Aturan Tegas Soal Kemasan BPA Dinilai Sudah Diperlukan

Rabu, 14 September 2022 | 16:13 WIB   Reporter: Tendi Mahadi
Aturan Tegas Soal Kemasan BPA Dinilai Sudah Diperlukan

ILUSTRASI. Ilustrasi penggunaan air bersih untuk minum. KONTAN/Muradi/31/10/2010


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bahan kimia Bisphenol A (BPA) pada air galon berkemas plastik keras polikarbonat kian disorot. Bahan ini bisa menjadi penyebab timbulnya beragam penyakit gawat, baik pada  bayi, balita, maupun kalangan usia dewasa. 

Kekhawatiran ini pun mulai bermunculan di daerah. 

“Proses pascaproduksi seperti transportasi dan penyimpanan AMDK galon, dari pabrik menuju konsumen melalui berbagai media dan ruang yang tidak sesuai prosedur, diduga menjadi penyebab kandungan BPA dalam kemasan galon polikarbonat bermigrasi dalam air,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Medan, Martin Suhendri dalam keterangannya, Rabu (14/9). 

Temuan lapangan BPOM di enam kota, yakni, Medan, Bandung, Jakarta, Manado, Banda Aceh, dan Aceh Tenggara menyebut bahwa kandungan BPA dalam AMDK di enam daerah tersebut telah melebihi ambang batas yang ditentukan, yakni 0,6 bagian per sejuta (ppm) per liter. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi dari hasil temuan di Medan, ditemukan bahwa kandungan BPA dalam air di galon bisa mencapai 0,9 ppm per liter.

Baca Juga: Benarkah Diet Telur Efektif Menurunkan Berat Badan?

Hasil uji migrasi BPA pada AMDK yang melebihi 0,6 ppm, kata dia, menunjukkan 3,4% di antaranya ditemukan pada sarana distribusi dan peredaran. 

Sementara hasil uji migrasi BPA yang mengkhawatirkan, 0,05-0,6 ppm, menyebutkan 46,97% di sarana distribusi dan peredaran serta 30,19% di sarana produksi. Adapun uji kandungan BPA pada AMDK melebihi 0,01 ppm, 5% di sarana produksi serta 8,6% di sarana distribusi dan peredarannya.

Proses pascaproduksi, seperti transportasi dan penyimpanan AMDK galon dari pabrik menuju konsumen melalui berbagai media dan ruang yang tidak sesuai prosedur, diduga menyebabkan kandungan BPA dalam kemasan galon polikarbonat bermigrasi dalam air.

”Awalnya kandungnya BPA-nya zero, tetapi di lapangan meningkat karena penanganan yang kurang baik,” kata Martin.

Sementara Dr Evi Naria dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Sumatera Utara mengatakan dari produksi 21 miliar liter air minum per tahun, sebanyak 22% diantaranya diproduksi dalam wadah kemasan galon. 

Dia bilang, PET tidak termasuk dalam kategori jenis plastik yang perlu diwaspadai untuk kemasan AMDK. “Banyak negara sudah melarang penggunaan BPA, seperti Perancis, Negara Bagian California di Amerika Serikat, Denmark, Malaysia, Australia, dan Swedia,” kata Evi. 

Tak urung, pihaknya merekomendasikan pengendalian BPA dengan pembentukan  prosedur operasi standar penanganan produk, pelabelan produk, pemeriksaan kode daur ulang pada wadah plastik, hingga penghindaran produk dari paparan suhu tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru