Anak terinfeksi Covid-19? Simak panduan isolasi mandiri anak dari pengajar Unair ini

Senin, 26 Juli 2021 | 15:02 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Anak terinfeksi Covid-19? Simak panduan isolasi mandiri anak dari pengajar Unair ini

ILUSTRASI. Anak terinfeksi Covid-19? Simak panduan isolasi mandiri anak dari pengajar Unair ini. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


KONTAN.CO.ID -Jakarta.  Anak yang terinfeksi Covid-19 bisa melakukan isolasi mandiri jika memenuhi persyaratan. Ada panduan yang bisa diikuti orangtua jika buah hati ternyata perlu menjalani isolasi mandiri. 

Tidak hanya orang dewasa, Covid bisa menyerang anak-anak bahkan balita. Bahkan seiring dengan meningkatnya angka positif Covid nasional, angka anak-anak yang terinfeksi juga ikut naik. 

Melansir situs Universitas Airlangga (Unair), dari data resmi yang dirilis pada Juni 2021, jumlah anak positif Covid-19 mencapai 1,2 persen dari total keseluruhan. 

Bahkan Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI menyampaikan jika kematian anak akibat Covid-19 berada pada usia di bawah 5 tahun mencapai 50 persen. 

Baca Juga: Inilah jamu tradisional untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari Covid-19

Gejala Covid pada anak sesuai tingkatannya

Anak-anak yang terinfeksi Covid menunjukkan gejala yang berbeda, mulai dari gejala ringan hingga berat yang mengancam nyawa. 

Hal ini disampaikan oleh pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unair, Dr. Retno Asih Setyoningrum. 

“Gejalanya itu tergantung dari fase sakit, kondisi kesehatan sebelumnya, adanya penyakit komorbid, serta gambaran spesifik lainnya misalnya adanya kelainan bawaan,” jelas Retno seperti dikutip dari situs Unair. 

Menurut dia, demam menjadi gejala yang umum dialami oleh anak-anak yang terkonfirmasi positif Covid-19. 

Gejala lain yang dirasakan biasanya gejala infeksi respiratori akut. Gejala ini ditunjukkan dengan batuk, pilek, demam, hingga sesak napas.

"Meski demikian ada juga anak yang ternyata tidak memiliki gejala spesifik saluran pernapasan, ternyata terpapar Covid-19 dengan gejala pada saluran pencernaan seperti nyeri perut, diare, dan muntah. Bahkan ada yang munculnya gejala sistemik atau Multisystem inflammatory syndrome in Children (MIS-C),” tambahnya. 

Panduan isolasi mandiri anak

Penanganan anak yang positif Covid-19 disesuaikan dengan derajat sakit yang dideritanya. Isolasi mandiri dapat dilakukan pada kasus-kasus tertentu.

Ketentuan yang harus dipenuhi diantaranya adalah tidak bergejala, mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, dan ruam-ruam, anak aktif dan bisa makan minum, menerapkan etika batuk, memantau gejala atau keluhan, melakukan pemeriksaan tubuh 2 kali sehari pada pagi dan malam hari, lingkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik.

Jika ketentuan tersebut sudah terpenuhi, orang tua perlu menyiapkan alat kesehatan serta obat-obatan selama anak menjalani isolasi mandiri. 

Baca Juga: Sesuai tingkatan gejala, ini perawatan yang tepat bagi pasien positif Covid-19

“Alat yang harus disediakan di rumah ketika anak terpapar Covid-19 adalah termometer dan oximeter,” jelas Retno. Obat-obatan yang perlu disediakan di rumah diantaranya adalah:

  • Obat demam.
  • Vitamin C (1-3 tahun maksimal 400 mg/hari, 4-8 tahun maksimal 400 mg/hari, 9-13 tahun maksimal 1200 mg/hari, 14-18 tahun maksimal 1800 mg/hari).
  • Zinc 20 mg/hari yang diberikan selama 14 hari.
  • Vitamin D3 (usia kurang 3 tahun 400 IU/hari, anak 1000 IU/hari, remaja 2000 IU/hari, remaja obesitas 5000 IU/hari)

Selain kedua hal di atas, menurut Retno, tidak ada panduan makanan khusus yang perlu dikonsumsi anak selama menjalani isolasi mandiri. 

Tidak ada ketentuan harus mengkonsumsi nutrisi tambahan seperti susu yang dijual di pasaran. “Intinya itu nutrisi yang bergizi, tidak ada khusus harus susu,” ucapnya.

Meskipun demikian, orangtua perlu mewaspadai beberapa keluhan saat merawat anak yang menjalani isolasi mandiri. Keluhan yang perlu diwaspadai saat anak positif Covid yaitu:

  • Anak banyak tidur.
  • Napas cepat dan dada kembang kempis.
  • Ada cekungan di dada dan hidung serta mata cekung.
  • Saturasi oksigen kurang dari 95 persen.
  • Mata merah dan muncul ruam.
  • Leher bengkak.
  • Demam lebih dari 7 hari.
  • Tidak bisa makan dan minum, serta buang air kecil berkurang.
  • Terjadi penurunan kesadaran.

Retno menghimbau agar orangtua segera membawa anak mereka ke rumah sakit jika muncul gejala-gejala yang telah disebutkan di atas.

Selanjutnya: Pendaftaran malam ini ditutup, ini jumlah terbaru pelamar CPNS dan PPPK 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tiyas Septiana

Terbaru