kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.552
  • SUN103,81 -0,11%
  • EMAS609.032 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Apa sebab bau mulut dan buang angin di pesawat?

Selasa, 15 Agustus 2017 / 16:05 WIB

Apa sebab bau mulut dan buang angin di pesawat?

KONTAN.CO.ID - Meskipun perjalanan udara pada umumnya aman, tetapi kita dapat mengalami beberapa efek samping yang tidak begitu menyenangkan pada jarak jelajah 35.000 kaki di udara. Berikut ini adalah 10 hal tak mengenakan yang mungkin akan dirasakan ketika bepergian dengan pesawat.

1. Oksigen rendah membuat ngantuk

Selain kerumunan orang di bandara yang membuat stres, berada di ketinggian memiliki efek nyata pada tubuh. Meski tekanan kabin barometrik sudah disesuaikan untuk mencegah penyakit ketinggian, Anda masih bisa mengalami kantuk atau sakit kepala.

"Tekanan oksigen yang rendah di kabin pesawat setara dengan 6.000 sampai 8.000 kaki ketinggian, serupa dengan Kota Meksiko," kata Paulo M. Alves, MD, direktur medis global untuk kesehatan penerbangan dan perusahaan jasa keselamatan perjalanan MedAire.

Satu studi dari Inggris menunjukkan, tingkat oksigen penumpang turun 4 persen, yang bisa menjadi kekhawatiran jika Anda memiliki masalah jantung atau paru-paru. Untuk membantu mencegah sakit kepala, banyak minum air putih, dan hindari alkohol dan kafein.

2. Pengumpulan darah di kaki

Duduk di tempat yang sempit selama berjam-jam dapat mempengaruhi aliran darah ke seluruh tubuh, menyebabkan pembengkakan di kaki dan pergelangan kaki. Risiko gumpalan darah yang disebut deep vein thrombosis (DVT) meningkat saat darah tidak beredar dengan baik.

"Pada posisi itu, pembuluh darah di kaki kita tertekan dan aliran darah yang mengalir di bagian ini melambat," kata Alves. DVT bukanlah kondisi yang bisa diremehkan karena berakibat fatal.

Melakukan gerakan stretching di bagian kaki beberapa kali sebenarnya bisa membantu mencegah penumpukan darah di kaki. DVT lebih rentan dialami oleh mereka yang kegemukan, sedang hamil atau baru melahirkan, berusia di atas 40 tahun, dan menderita penyakit serius. 

3. Dehidrasi

Udara yang Anda hirup di kabin pesawat sebenarnya berasal dari luar, dan udara di ketinggian itu memiliki kelembaban yang sangat sedikit. "Udara ini sangat kering, memiliki kelembaban di bawah 10 persen," kata Quay Snyder, MD, MSPH, Presiden dan CEO Aviation Medicine Advisory Service.

Dehidrasi dapat menyebabkan rasa lelah, terutama bila dikombinasikan dengan tekanan udara kabin yang diturunkan.  Cegah dehidrasi dengan minum banyak air, bahkan sebelum Anda naik ke pesawat.

Bawalah botol air Anda sendiri sehingga Anda tidak perlu bergantung pada pramugari untuk memberikan air. Penggunaan obat tetes mata untuk menghilangkan mata kering juga disarankan.

4. Dorongan untuk buang angin

Penelitian menunjukkan bahwa rasa kembung akan mengalami peningkatan sampai 25 persen ketika kita berada di udara. Ini terjadi karena ketika kita berada di ketinggian, tekanan di luar akan turun dan gas yang terperangkap di dalam rongga tubuh semakin membesar.

Termasuk gas di usus sehingga menyebabkan rasa kembung dan dorongan untuk buang angin makin besar.  Jadi jika Anda merasakan tekanannya, yang terbaik adalah membiarkannya keluar.

5. Telinga berdengung

Seiring dengan bertambahnya gas di usus, telinga juga akan merasakan efek perubahan tekanan udara. Efek yang umum dirasakan adalah sakit pada telinga dan juga berdengung. Mengunyah permen karet sangat membantu mengurangi rasa tidak nyaman di telinga.

Kebalikannya terjadi pada saat pesawat mulai turun, tekanan udara mengembang, sehingga lebih banyak udara perlu kembali ke telinga. "Lakukanlah gerakan menelan atau menguap," katanya.

Cara lain untuk mengurangi rasa dengung adalah dengan menutup hidung dan mulut kita sehingga udara dipaksakan melalui tabung Eustachius ke telinga.

6. Pengecap rasa di lidah berkurang fungsinya

Makanan pesawat umumnya terasa hambar. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kelambaban udara dalam pesawat yang kita hirup mengeringkan selaput lendir mulut dan hidung. Akibatnya, selera makan pun menurun.

Sebuah studi oleh Lufthansa menemukan bahwa persepsi makanan manis dan asin turun hingga 30 persen dalam simulasi perjalanan udara. British Airways baru-baru ini mencoba menambahkan rasa manis untuk melawannya, namun Anda juga dapat membantu mengaktifkan kembali selera Anda dengan minum air putih.

"Mulut kering bisa mengurangi kepekaan rasa, tapi rasa dipulihkan dengan hidrasi," kata Snyder.

7. Sakit gigi

Meski jarang, perubahan gas dalam tubuh bisa mempengaruhi gigi, karena gas terjebak dalam tambalan atau gigi berlubang. "Mengunyah permen karet atau menelan tidak akan menghilangkan tekanan di dalam gigi. Hal ini membuat perjalanan udara dengan kondisi gigi sakit akan semakin menjadi masalah." kata Thomas P. Connelly, DDS.

Anda bisa mengonsumsi obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol selama penerbangan untuk menghilangkan gejala nyeri, tapi jika Anda memiliki sedikit sakit gigi, temui dokter gigi sebelum Anda dijadwalkan untuk terbang.

8. Bau mulut

Saat mulut Anda mengering, kadar air liur yang dapat menekan pertumbuhan bakteri akan berkurang sehingga memicu bau mulut. Siasati dengan minum cukup air dan menyikat gigi agar napas tak sedap bisa dicegah.

9. Terbang jarak jauh membuat jet lag

Bepergian ke zona waktu yang berbeda akan membuat Anda mengalami jet lag. "Aturannya adalah bahwa kita memerlukan sekitar satu hari untuk setiap jam zona waktu yang kita lewati, jadi itu berarti setelah penerbangan transatlantik enam jam, dibutuhkan sekitar enam hari agar siklus kita kembali selaras dengan waktu setempat," terangnya.

Jadi apa yang bisa Anda lakukan jika perjalanan hanya seminggu, atau lebih pendek? "Dalam perjalanan bisnis yang cepat, lebih baik jangan memaksakan diri untuk menyesuaikan diri sepenuhnya dengan zona waktu baru, karena tidak mungkin dilakukan dari sudut pandang fisiologis," kata Alves.

"Di sisi lain, jika kita ingin memaksimalkan perjalanan kita, ada beberapa cara untuk menyesuaikan diri secepat mungkin, misalnya dengan berjemur di bawah sinar matahari dan beraktivitas fisik di luar ruangan."

10. Kemunginan tertular penyakit lebih rendah

Meskipun berbagai macam infeksi udara berkembang di lingkungan dengan kelembaban rendah seperti pesawat terbang, namun risiko terkena penyakit dari pesawat terbang sebenarnya sangat rendah karena ada filter HEPA berfungsi.

"Keuntungannya adalah udara di kabin dipertukarkan lebih sering daripada di kebanyakan bangunan industri, sekolah, atau rumah. Pola penyaringan dan sirkulasi juga mengurangi risiko infeksi udara di pesawat terbang dari penumpang atau awak lainnya dibandingkan dengan lingkungan yang tidak terbang," kata Synder.

Bila Anda khawatir dengan penularan penyakit dari penumpang sebelah yang tampak selalu bersin, cuci tangan dengan sabun lebih sering sebelum menyentuh makanan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul 10 Hal yang Dialami Tubuh Saat Naik Pesawat


Reporter kompas.com
Editor : Dessy Rosalina

KESEHATAN

Berita terbaru Kesehatan

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Hayam Wuruk
07 March 2018 - 08 March 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]