kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Waspada, obesitas dapat memicu radang sendi dini


Jumat, 02 Agustus 2019 / 13:44 WIB

Waspada, obesitas dapat memicu radang sendi dini

KONTAN.CO.ID - Penyakit sendi mungkin menjadi salah satu penyakit yang disepelekan oleh banyak orang. Padahal, Data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat, prevalensi penyakit sendi di Indonesia mencapai 7,3%.

Osteoarthritis (OA) atau radang sendi pun adalah penyakit sendi yang umum terjadi. Salah satu penyebabnya adalah obesitas. Sebab, sendi yang paling sering mengalami OA adalah pada bagian lutut.

Baca Juga: Misteri tubuh manusia: 8 alasan kenapa Anda punya dagu berlipat

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Deasy Erika, Sp. KFR menguraikan penjelasannya. Dia mengatakan, pada saat kita berdiri lutut menanggung beban 6-7 kali berat badan.

Sehingga jika berat badan kita mencapai 100 kilogram, lutut harus menahan beban sekitar 600-700 kilogram. "Itulah mengapa obesitas menjadi salah satu penyebab terjadinya OA pada usia dini." Demikian dikatakan Deasy dalam peluncuran kampanye terbaru Jointfit di Pacific Place, Jakarta, Kamis (1/8).

Gaya hidup masyarakat saat ini memang menyebabkan sebagian orang di usia muda sudah menderita obesitas. Beberapa aktivitas di antaranya banyak bermain games yang menyebabkan terlalu banyak duduk, bekerja seharian di kursi, konsumsi makanan cepat saji berlebih, hingga jarang berolahraga.

Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya memicu OA pada lutut, tapi juga area lainnya seperti pinggang, bahu, dan leher. "Semua tergantung posisi kita saat melakukan aktivitas kerja. Misalnya duduk bungkuk di depan komputer juga bisa kena OA pinggang atau leher," kata dia.

Baca Juga: Hindari kebiasaan begadang sambil main ponsel, ini risiko bagi kesehatan

OA harus dicegah sedini mungkin, agar tidak terjadi kecacatan. Sebab, jika hal itu sampai terjadi, yang terdampak tidak hanya fisik melainkan juga kehidupan sosial dan ekonomi seseorang.

OA memiliki tingkatan dan bisa terjadi bertahap. Fase OA akut bisa berlangsung selama dua minggu, fase sub-akut bisa berlangsung mulai dua minggu hingga tiga bulan, dan lebih dari tiga bulan masuk fase kronik.

"Keadaan akut harus segera diatasi agar tidak masuk kondisi kronik. Kalau sudah fase kronik bisa sampai depresi karena merasa hidup tidak lagi berguna," kata dia.


Sumber : Kompas.com
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


Close [X]
×