CLOSE [X]

Begini saran psikolog saat menjalani isolasi mandiri pada masa PPKM Darurat

Senin, 05 Juli 2021 | 09:50 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Begini saran psikolog saat menjalani isolasi mandiri pada masa PPKM Darurat


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus Covid-19 yang terus melonjak menunjukkan kondisi pandemi belum terkendali. Pemerintah pun menarik rem untuk membatasi mobilitas masyarakat lebih ketat dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang dilakukan pada 3 Juli - 20 Juli 2021.

Namun, menghadapi pandemi Covid-19 tak hanya menyangkut masalah kesehatan fisik saja. Kondisi kejiwaan atau psikologis pun menjadi faktor penting yang krusial dalam melalui masa pandemi. 

Terlebih ketika masa isolasi mandiri (isoman) atau saat pembatasan mobilitas yang mengharuskan masyarakat berada di rumah saja.

Psikolog Anastasia Sari Dewi berbagi cara untuk membantu menjaga kondisi kejiwaan di saat pandemi seperti saat ini. Pertama, harus tetap realistis untuk mencukupi semua kebutuhan fisik. Termasuk mengkonsumsi makanan dan minuman sehat yang dianjurkan oleh dokter atau jurnal kesehatan.

Protokol kesehatan (prokes) 5M yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilitas tetap diterapkan secara disiplin. 

Baca Juga: Simak tips menjaga kesehatan mental di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai

"Semuanya dipenuhi dulu. Karena kalau secara fisik kita sudah yakin melakukan yang terbaik, pikiran juga akan jadi jauh lebih tenang," kata dia saat dihubungi Kontan.co.id, Sabtu (3/7) malam.

Kedua, pola tidur atau istirahat pun harus diperhatikan. Kecukupan ideal tidur harian tak berubah baik saat Work From Home (WFH) atau ketika aktivitas normal. Apalagi kecukupan tidur juga akan berpengaruh terhadap produksi hormon yang memicu stres.

"Istirahat harus tetap cukup, jangan sampai karena di rumah saja, jadi begadang terus. Pola hidup dan istirahat harus tetap teratur," ujar psikolog yang juga merupakan founder Anastasia & Associate-Psychology Services tersebut.

Ketiga, melakukan hobi atau mencoba hal-hal yang baru. Kegiatan ini diyakini bisa membuat pikiran menjadi lebih nyaman. Sebab melakukan aktivitas baru atau hal yang disenangi bisa mengalihkan kecemasan dan menurunkan tingkat stres.

"Bisa juga dengan bermeditasi, teknik nafas panjang, bisa dicoba 10 menit-15 menit sehari. Ini berpengaruh sangat bagus untuk mensinkronkan tubuh dan pikiran," kata dia. 

Keempat, menjalin komunikasi dengan keluarga dan kolega. Hal ini penting untuk menciptakan suasana yang tetap hangat, bahwa kita tidak melalui kondisi ini sendirian. Jangan sampai ada kekhawatiran berlebih dan perasaan bahwa kondisi ini membuat kita susah sendiri.

"(Pandemi) ini dialami banyak orang, jangan merasa susah sendiri, ngomel sendiri. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang. Saling memberikan semangat dan perhatian akan membuat emosi yang menyenangkan," jelas Anastasia.

Berbagai hal lain yang dapat dilakukan saat di rumah saja ialah dengan mendekorasi rumah, berkebun, atau kegiatan lainnya yang bisa melibatkan anggota keluarga termasuk anak-anak. 

"Sehingga meringankan dan menjalin kedekatan emosional," imbuh dia. 

Khusus untuk yang sedang menjalani karantina atau isoman, ruang dan aktivitas yang tersedia tentu lebih sempit. Dalam hal ini, Anastasia menekankan pentingnya memilih tempat yang tepat. 

Baca Juga: Ini 5 tips agar tetap sehat dan bugar saat menjalankan isolasi mandiri

Idealnya, tempat isoman memiliki akses udara terbuka, bisa masuk sinar matahari, akses keluar masuk lebih mudah tidak perlu melewati ruang keluarga, serta bisa memungkinkan untuk berjemur.

Dari sisi aktivitas, selain informasi dan hiburan yang bisa diakses melalui telefon cerdas, disarankan untuk membawa buku. Selain itu, menulis juga bisa menjadi salah satu terapi yang efektif untuk mengendalikan kecemasan dan menjaga fokus pikiran.

Hal penting lain yang mesti diingat, saat melakukan isoman bisa menjadi masa yang baik untuk melakukan introspeksi. "Ini saatnya menilai hal-hal yang harus disyukuri, yang realistis untuk dikejar, sampai luka yang perlu ditinggalkan. Siapa tahu dengan punya banyak waktu untuk diri sendiri, justru banyak beban yang bisa terlepas," pungkas Anastasia.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

 

Selanjutnya: Kasus melonjak, Kemenag siapkan 25 asrama haji untuk isolasi pasien Covid-19

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru