Covid-19

Bergejala Covid-19 tapi takut periksa? Coba simak kata epidemiolog

Rabu, 19 Mei 2021 | 11:31 WIB Sumber: Kompas.com
Bergejala Covid-19 tapi takut periksa? Coba simak kata epidemiolog

ILUSTRASI. Orang-orang takut jika dinyatakan positif Covid-19, ruang geraknya dibatasi atau mendapat stigma dari masyarakat. KONTAN/Baihaki/10/02/2021

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga saat ini, kasus Covid-19 di Indonesia masih terus melonjak. Data Satgas Covid-19 per Selasa,18 Mei 2021, total kasus Covid-19 di Tanah Air saat ini mencapai 1.748.230 kasus. Sementara, angka kematian akibat Covid-19 mencapai 48.477. Sejauh ini tercatat ada 87.514 kasus aktif Covid-19. 

Kasus aktif ialah pasien yang masih terkonfirmasi positif virus corona, dan menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi mandiri. Meski penularan terus meluas dan orang-orang mulai menunjukkan gejala, tetapi masih banyak pihak yang tidak mau memeriksakan diri. 

Orang-orang takut jika dinyatakan positif Covid-19, ruang geraknya dibatasi atau mendapat stigma dari masyarakat. 

Berikut ini beberapa twit tentang takut periksa meski bergejala:

Mengapa lebih baik periksa saat bergejala Covid-19? 

Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman mengungkapkan menurut proyeksinya saat ini masyarakat Indonesia yang terinfeksi mencapai lebih dari 80% dan mereka memilih untuk mengobati secara mandiri di rumah. 

"Lebih dari 80% sekarang proyeksinya, mengobati sendiri di rumah," ujar Dicky pada Kompas.com, baru-baru ini.

Baca Juga: Banyak anak yang terinfeksi Covid-19 tanpa demam, simak penjelasannya

Padahal, menurutnya masyarakat perlu memeriksakan diri ke dokter karena Covid-19 bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh. 

"Bahkan yang tidak bergejala pun bisa mengalami kerusakan organ minimal paru dan jantung pada 50%-nya," ungkapnya. 

Selain itu, kata Dicky, ada potensi penurunan kualitas jangka panjang. Lalu ada juga efek jangka panjang lainnya yaitu long Covid-19. 

Baca Juga: Kasus Covid-19 Indonesia lebih baik dibanding global, jangan lengah tetap 5M

"Nah ini kenapa perlu deteksi dini, karena ini masalah kualitas manusia ke depan," tutur Dicky. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru