Belum Ada Obatnya, Kenali Gejala HIV dari Awal Hingga AIDS

Selasa, 13 September 2022 | 04:43 WIB Sumber: Kompas.com
Belum Ada Obatnya, Kenali Gejala HIV dari Awal Hingga AIDS

ILUSTRASI. HIV merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Saat ini, tidak ada obat untuk HIV.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. HIV merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Saat ini, tidak ada obat untuk HIV. 

Yang mencemaskan, HIV memiliki beberapa tahap infeksi mulai dari gejala awal hingga AIDS. 

Meski belum ada obat untuk HIV, namun terapi pengobatan antiretroviral dapat digunakan untuk mengurangi dampak dari gejala. Terapi ini sudah digunakan sejak akhir 1980-an. 
Mengutip Healthline, pada sebagian besar kasus, begitu seseorang tertular HIV, virus tetap berada di dalam tubuh seumur hidupnya. 
Lantas bagaimana gejalanya? 

Gejala HIV tidak seperti gejala infeksi virus pada umumnya karena munculnya secara bertahap. Jika tidak diobati, penyakit yang disebabkan oleh infeksi ini memiliki tiga fase. 

Masing-masing memiliki potensi gejala dan komplikasi yang berbeda-beda. 

1. Gejala awal pada HIV primer 

Tahap pertama yang terlihat adalah infeksi HIV primer. Tahap ini juga disebut sindrom retroviral akut (ARS), atau infeksi HIV akut. 

Tahap ini biasanya menyebabkan gejala seperti flu. Jadi seseorang pada tahap ini mungkin berpikir bahwa mereka menderita flu parah atau penyakit lain. Selain itu demam juga jadi gejala yang paling umum. 

Baca Juga: Sering Menyerang Perempuan, Ini Cara Mencegah Infeksi Saluran Kemih

Gejala lain pada tahap ini antara lain:

1. Sakit kepala 
2. Sakit tenggorokan 
3. Kelelahan berlebihan 
4. Panas dingin 
5. Nyeri otot 
6. Pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak, leher, atau selangkangan 
7. Ruam merah atau berubah warna, gatal dengan benjolan kecil 
8. Sariawan atau sariawan mulut. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), gejala HIV primer mungkin muncul 2 sampai 4 minggu setelah paparan awal. 

Gejala tersebut dapat bertahan selama beberapa minggu. Namun, beberapa orang mungkin hanya memiliki gejala selama beberapa hari.

Meskipun virus bereplikasi dengan cepat dalam minggu-minggu setelah tertular, gejala pada HIV awal hanya cenderung muncul jika tingkat kerusakan sel tinggi. Ini tidak berarti bahwa kasus HIV tanpa gejala kurang serius atau orang tanpa gejala tidak dapat menularkan virus ke orang lain. 

Setelah paparan awal dan kemungkinan infeksi primer, HIV dapat bertransisi ke tahap infeksi laten klinis. Karena kurangnya gejala pada beberapa orang, ini juga disebut sebagai infeksi HIV tanpa gejala. 

Menurut HIV.gov, latensi pada infeksi HIV dapat bertahan hingga 10 atau 15 tahun. Ini berarti virus bereplikasi jauh lebih lambat dari sebelumnya. Tapi bukan berarti HIV hilang, juga bukan berarti virus tidak bisa menular ke orang lain. 

2. HIV kronis 

Tahap selanjutnya adalah HIV kronis. Meskipun banyak orang tidak menunjukkan gejala selama tahap ini, beberapa mungkin masih memiliki gejala setelah infeksi akut. 
Gejala HIV kronis dapat bervariasi, mulai dari yang minimal hingga yang lebih parah. 
Berikut ini beberapa gejalanya: 

1. Batuk atau kesulitan bernafas 
2. Penurunan berat badan yang tidak disengaja lebih dari 10 persen dari berat badan 
3. Diare 
4. Kelelahan 
5. Demam tinggi.

Baca Juga: Tekan Angka HIV/AIDS di Jabar, Wagub Uu Ruzhaul Ulum Usul Poligami

3. AIDS 

Infeksi laten secara klinis dapat berkembang ke tahap ketiga dan terakhir dari HIV yang dikenal sebagai AIDS. 

Tanda dari HIV telah berkembang ke tahap akhir adalah tingkat CD4 di bawah 200 sel per milimeter kubik darah. Normalnya, CD4 berada pada kisaran 500 hingga 1.600 sel per milimeter kubik. 

Gejala AIDS antara lain: 

1. Demam tinggi persisten lebih dari 100 derajat Fahrenheit (37,8 derajat Celcius)
2. Diare yang berlangsung lebih dari seminggu 
3. Menggigil parah dan berkeringat di malam hari 
4. Bintik putih di mulut 
5. Luka genital atau dubur 
6. Kelelahan parah 
7. Ruam yang bisa berwarna coklat, merah, ungu, atau merah muda 
8. Batuk dan masalah pernapasan secara teratur 
9. Penurunan berat badan yang signifikan
10. Sakit kepala persisten 
11. Masalah memori dan masalah neurologis lainnya 
12. Infeksi oportunistik, seperti pneumonia, limfoma, atau tuberkulosis. 

Untuk mendeteksi HIV, CDC merekomendasikan bahwa siapa pun yang berusia antara 13 dan 64 tahun melakukan tes HIV setidaknya sekali. 

Akan tetapi pada orang-orang yang berisiko disarankan untuk melakukannya lebih dari sekali.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gejala HIV dari Waktu ke Waktu, Ini Tahapannya"
Penulis : Nur Fitriatus Shalihah
Editor : Inten Esti Pratiwi

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru