HOME

Vonis positif atau negatif COVID-19 jangan hanya dari rapid test, ini alasannya

Senin, 15 Juni 2020 | 05:39 WIB Sumber: Kompas.com
Vonis positif atau negatif COVID-19 jangan hanya dari rapid test, ini alasannya

ILUSTRASI. Warga bersama anaknya melakukan rapid test COVID-19 yang digelar Pelindo III di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Selasa (2/6/2020). Pelindo III menggelar program 50 ribu rapid test gratis secara bertahap kepada calon penumpang, ABK kapal penyeberangan, sop

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Rapid test menjadi salah satu cara untuk mendeteksi infeksi virus corona dalam tubuh manusia. Namun, sebaiknya jangan hanya menggunakan hasil rapid test sebagai pedoman untuk menentukan seseorang positif COVID-19 atau negatif COVID-19.

Hasil rapid test reaktif belum tentu menunjukkan seseorang positif Covid-19. Begitu juga sebaliknya, hasil rapid test non-reaktif belum tentu juga menunjukkan seseorang pasti negatif virus corona.

Akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK., Phd., menjelaskan penyebutan hasil rapid test itu yang benar adalah reaktif atau non-raktif, bukan positif atau negatif.

Baca juga: Gal Gadot senang, rilis film Wonder Woman 1984 ditunda lagi, kenapa

Dia menyebut, salah satu sumber pemicu masalah dalam pandemi Covid-19 selama ini adalah stigma yang dipicu oleh salah kaprah penyebutan.

dr. Tonang menerangkan, kata-kata “positif” ini harus hati-hati digunakan dalam  menyampaikan tentang hasil rapid test Covid-19. Padahal sebenarnya, tidak ada hasil “positif” pada hasil rapid test Covid-19. 

“Tidak ada hasil rapid test Covid-19 yang menyatakan positif,” kata dr. Tonang saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu (13/6/2020).

Maka dari itu, dia mengimbau, jangan pernah ada yang menyebut seseorang positif Covid-19 hanya karena hasil rapid test. “Apakah yang hasil rapid test-nya reaktif pasti positif? Belum tentu,” kata dia.

Setelah ada hasil rapid test reaktif, yang diperlukan selanjutnya adalah langkah konfirmasi dengan tes polymerase chain reaction (PCR) pada pasien. “Hasil PCR itu mungkin memang positif Covid-19, tapi bisa juga tidak. Maka, rapid test disebut skrinning, bukan diagnosis pasti,” jelas dia.

Baca juga: Lelang mobil bekas Toyota Kijang di Jakarta, ini syaratnya

Begitu juga sebaliknya, dr. Tonang menerangkan, seseorang yang rapid tes-nya menunjukkan hasil non-reaktif, tidak berarti tes PCR-nya pasti akan negatif atau bebas virus. “Karena bisa saja, memang belum tepat waktunya,” terang dia.

dr. Tonang menegaskan, untuk bisa menyebut positif dan negatif, harus dengan tes PCR. Setiap pasien diambil swab sebanyak dua kali.

Untuk mudahnya, disebut hari pertama (H1) dan hari kedua (H2). "Dapat disebut positif apabila minimal pada salah satu tes swab ditemukan virus covid," papar dia.

dr. Tonang menyampaikan, seseorang atau pasien dapat disebut negatif Covid-19 apabila  pada kedua tes swab tidak ditemukan virus corona penyebab Covid-19. "Maka kalau ada hasil PCR yang negatif tapi baru dari salah satu sampel, belum bisa disimpulkan. Harus menunggu hasil sampel kedua," tutur dia.

Mengenai hasil rapid test yang digunakan sebagai syarat melakukan perjalanan, dr. Tonang berpendapat, akan lebih baik jika dilengkapi juga dengan hasil tes PCR yang menyatakan negatif Covid-19. "Kalaupun harus diperiksa, adalah kombinasi rapid test antigen dan rapid test antibodi pada hari keberangkatan," jelas dr. Tonang. (Irawan Sapto Adhi)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jangan Keliru, Hasil Rapid Test Non-Reaktif Belum Tentu Negatif Covid-19",

Editor: Adi Wikanto


Terbaru