kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Cara cegah & tangani TBC yang benar


Senin, 27 Februari 2017 / 13:58 WIB
Cara cegah & tangani TBC yang benar

Reporter: Yulianita Daiva | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Tuberculosis (TBC) tentu sudah tak awam lagi bagi banyak orang. Pasalnya, TBC adalah penyakit menular, yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Lalu bagaimana mencegah dan menangani penyakit TBC?

Pakar kesehatan Ari Widodo yang pernah menjabat sebagai Deputy Medical Director di SOS International Indonesia, menjelaskan, TBC menjadi masalah serius karena penularannya sangat mudah. Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TBC terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap mencapai 305.000 jiwa.


Upaya untuk menghilangkan penyakit ini terus dilakukan baik secara lokal maupun global. "Namun, pengobatan penyakit ini menemui banyak jalan buntu, dan malah membuat bakteri semakin resisten dan multiresisten," terang Ari.

TBC adalah penyakit yang ditimbulkan karena adanya infeksi akut atau kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis menyebabkan reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru, yang meliputi penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag dan pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa yang dapat membentuk tuberkel. Proses pembentukan dinding ini membantu membatasi penyebaran bakteri tuberkulosis di dalam paru-paru.

Penyakit TBC biasanya menyerang orang yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah dan orang lanjut usia yang mempunyai riwayat TBC. Tetapi ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC, yaitu pengidap HIV, diabetes, dan orang yang sedang menjalani kemoterapi, orang yang kekurangan gizi, pecandu narkoba, para perokok, dan para medis yang sering berhubungan dengan penderita TBC.

Penderita yang terserang penyakit ini biasanya akan mengalami demam tetapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, yang biasanya dirasakan pada malam hari. Serangan demam seperti influenza akan datang dan pergi. Gejala lain yang ditunjukkan penderita TBC adalah nafsu makan serta berat badan yang menurun, batuk selama lebih dari tiga hari, perasaan tidak enak, dan lemah.

Selain gejala tersebut, ada gejala tambahan yang biasanya sering dijumpai, antara lain:

  1. Penderita mengalami sesak nafas dan juga rasa nyeri di bagian dada.
  2. Penderita akan berkeringat di malam hari tetapi tanpa ada penyebab yang jelas.
  3. Penurunan berat badan juga bisa terjadi akibat nafsu makan yang hilang.
  4. Saat penderita sedang batuk atau berdahak, biasanya disertai dengan darah.
  5. Penderita mengalami demam atau panas dingin selama sebulan lebih.
  6. Urin menjadi berwarna merah atau keruh. Tetapi gejala ini biasanya muncul pada kondisi yang lebih parah.

Menurut Ari, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit TBC, antara lain:

  1. Selalu memperhatikan kebersihan rumah.
  2. Melakukan imunisasi BCG sebanyak satu kali ketika bayi berumur dua bulan.
  3. Saat menemukan tanda-tanda TBC segera periksakan ke puskesmas.
  4. Mengurangi kontak dengan penderita penyakit TBC aktif.
  5. Menjaga standar hidup yang baik, dengan makanan yang bergizi, linkungan yang sehat, dan berolahraga.

Namun, jika sudah terdiagnosis menderita penyakit TBC, maka yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya, antara lain:

  1. Menjalani pengobatan TBC selama beberapa minggu tanpa bepergian kemanapun.
  2. Jangan tidur sekamar dengan orang lain walaupun anggota keluarga. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit TBC.
  3. Jangan meludah di sembarang tempat.
  4. Menggunakan masker mulut.
  5. Menghindari udara yang dingin.
  6. Jangan melakukan kebiasaan berbagi barang milik pribadi dengan orang lain.
  7. Mengonsumsi jenis makanan yang mengandung karbohidrat serta protein yang tinggi.

Ari mengingatkan, jika kamu merasakan gejala tersebut, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Karena semakin cepat di tangani, maka tingkat kesembuhan TBC juga semakin tinggi.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×