kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.821   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Ada studi baru, apakah rokok elektrik aman?


Minggu, 15 September 2019 / 22:44 WIB
ILUSTRASI. CUKAI CAIRAN ROKOK ELEKTRONIK


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Tendi Mahadi

Peserta yang menggunakan rokok elektrik nikotin cenderung lebih cepat meninggalkan rokok selama enam bulan, antara 7% dan 17%. Untuk rokok elektrik bebas nikotin, persentasenya antara 4% dan 10%.

"Nikotin adalah sesuatu yang membuat orang menginginkan rokok. Namun, tar dan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya lainnya dalam asap tembakau yang menyebabkan kanker, penyakit jantung, masalah paru-paru dan penyakit lain yang berhubungan dengan merokok,” papar Walker seperti dikutip dari nzherald.co.nz, Minggu (15/9).

"Bahkan, bahan kimia lain itu lah yang membunuh dua dari tiga perokok bukan nikotin,” tandas Walker.

Baca Juga: Rambut beruban menjadi tanda penuaan? Ada faktor lain penyebabnya

Sehingga, menurutnya, kasus kematian yang terjadi di AS bukan disebabkan oleh perangkat atau rokok elektriknya. Melainkan karena sesuatu yang semestinya tidak dimasukkan ke dalam rokok elektrik.

"Oleh karena itu, penting untuk membeli e-liquid dari pengecer terkemuka, bukan pasar gelap," jelas Walker.

Dia menambahkan, sebanyak 5.000 orang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan merokok di Selandia Baru. ”Sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun di Selandia Baru yang meninggal akibat vaping," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×