bau yang tidak biasa. 

Bau yang biasa dicium bisa jadi terasa lebih menyengat atau justru tercium seperti bau tengik. Kondisi ini dinamakan parosmia. 

Baik parosmia ataupun anosmia bisa terjadi permanen atau hanya sementara. Tidak ada perawatan khusus yang benar-benar bisa mengatasi anosmia dengan cepat. Namun, jika Anda ingin mempercepat penyembuhannya, ada beberapa cara mengembalikan penciuman yang bisa Anda lakukan di rumah. 

Baca Juga: Lebih cepat, penyintas Covid-19 kini bisa suntik vaksin sebulan setelah sembuh

Latihan penciuman 

Dilansir dari Healthline, pelatihan penciuman bisa membantu mempercepat kembalinya indra penciuman. Anda perlu mencium empat macam wangi yang kuat dalam sehari. 

Pastikan masing-masing aroma mewakili wangi bunga, buah, rempah, dan resin. Setiap aroma dicium selama 20 menit. Ulangi langkah ini tiga kali sehari selama 6 minggu. 

Beberapa aroma kuat yang umumnya ada di rumah dan bisa Anda hirup antara lain, kopi, mawar, lemon, eukaliptus, vanilla, cengkeh, dan mint. Selain dalam bentuk segar, Anda juga bisa menghirupnya dalam bentuk minyak atsiri. 

Baca Juga: Kabar baik, kasus dan kematian global akibat COVID-19 terus turun

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru